Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BRAM MELAYANG


__ADS_3

Mereka pun tiba di kediaman paman Bram, masuk ke gerbang dan dipersilahkan masuk oleh bibi art.


Satu jam tiba bertemu bibi Bram. Namun bibi sudah ingin pergi ke rumah sakit. Sementara Bram pun mengajak Elea istirahat dan mengambil menu makanan di dapur.


Ketika bibi sudah pergi dan titipan Paman sudah di berikan. Bibi pun menyuruh beristirahat dan menunggu hingga ia kembali. Elea pun menatap aquarium berisi ikan nemo dan arwana. Seketika terkejut tangan ditarik paksa.


"Lihat apa Elea? Ayoo sini ikut kita makan dulu lihat bukde ku masakan empat sehat lima sempurna lengkap bergizi, masakan bibiku pastinya."


"Masa sih. Oke baiklah aku akan coba."


Elea pun menyicipinya perlahan dan benar saja. Ketika aku mencicipi dengan piring kecil nasi dan sayur asem serta lauk balado jengkol, ikan pari kecil kering, aku pun tersedak. Bram dengan sigap memberi minum.


"Maaf Elea aku pegang pundak mu


ini darurat aku izin ya."


Kedua mata Elea pun terbata dan berbinar saat cepat ditolong ketika tersedak, meski Bram kadang aneh kemanapun membawa mangkok dan sendok, tapi Elea bersyukur mempunyai sahabat seperti nya, baik ramah, sopan, pengertian.


"Aku sangat bersyukur dipertemukan pria seperti kamu Bram." gumam ku.


"Ya kan, ini nih hasil makan sambil ngobrol, Elea makan dulu baru bicara!" ketus Bram. Tapi aku hanya meringis tersenyum, karena tak berhati hati.


"Bumbunya mantap sih pedes markondes, tajem sangat, sakin enaknya aku jadi tersedak." Lalu Bram menatap Elea kembali dengan mata indah itu.


"Wanita yang beruntung dan wanita baiklah yg kelak jadi bidadari surgamu Bram, tapi apa aku pantas mengingat masa depan kita masih jauh."

__ADS_1


Aku berkata dengan nada pelan tak sadar, lalu menyuap kembali suapan nasi lauk itu. Tapi Bram mendengar dan membalasnya.


"Elea apakah wanita itu kamu. Jika aku menginginkan kamu, apa Tuhan akan mempersatukan kita bersama? dan kamu akan percaya kata kata ku! aku ingin sekali tunjukan sebuah system yang kamu harus lihat, tapi syaratnya kamu harus percaya padaku!"


Elea pun hanya diam mendengar pria di hadapanku itu yang berkata. Lima belas menit aku terdiam dan menjawab.


"Entah lah Bram aku sangat berharap sekali kita tak pernah berpisah. Aku menginginkan hari ini terus berlanjut. Tapi kita serahkan segalanya pada semesta, karena rencana seseorang terlebih manusia, pelik untuk bisa kita atur sedetail mungkin, terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan." mendengus nafas panjang aku berkata bagai empu pada cucunya.


"Ya. Itu benar juga Elea Kalau begitu aku akan mengusahakan agar kamu tetap jadi masa depanku." ucap Bram memaksa.


"Heiih. Kamu ini pemaksaan ya."


"Hahaha, jika kamu butuh waktu aku siap menunggu Tapi, isyarat dan senyum mu apa artinya kita?"


 


"Yes. Terima kasih." sigap teriaknya.


Ayo Elea kita ke gubuk samping pemancingan!


Haaah. Untuk apa pikir Elea gusar ke gubuk.


Tapi kilat Bram menarik tangan Elea, ia membuat pancingan dan membuat kaitan umpan segera ia ingin memancing dan dalam hitungan menit. Ia mengajak ku duduk disebelahnya.


"Oowh, pemancingan," lirih Bram.

__ADS_1


"Elea. Mari kita tebak tebakan apa kah hasil pancingan ku berhasil?"


"Aku ga pandai Bram."


"Gini deh, kita tebak ya. Ikan apa yang nanti aku dapat. Karena dikolam budhe hanya ada ikan gurame, lele dan mas besar."


"Lele.. Ikan misterius si manis itu?" tanyaku.


"Heuuuuheuuump." senyum Bram.


"Apa ya gurame mungkin. Aku ga pandai menebak kalau aku kalah gimana?"


"Owh ok, kita lihat saja aku merasa aku akan dapat ikan mas oren besar itu. Kita lihat saja nanti!" Bram mengusap rambut Elea, melupakan mangkok dan sendok emas tujuan Bram adalah membuat hati Elea nyaman, dan percaya akan system mereka telah ditakdirkan di dunia planet lain. Bram yang terjebak di jiwa remaja, ia yakin akan bisa kembali pada keluarganya serta membawa Elea pulang ketempat asalnya.


Selama dua puluh menit pancingan Bram merasa tersangkut. Sambil mengunyah snack Elea menyuapi pria baru menjadi status kekasih yang baru beberapa jam itu. Elea lantas berdiri ketika hendak mengambil minum. Satu sisi Bram berteriak kegirangan namun terpeleset.


"Aaaaaaaawh. Byuuuuurgh. To- toolong tolong." teriak Bram.


Elea sedang minum menoleh panik berteriak meminta pertolongan, namun tak ada orang yang muncul hingga ia membantunya meski ia takut karena kolam yang penuh ikan dan sedikit keruh, tapi ia urungkan karena Bram tak bisa berenang.


"Haah Bram, apa yang harus aku lakukan?"


Byuuuuur.


Suara Elea melompat kedalam kolam ikan. Ia merangkul Bram dan membawa menepinya, sontak Elea ikut terkejut ketika ada sebuah cahaya membantu Bram, tubuhnya terangkat bersamaan mangkok dan sendok emas yang membuat mata Elea membulat tak percaya.

__ADS_1


'Apa arti semua ini?' sentag Elea ketakutan kala Bram melayang dengan mangkok sendok emas itu.


TBC.


__ADS_2