Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KECELAKAAN HARI


__ADS_3

Di Rumah.


Mikha sedikit pusing dan mual entah kenapa rasanya seperti orang yang belum makan, saat itu juga Hari langsung meminta Mikha masuk ke kamar dan beristirahat.


"Mas temani aku tidur ya! Jangan pergi kemana mana!" genggam Mikha pada lengan mas Hari.


"Ya mas janji." senyum Hari, yang kala itu ingin sekali membeli sesuatu karena keadaan Mikha pingsan, dan kini terus saja muntah muntah lemas.


Beberapa jam kemudian, Mikha sedikit terbangun, ia menatap mas Hari tak ada. Ia memanggil manggil, tetap saja tak ada suara pria yang mengiringi suara hatinya.


"Mas, mas kamu di mana mas?" teriak Mikha yang kini syok sudah ada di rumah.


Mikha segera bangun dari ranjang tidurnya, hingga di mana ia menatap jelas jika mantel sang suami tak ada. Hanya secarik kertas yang ia dapat ketika sang suami meninggalkan pesan.


[ Mas ke apotik sebentar. Mas janji tak akan lama, jaga bayi kita dan dirimu selalu sehat ya. Mas akan suruh handle Eri, untuk mengurus survey toko baru dan yang lainnya! ] pesan Hari.


[ Mas, semoga kamu belum jauh. Aku bisa saja hanya maag, apa mas pikir aku sedang hamil? ] lirihnya.


Namun tak sengaja, perutnya semakin sakit. Ia mencoba menghubungi Eri. Dengan cepat Eri mengangkat panggilan dari Mikha.


[ Eri, tolong kejar mas Hari. Aku mohon, aku merasa tak enak akan hari ini. Aku telah mencegahnya, tapi aku awh ... ] Mikha berteriak kesakitan memegang perut.


"Bu, bu anda tidak apa apa bu. Bertahanlah saya akan tiba!"


Eri, yang kini menutup ponselnya, ia segera berlalu pergi meninggalkan pekerjaan. Menata laptop dengan cepat dan segera pergi ke apartment Hari bersama supir. Karena ia yakin, telah terjadi sesuatu pada bu bos, Jika dari suara nya terlihat bu Mikha telah di ikuti seseorang tapi tak bilang, di saat ada yang ia curigai. Hari, sang bos menitipkannya karena dirinya sedang ada urusan penting, dimana Lena kabur dari kepolisian, yang membuat takut jika Lena akan mencelakai Mikha lagi.


BERBEDA HAL DENGAN LENA.

__ADS_1


Lena cukup senang, kala mantan suaminya si biang penghambat dirinya yang akan hancur. Telah masuk kedalam mobil, yang di mana rem itu telah di putus oleh seseorang.


'Good, semoga kau pergi membusuk Hari Hartanto. Harusnya sih, kau pergi bersama si istri yang kau banggakan itu. Tapi, dengan begini aku bisa mudah menyingkirkan Mikha. Hahaha.' batin Lena, kala melihat Hari keluar dari sebuah apotek.


Senyum puas tawa Lena saat ini, ia mencoba menjalankan mobilnya dan mengikuti arah mobil Hari dengan jarak sedikit jauh, mengawasi agar tak terlihat oleh target.


***


Hari yang telah membeli vitamin dan obat untuk Mikha. Ia cukup tahu, kala Mikha tak bisa lelah karena pengobatan obat penenang pink yang membuat ia candu jika tak minum.


Bagusnya ia telah berhenti secara bertahap dengan banyak pengobatan akan phobia darah beberapa waktu. Mungkin hal itu juga ia sangat sayang dan berharap ia bisa melihat di dalam kandungan Mikha yang saat ini benar benar kuat ada janin yang ia nantikan. Ia yakin saat ini Mikha sedang hamil.


"Sayang, andai saja. Semoga kamu baik baik saja tanpa mas." lirihnya tanpa sengaja berfikir tak baik, menyetir Hari.


Dalam perjalanan, ia menatap lampu merah berhenti. Tapi entah mengapa, ia semakin gugup kala rem tak bisa di hentikan.


Kecepatan yang semakin tinggi dan Hari mencoba menghentakan kaki pada pedal rem. Tak di sangka jika akan berakhir lost menerobos lampu merah, di saat mobil berlawanan melaju.


Aaaaaakgh!! Minggir ... Teriak Hari, kala sebuah truk bensin menghampiri dari arah kanan menabrak mobil sedan putih yang di kendarai Hari.


PRAAK!!!


Kaca pintu itu hancur, sebuah mobil terpental berkali kali membuat mobil Hari, terbalik dua kali. Menembus serpihan kaca pada wajah dan tubuh Hari. Sebuah truk bensin juga membelok dan menabrak tiang listrik. Hal itu memicu koslet dan padam aliran listrik mati hingga seibu kota.


Aaaaaggggkh!!


Teriakan Hari kesakitan. 'Mikha, mas mencintaimu, maafkan mas yang menghiraukan kecemasanmu. Andai mas bisa memutar waktu beberapa jam sebelumnya.' Lirihnya, mata itu tertutup dan awak tubuh mobil itu terpental kala sebuah api menyambar membuat mobil meledak.

__ADS_1


BOOOOM!!


LEDAKAN API SANGAT DAHSYAT.


Di luar tak di sangka, seseorang wanita bernama Lena, bersorak tepuk tangan. Tugas dan misinya selesai. Yang ia harus singkirkan adalah, menghabisi dua orang suruhannya agar tak bocor suatu saat dengan caranya sendiri.


"Hei, gue udah kirim semua uang yang lo minta!" pesan Lena dengan senyuman ceria.


'Hahaha. Dua tiga pulau, semuanya terlampaui dan beres dengan satu masa. Pria itu ga akan lagi halangi gue buat dendam dengan Mikha, setidaknya gue ga bisa kembali dengan Hari, maka ga boleh ada yang milik dia.' meski suasana gelap, Lena semakin tertawa puas tak bisa menahan akan dirinya yang akan menang. Baik itu tuduhan media, dan pria yang ia takuti sebagai suami Mikha sudah pasti tidak selamat.


KE ESOKAN HARINYA.


"Eri, ada apa. Kenapa kalian ramai di sini?" tanya Mikha bangun dari sofa.


"Saya menemukan ibu tergeletak di luar, dan .." Eri terdiam.


Tiba saja Osin memeluk Mikha dan menyabarkan punggung Mikha, dengan tangisan tak terbendung.


"Osin, ada apa. Ada apa dengan semua ini. Kalian kenapa diam, tolong jawab!" ketus Mikha, teriak nada tinggi satu oktaf saat seluruh karyawan mas Hari hadir mengelilingi dengan pakaian serba hitam, dimana hanya Mikha sendiri dengan pakaian pink soft.


Osin ikut melumer air mata, bibirnya gugup tak sanggup berkata pada sahabatnya itu yang sedang di peluk.


"Bos kita, Suami ibu, kecelakaan tadi malam, berita tadi malam itu .. Kami turut berduka bu Mikha." lirih Eri, dimana Osin memeluk Mikha untuk tidak stres.


Hah.


"Enggak, kalian jangan bercanda.."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2