Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 MEMBAHAYAKAN SIREN


__ADS_3

Damar setelah itu, ia segera ke ruangan luar. Dimana paman Alex dan Ozi para staff beristirahat di kala meeting sejenak memikirkan proyek sistem terbaru.


Damar pun merentangkan ponselnya, dimana ia menatap sang isteri, yang sedang memainkan piano.


Ketika Siren sedang memainkan piano, bahkan ia menjawab balas senyuman dari sambungan telepon Damar.


"Hey hubby, apa yang kamu lakukan?"


"Sayang, apa kamu gerah sehingga memakai baju tidur itu disiang hari, Apa pendingin rumah mati?"


"Eum .. ada masalahkah, aku hanya sedikit gerah bagaimana kapan kamu akan pulang?"


Tunggu secepatnya aku akan pulang sayang, bersabarlah. Jaga kondisi imun tetap makan teratur, hindari makanan pedas lagi, kasian baby kita nanti.


"Memang kenapa hubby, aku tidak setiap jam memakan pedas?"


"Bukan begitu sayang. Tidak kah kamu kasihan, melihat mulut wajah bayi kita memerah dan terbakar. Ketika kamu selesai makan mie pedas level 6, Ceker pedas, Seblak mercon, itu tidak baik sayang."


"Cih, kamu pikir bayi kita sedang beratraksi debus. Jangan berlebihan lah hubby, aku tidak sesering dan sekejam itu. Kemarin karena hanya ingin saja."


"Baiklah, jangan lupa banyak makan buah dan vitamin. Apa Dady dan pengawal ada dirumah?"


"Dady dan beberapa pengawal ke butik, bi Asih sedang ke pasar, dan penjaga di rumah ini sedang keluar mengantar Dady, Hanya aku sendiri. Hubby aku akhiri dulu ya, sepertinya ada tamu!"


"Baiklah sampai jumpa sayang, miss you."


"Miss you to hubby. Semoga proyek sistem terbaru cepat diatasi ya." semangat Damar.


Ting nong.


Ting nong.


"Ya, sebentar kenapa berisik tak Sabar sekali. Siapa tamu ini, sehingga tak bisa sedikit bersabar." gerutu Siren.


Ceklek.


"Ya ada apa, Ada yang bisa saya bantu nona. ingin bertemu dengan siapa?"


Siren membuka pintu, dan terkejut ketika wanita itu membalikkan badannya.


"Hello. Hai Siren apa kabar?"

__ADS_1


"Se .. Sena ada apa datang kesini? mengapa kamu kesini?"


"Heuump, bisa kamu ikut dengan ku, atau aku akan mengklik video skandal agar reputasi Dady Bram di butik terancam bangkrut, dan segala hal kantor Damar juga mungkin! bahkan semua aset perusahaan gulung tikar."


"Ka-kamu wanita gulali, kenapa apa masih ada yang kurang. Aku kira kamu akan meminta maaf setelah mengelabui suamiku, aku tidak bisa keluar jika kamu mau kita bicara di dalam!"


"Aku tidak mau, bagaimana? kamu ikut aku ke suatu tempat sekarang, jika tidak aku akan memencet skandal video panas aku dan Damar, meski itu bukan asli tapi setidaknya mampu menghancurkan keluarga hartanto bukan?" ancam Sena.


"Cukup Sen, tunggu aku akan berganti pakaian."


"Keren." Sena dengan wajah gilanya.


Dua puluh menit tiba. Sudah ada di lokasi, gedung losment lantai sembilan.


"Untuk apa kita kesini Sen, cepatlah aku tidak banyak waktu, katakan saja apa yang kamu inginkan. Kamu ingin apa Sena, jika tahu seperti ini harusnya aku mengikuti Damar, untuk menjebloskanmu ke penjara."


"Hahaha .. kamu pikir aku meminta maaf dengan tulus. Darwin kini telah memutuskan aku setelah aku keguguran, dia meninggalkan aku, lalu kamu pikir aku tidak menyimpan file cadangan untuk menuntut. Karena semua itu karena kamu Siren. Aku sangat menyukai Damar, Lihatlah foto kecil kami selalu bersama, ada tante Elea dan Om Bram yang hangat terhadapku saat itu, tapi sekarang ..? semua berubah karena kehadiran kamu Siren."


Sena menghampiri Siren dan mengancam dengan sebuah pisau kecil, disaat Siren menatap foto masa kecil Damar, Sena, dan Arini.


"Kamu mau apa Sena, turunkan pisau itu!"


"Kenapa Siren, kamu takut pisau ini aku gores ke perut mu, jika sedikit tergores. Apa wajah bayimu akan rusak, atau akan kulit indah mu yang aku rusak, agar Damar meninggalkan mu. Hahaha." gelak tawa Sena bahagia sekali.


"Hahaha, kamu mau berbagi suami denganku, atau kamu tinggalkan Damar, bujuk dia untuk menikahi aku bisa."


Sena menunjuk pisau itu sedikit miring ke pipi Siren.


"Tapi, aku tidak bisa! Jika kamu menginginkan apartment atau sebuah usaha baru, mungkin aku bisa bujuk Damar. Dan aku mohon, turunkan pisau itu, pisau bisa melukai ku Sena."


"Aaauw, Sen...."


Srit .... ,goresan pisau menyentuh pipi Siren. Sehingga Siren terluka dan sedikit takut menangis. Bahkan Siren terduduk lemas di ujung pintu yang telah terkunci.


"Apa kamu akan lari. Kamu ga bisa lari dari aku bodoh. Salahmu kenapa kamu ikut ke sarang ku, tapi tenanglah goresan darah itu hanya kecil. Aku tidak akan melukaimu saat ini, aku hanya ingin bermain main."


Sena memajukan langkah dengan gertakan pisau sedikit memutar ke jari tangannya.


Siren menatap sekeliling, bagaimana ia bisa keluar, ponsel dan dompet pun ia tak membawanya.


'Ya Tuhan aku harus bagaimana tolong aku!aku serahkan apa yang kini terjadi padaku. Damar maafkan aku, aku mencintaimu jika terjadi sesuatu padaku, aku harap kamu mengerti, aku melindungi nama baikmu dan Dady, ketika aku harus menurut perintah Sena, semua demi kalian baik baik saja.' batin Siren.

__ADS_1


***


Sore Pun Tiba.


Bel berbunyi, membuat tatapan Bram yang akan keluar membuka pintu utama.


"Maaf Paman, Siren kemana ya?" ucap Mikha saat di depan pintu.


"Iya, Mikha. Paman dari tadi menghubunginya tapi ponsel tak dibawa, padahal Dady tadi menyuruhnya dirumah. Dady suruh asisten cek ke kamar tas pun tak ada, sebentar orang tante sedang mengecek cctv."


"Pengawal apa kalian temukan menantuku?" teriak Bram, juga pada beberapa asisten.


"Tuan, lihat ini!"


Dua puluh menit, terkejut Bram, ketika bodyguard memberi satu rekaman di ruang depan. Terlihat Sena mengunjungi dan mengancam, sehingga Siren menurut.


"Wanita sialan, Om ga sangka kenapa dia dekatin Siren lagi, Om akan hubungi Damar Mikha, kamu tolong hubungi Hari, untuk mencari tahu tempat tinggal si Sena itu. Teman kecil Damar satu ini benar-benar sakit jiwa."


"Baik Om, eh Paman. Mikha akan meminta tolong siapa yang bisa Mikha bantu untuk mencari Siren."


Mikha segera mengerahkan ponselnya mencari nomor seseorang, dan menduplikat video cctv itu, karena kehilangan Siren sudah lebih dari empat jam.


Hello Dani, kamu bisa cari lokasi tempat Sena tidak? aku butuh bantuan mu!!


"Hei, ada apa kamu sudah lama sekian menghubungi, beraninya memerintah."


"Dani, please urgent ini soal Siren, bahkan Damar masih dalam tugas di paris. Aku kirimkan video dari paman Bram, bantu aku cari Siren aku mohon, singkirkan kemarahan mu padaku tentang kita. Aku ga ingin Siren terjadi sesuatu dengan bayi dalam kandungannya."


"Baiklah, kamu dimana aku menjemputmu dan kita segera cari."


Dani pun tak ingin jika sahabatnya Damar dan istrinya terjadi sesuatu, karena keluarga mereka orang baik, sudah seperti keluarganya.


Di satu sisi lain, Mikha terlihat menatap paman Bram yang menghubungi putranya.


"Apa Dad, Siren ga ada dirumah?


"Dady kirimkan video, tolong cepat kamu lakukan sesuatu. Teman gila mu itu keterlaluan. Maaf Dady tak menjaga istrimu."


"Baik Dady, Damar segera mengirim bantuan, dan Damar akan mencoba bicara pada paman Alex agar dihandle oleh asisten Heri dan Ric." ucap Damar ketika mendapat kabar dari papanya.


Betapa tidak frustasi, ketika video Sena mengancam istrinya, dan istrinya menurut demi kebaikan dan reputasi keluarganya tidak bangkrut.

__ADS_1


'Siren sayang bertahanlah, aku tidak akan memaafkan Sena, jika terjadi sesuatu padamu.' lirih Damar dengan mengepal emosi.


TBC.


__ADS_2