Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 PERJALANAN KE PARIS


__ADS_3

"Eum .. Aku juga bingung, tadi aku mau bicara, tapi lupa."


"Sayang jangan pernah lagi, kamu menyembunyikan sesuatu. Jangan pendam sendiri, aku tak ingin kamu salah paham dan menerka membuat kesimpulan yang belum tentu benar!"


"Eum, iya hubby. Itu pasti." senyum Siren, meski berat ingin bertanya.


Damar merebahkan kepala istrinya, bersandar disofa penuh aroma dingin harum dan hangat memeluk erat.


"Hubby, maaf jika aku masih ragu padamu, soal masa lalu mu aku yang salah. Tak mendengarkan penjelasan mu, sehingga aku memikirkan dirimu dimasa itu. Bagaimana jika kamu menjadi play bersama wanita lain sedangkan ka .."


Belum selesai bicara, Damar sudah menutup mulut istrinya dengan sentuhan lembut, dan berkata.


"Jangan diteruskan! aku tidak akan pernah menyakiti dan menduakan hatimu. Jika mau, kenapa aku tidak mau saja saat perjodohan terjadi."


"Bisakah aku percaya?"


"Benar, apalagi soal video berita di LN, 70 % bukan asli, semua rekayasa kepentingan kepopuleran perfilman, tak ada yang benar meski aku nakal aku tidak pernah bermain hubungan suami istri. Jika berganti pasangan karena memang tak ada yang cocok dan baik, untuk aku jadikan masa depanku itu benar, hingga Dady banyak memintaku berkencan pada mereka, tapi tetap saja aku memikirkan kamu. Hanya dirimu yang membuat aku jatuh bangun Siren."


Siren menatap suaminya dengan mata yang jujur, semoga harapan prasangka buruknya adalah benar. Jika suaminya adalah setia.


"Maaf ya hubby, aku salah paham."


"Baiklah sayang, ayo kita tidur! aku akan memelukmu dan tak akan melepaskan mu."


Siren, hanya tersenyum bahagia. Tak lama suara bel apartemen berbunyi, ia membangunkan Damar, dan melepas genggaman lengan Damar yang kala itu, suaminya melangkah ke pintu utama untuk membukanya.


"Biar aku aja hubby."


Tepat Damar juga ingin ke toilet.


Saat Siren membuka pintu, ia melihat satu kotak kecil dan membukanya, ia pun menutup pintu apartemen karena tak ada seorang pun yang mengantar. Siren membawanya kemeja ruangan kerja, begitu terkejut melihat tulisan dikertas Hvs yang terlipat dengan tinta merah bertulis.

__ADS_1


"Aku tidak rela kamu bersanding dengan Damar Hartanto."


Terlihat fotonya dengan Damar, yang sedang berpelukan di kantor, dipotret diam - diam dirobek menjadi dua bagian.


Siren pun meletakkannya di suatu tempat, ia taruh di atas lemari dan menulis di kertas tanggal bulan dan jam ini. Ia buat dan selipkan di kotak tersebut.


"Sayang, sedang apa? siapa yang datang tadi?" Damar menghampiri istrinya.


"Itu hubby, aku, a-kuu sedang mencari angin maksudku, aku sedang tak bisa tidur, dan menulis berkas penting pak Kenan lusa! aku akan pergi meninggalkanmu hubby."


"Lalu yang tadi bel siapa?"


"Enggak ada, sepertinya aku salah." batin Siren, berdegub kencang tak ingin membuat suaminya cemas, fokus semata agar klien Damar berhasil dan masalah ini tak membuat beban pikiran, yang akan mengganggunya.


'Maafkan aku hubby, aku menyembunyikan ini sendiri.' batin.


Damar, pun membuat istrinya tenang. Kalau begitu aku akan membuatmu tenang sayang,


Damar memulai kembali membuat pegangan buah yang menonjol milik istrinya itu, dan membuat adegan panas di ruangan kerja, dimana Damar memangku istrinya di kursi kebesaran ruangan kerjanya, dan memulai mereka beradegan disana, tapi Siren hanya pasrah dan menikmati setelah Damar puas ia akan membalasnya, meski lelah dan remuk.


Pagi pun tiba, Siren sudah terbangun menatap atas lemari besar, ia bergidik tak ingin memikirkannya. Bahkan Siren pun mandi air hangat dan berendam.


Setelah rilexs dengan aromatheraphy, tiba saja suaminya sudah dibelakangnya sehingga mandi berendam bersama membuat Siren berfantasi.


Hari demi hari tiba, merekapun beraktifitas seperti biasanya, hari sudah sore Damar mengajaknya makan malam karena esok pagi istrinya akan terbang ke paris selama tiga hari, maka ia akan membuat tanda istrinya kemanapun terlihat, agar tak ada seorangpun yang berani mendekatinya.


Siren sendiri, menerima panggilan dari Dady Bram, agar berhati hati dan meminum jamu serta herbal stamina untuk ia minum, terkait model butik yang harus Siren kunjungi sebuah pameran.


Ketika ia melangkah melihat Sena dibalik parkiran blok G, Siren tak sengaja mendengarkan, jika Sena sedang mengobrol dan menyebut nama seseorang. Ia pikir ingin menyapa sekertaris suaminya yang tadinya ia adalah sekertaris paman Hari.


Tapi Siren tak jadi menyapa, malah mendengarkan sesuatu yang tak habis pikir, sebuah kebenaran yang amat kebetulan.

__ADS_1


'Apa .. Jadi, Sena dan Arini mereka saling kenal, apa yang akan mereka buat?' Siren bertanya sendiri, dan memberanikan diri menegur Sena.


"Sena, apa yang kamu ingin lakukan kembali tentang hubungan Aku dan Damar, mengapa, ada apa dengan dirimu mengapa mengharap pria sudah beristri, apa selama ini kamu bekerja karena ingin dekat dengan suamiku?" tegur Siren.


"Hah, baguslah kamu sudah ada disini! semua itu karena dirimu, dan tak ingin melihat Damar bahagia, pahamilah suamimu akan mudah dirayu. Tapi pastikan suamimu akan bersama dengan wanita lain, jika tak ada dirimu, sama seperti kamu terbaring di rumah sakit dan kamu mengabaikannya."


PLAK.


Siren menampar Sena.


"Hentikan Sena, jangan lancang dirimu sangat berbisa."


"Silahkan saja anda mengadu, kamu tidak punya bukti kuat." teriak Sena, yang kala itu telah pergi lebih dulu.


Siren pun, berlari pergi menemui suaminya di ruangan kantornya.


Setengah jam berlalu, Siren menyembunyikan perasaan kecewa, namun tak ingin merubah suasana Damar yang akan meeting acara besar, yang sudah mempersiapkan segalanya, dan tak ingin melihat meeting besar suaminya gagal karena aduannya yang saat ini terbakar.


"Sebaiknya aku urungkan saja, aku harus cari bukti untuk Sena di pecat." lirih Siren dan pulang.


Hingga berlalu pagi pun tiba, Siren sudah dengan tas kopernya, ia memeluk suaminya. Ketika berada di bandara, tak lama Mikha pun datang dan menghampiri Siren, karena acara pameran butik, Siren dan Mikha yang konon keluarga menantu orang nomor satu, meski sudah kaya tetap saja bisnis mereka harus terlibat, para istri atau menantu mempunyai kesibukan yang membuat keluarga nomor satu itu sejahtera seumur hidup.


"Sayang, hati hati ya!"


"Hubby, aku pasti akan menjaga. Kamu kabarin aku, kalau meeting sudah selesai. Semoga, project berjalan lancar."


"Terimakasih sayang." kecup Damar pada kening istrinya.


Dimana Mikha dan Siren sudah menjauh pergi, sementara Damar bersama paman Alex dan Paman Hari, menuju lokasi penting yang harus di garap.


"Damar, ayolah! istrimu akan baik baik saja, banyak bodyguard yang menjaga mereka." ujar Hari, membuat Damar enggan dan berat.

__ADS_1


"Ok Uncle, segera."


TBC.


__ADS_2