Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DI LARANG PERGI


__ADS_3

Sampai di kamar, Mikha mencari keberadaan Hari, tapi tak ia temukan, tanda tanda kehidupan didalam sana, semua lampu gelap dan sunyi.


Tredeeth!


[ Mikha, aku akan ada di jerman selama empat hari paling cepat. Aku harap, kamu tetap di rumah dan memberi kabar meski, Mungkin aku tak sempat membalas. Aku telah berada di bandara dan akan segera landing.] pesan di ponsel.


"Kenapa aku merasa sedih ya?" Aku merasa kesal jika pesan ini tampil, aku merasa ingin marah dan mood turun?" benak Mikha, mencari keberadaan Hari, tapi tak ia temukan.


Bahkan cake yang telah ia pesan, dan hias pun bagai sia sia. Ia telah menghias dan meletakkannya di meja.


'Baiklah, cake nasibmu dimakan oleh para pengikut semut. Tak apa, aku berbaik hati pada kalian saat ini.' gemuruh batin Mikha, yang niatnya ingin berbaikan pada suami nya itu, lalu membiarkan cake itu terbuka di meja dengan taburan hiasan nama Hari love Mikha.


TLING, DERING NADA PESAN.


[ Ini adalah nafkah aku padamu, maaf aku lupa memberikan kartu black padamu Mikha. Aku harap kamu di rumah dan beri kabar jika ingin pergi! ] isi pesan.


Mikha di buat menohok, ia cukup terkejut karena nominal uang yang di transfer Hari cukup besar.


Hingga di mana, Mikha kembali menuju kamar Hari. Ya, dimana apartement lux. Yang terbilang cukup untuk tinggal berdua. Dengan fasilitas wah. Bagi Mikha adalah kehidupannya sunyi, meski seluruh kebutuhannya tercukupi, tapi entah kenapa ia merasa sepi tanpa seseorang. Benar benar hidupnya tak ada yang sempurna, melihat yang lain bahagia, bisa bahagia tapi tidak dengannya.


'Beginikah jika menikahi pria berumur, yang pernah menikah dan punya masa lalu sebelum dengan ku.' batin Mikha.


Mikha memikirkan perasaan dan pikiran yang bercampur aduk. Hingga di mana, sesak tangisan di dalam hatinya. Membuat Mikha rindu akan Mama Inggrid. Meski ia adalah ibu sambung, sang mantan mama mertua. Bunda dari Hari yang ia kenal, ia cukup senang karena beliau memperlakukannya seperti anak sendiri.


Mikha bergegas mandi karena penat. Setelah selesai ia kembali mengeringkan tubuhnya, dari kelembapan air shower yang menetes di tiap lekukan indah tubuhnya. Mikha pun segera mengganti pakaian piyama panjang berwarna maroon. Hingga menepi sebuah kulkas, ia membuat makanan siap saji dan menonton acara televisi.

__ADS_1


Dari berita, dari iklan. Dari acara yang biasa ia ikuti. Rasanya hampa ketika penghuni dalam apartement ini, hanya ada dirinya seorang. Mikha makan dengan tak bersemangat, ia menatap ponselnya. Tak ada sedikit pun pesan dari mas Hari.


"Aarrrgh. Kenapa sih, mas Hari bikin aku serba salah malam ini?" benak Mikha.


"Owh. Tidak, tidak mungkin. Pasti ini semua karena aku terlalu takut. Jika kejadian di atas rooftop bersama mas Hari. Itu pasti bukan mas Hari, tapi OB. Yap, benar sekali itu pasti OB Dong." senyum picik memikirkan banyak hal.


"Aaakh. Bagaimana jika itu tadi Mas Hari, lalu dia mendengar percakapan kami tadi. Mas Hari pergi tanpa mendengar perkataan terakhirku yang menolak mentah - mentah."


Mikha masih berbicara sendiri. Ia menatap cermin, hingga melihat ujung pintu ruang kerja Mas Hari.


"Kalau aku ke ruang kerjanya. Apa boleh ya?" benak Mikha.


Mikha pun melangkah hingga tepat masuk ke dalam ruang kerja Hari. Hingga di mana ia melirik rak buku yang berjejer rapih, dan ruangan yang dominan hitam doop. Adalah ciri khas pria sukses yang selalu detail mengkritik bawahannya. Meski begitu kharismatik karakternya bagi karyawan selalu saja terngiang di kantor.


Jika di kantor Mikha akan menjadi karyawan, tapi di rumah ia adalah istri dari Hari Hartanto.


"Pantas saja couple. Jika ini di sambungkan, maka jam pasir di tengahnya akan jelas membentuk sebuah hati." senyum Mikha.


Tak lama ia terpaut akan buku memori abu abu, tak sengaja ia buka dan menemukan hal yang menyakitkan.


Nama Hari Hartanto. Usia beranjak empat puluh tujuh tahun, asal belgia lahir di jerman berdarah turki. Hobi ketinggian, dan ketakutan adalah patah hati. Misi adalah mencari seseorang yang harus ia cari dan membuatnya ratu.


Mikha pun membaca hingga kebawah, lalu sedikit menyimpulkan dengan diam dan lama.


[ 12 Tahun Lalu. ]

__ADS_1


'Tunggu, ini foto dua anak kecil. Foto keluarga, ada dua foto dimana Almarhum pak Angga berdiri di tiap salah satu anak kecil dan perempuan dewasa seperti istrinya?' syok Mikha.


Mikha menyimpulkan, ia membaca dibelakang album tertera nama.


Inggrid Anggraini, Hari Hartanto, Angga Hartanto. ( foto sebelah kanan )


Mirna Arthaira, Bram Hartanto, Angga Hartanto. ( foto sebelah kiri )


"Mas Hari, aku ingin kamu menjelaskan semua ini. Jadi selama ini kamu dan Om Bram adalah kakak beradik beda ibu, bagaimana bisa aku dalam lingkaran cinta yang tidak tahu asal usulmu?" syok Mikha melemas, matanya memerah dengan kesedihan, Kekecewaan amat dalam, serasa dunia mempermainkannya.


Mikha memapah tubuhnya, ia segera berlari ke kamar dan mengambil sebuah koper. Ia selama ini tahu, mendiang tuan Angga mempunyai satu istri yakni mama Inggrid, ia mencoba tenang untuk menyimpulkan. Akan foto satu lagi, adalah istri pertama yakni ibu Bram, yang tak pernah bertemu.


'Jadi mereka berbeda ibu, pantas jaraknya sangat jauh. Dan yang menurun menikah dua kali adalah putranya bernama Hari.' batin Mikha.


Lantas jika kedua putra Angga bisa menyakiti seorang wanita, akankah nasibku kelak akan dimadu setelah aku membuka hatiku pada mas Hari. Sesak Mikha, saat itu juga ia keluar dari apartement dengan pakaian piyama.


"Maaf bu Mikha! Perintah, ini sudah pukul jam dua belas malam. Bu Mikha tidak bisa pergi malam malam seperti ini!" cegah seseorang dibalik pintu, yang saat itu Mikha ingin keluar mencari keberadaan mas Hari.


"Memang bapak suruh?"


"Benar Tuan Hari, sedang memulihkan system di paris, banyak beberapa sinar x, mampu menusuk orang diluar sana, dimana mirip begal dengan jentikan sinar, demi mendapat barang berharga atau curian. Tuan Hari, meminta anda jangan keluar rumah. Karena di luar sedang tidak aman."


"Sinar dengan system, mirip begal?" pekik Mikha, sedikit pusing dengan aksi perusaahan keluarga suaminya ini.


'Apa aku ini khayal, sebenarnya macam mana sih, system itu. Siren jika aku tanya saja, malah mengalihkan.' batin Mikha, yang kembali masuk ke dalam apartemen.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2