
Bram membuka mulutnya lebar-lebar, dia tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar apa yang baru saja dibacakan oleh pria di hadapannya.
Rincian tentang kecelakaan dan tangannya yang terluka, serta kemunculan gadis yang hendak menyebrang jalan, benar-benar tidak bisa Bram tela'ah dalam waktu singkat.
Olive memasang senyuman penuh kemenangan, alisnya naik turun seperti ombak di laut lepas. Menunjukkan bahwasanya dirinya adalah orang yang serba tahu.
"Sudah kukatakan bukan, kalau aku ini utusan Langit. Semua hal yang terjadi padamu, saat kau dilahirkan hingga detik ini kau menarik napas telah tertulis dalam buku takdir yang ada pada tanganku. Bahkan isi pikiranmu juga tertulis dalam buku takdir."
Dia menimang-nimang buku yang menjadi ciri khas bagi mereka yang menjadi utusan Langit. Mungkin lebih tepatnya seperti Malaikat, yang ditugaskan mencatat amal baik dan buruk manusia semasa hidupnya. Tapi jika di dunia adalah bantuan system.
Tidak sembarang orang mendapatkan kesempatan kedua dalam kehidupan nyata. Dapat diartikan kalau Bram, memiliki takdir Langit yang membuat penghuni Nirmala memberikannya kesempatan untuk mengulang kehidupan lalunya. Entah kebaikan apa yang telah dilakukan Bram di masa lalu, sehingga dia mendapat kesempatan langka yang perbandingannya 1: 300 juta manusia di muka bumi.
Bram masih terbelalak. Matanya sampai tidak bisa berkedip. Dia sampai tidak berani untuk bernapas, kalaupun ingin bernapas, maka melakukannya dengan pelan-pelan.
Dia masih belum bisa menelaah situasinya sekarang. Pikirannya terlalu hampa dan kosong untuk bisa menerima segala sesuatu yang terjadi saat ini pada dirinya.
Takdir Langit? Utusan Langit? Kesempatan Kedua? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menari-nari dalam pikiran Bram.
"Manusia memang bodoh. Diberi kesempatan untuk hidup kembali, malah menolak untuk percaya. Is, is, is. Manusia seperti dirimu memang tidak pernah mau bersyukur," gerutu Olive, sambil membuang pandangannya ke sembarang arah, menggeleng-geleng kepala sejalan hembusan napas berat yang mengungkung berat.
Mendengar penuturan Olive yang seolah-olah menyudutkan dirinya, seperti tamparan keras bagi Bram. Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya tidaklah salah, sepenuhnya mungkin benar. Manusia memang acap kali tidak pandai dalam hal bersyukur, selalu merasa kurang dan mengeluh setiap harinya.
Bram mengangkat kepalanya kemudian, menjatuhkan pandangan pada pria yang tengah berdiri dengan memasang wajah sombong dan angkuh.
"Tuan," sebutnya bernada lirih. Olive pun bergumam, tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut besarnya itu.
"Tuan ... Anda pasti orang gila," gumam Bram sambil bibirnya menahan tawa. Meskipun pelan, kalimatnya mampu didengar jelas Olive.
__ADS_1
Bahkan alisnya naik turun dan berdengus kesal, "Apa katamu?"
Bram tak lagi memasang wajah terkejut. Dia beringsut dari duduknya, meskipun masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuh, tapi dirinya sudah bisa berdiri seperti biasanya.
"Ya, Tuan pasti gila bukan? Aku yakin, yang tertulis di dalam buku itu hanya karangan Tuan saja atau jangan-jangan, sekarang ini kalian sedang syuting film fantasi."
"Kalian?" ulang Olive yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat.
Bram mengangguk. Sepasang bola mata berwarna hazel itu segera mengedar, memperhatikan area sekitar yang dikelilingi perbukitan dan pohon-pohon yang tumbuh tinggi serta lebat.
"Hei, apa yang sedang kau cari?" tegur Olive yang tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya.
"Aku sedang mencari kamera. Di mana kameranya?" celetuk Bram, tanpa sedikitpun merasa bersalah.
***
Kediaman Elea.
Bahkan kedua orangtua Elea berani menjodohkan Elea dengan sosok yang saat ini, Ryan yang notabane pemilik perusahaan mengalami kebangkrutan massal. Hal itu membuat Elea tetap menunggu jika Bram, masih hidup dan selamanya akan kembali takkan lama, ia pasti akan mendengar kabar tentang Bram.
"Sudah aku bilang, priamu yang sombong terkaya itu berumur pendek. Berita masuk jurang pasti dia tidak selamat."
"Tutup mulutmu Ryan!"
Elea saat di rumah keluarganya, janji Bram yang akan datang menemui keluarganya setelah berhasil menang membuat para mafia palsu itu berada dalam tahanan. Nyatanya prediksinya salah, jika ada salah satu mobil dengan anggota lainnya yang kabur lebih dulu, dan mengejar Bram melampiaskan dendam.
Entah kenapa, seiringnya waktu kabar buruk itu membuat Elea down. Di tambah pak Hermawan dan Ryan, datang ke rumah menemui orangtua Elea, demi mempererat satu keluarga menjadi satu.
__ADS_1
"Maaf pak Hermawan, soal pernikahan semua saya tidak ikut campur. Hak putri saya dia berhak menentukan pilihan, akan bersama siapa dia mengarungi rumah tangga!" ucapnya.
"Tapi Om .."
"Ryan, lupa perlakuanmu dengan Bram amat keterlaluan. Sekalipun Bram, kekasihku telah tiada. Aku lebih baik jadi wanita yang tidak laku dinikahi siapapun, tidak menikah seumur hidup." sambar Elea kesal.
Deuugh!!
Elea pun pamit, sehingga tatapan Ryan patah hati karena ditolak Elea. Benar Elea adalah wanita pintar, wanita mandiri yang layak mendapat pasangan baik juga. Tapi dirinya telah insaf dari perlakuan kasar dirinya dulu pada orang dibawahnya, termasuk karyawan milik papanya, tidak akan merendahkan lagi.
Ryan bahkan menjadi pria penurut, setelah Tyo sang kakak tidak memperdulikan hidupnya dan sang papa. Semenjak Tyo kehilangan Via, dari keluarga Glows ia jadi hilang akal dan banyak menjual aset demi kepentingan sendiri.
"Baiklah Om. Saya dan papa saya pamit pulang." ucap Ryan, di ikuti pak Hermawan yang kini berusia lanjut.
Sementara setelah Ryan pergi, Elea pun pamit pergi dengan mobil sport milik Bram. Ia menuju kediaman kantor Kristal, untuk mengajaknya mencari Bram sampai ketemu. Elea tak mempercayai berita Bram yang mungkin saja tidak selamat, raga dan tubuhnya telah hancur lebur dibalik jurang yang bahkan mungkin penuh dengan lumpur lapindo, yang amat sulit ditemukan meski tim Sar membantu mencari jasad Bram.
Tlith!
[ Aku menuju kantormu, tapi temuilah aku di penelitian ilegal Depo Baru nomor 117. Aku akan datang sebagai relawan dan melihat aksi rekaman para tikus yang ingin kaya, tapi mengorbankan orang tak bersalah demi mereka tak tersingkir. ] pesan Elea pada Kristal.
Tak menunggu begitu lama, pesan pun dibalas.
[ Aku sedang menjalankan system, Bram masih selamat. Percayalah Bram selamat, jika perlu bantuan cepat hubungi polisi, maaf! Aku akan datang tiga jam lagi menuju lokasi. Berhati hatilah Elea. Penelitian itu aman, karena mafia tikus dan organisasi polisi tak bertanggung jawab ikut serta! ] balasan Kristal.
Deuugh!
Elea setelah membaca pesan dari Kristal, ada rasa tak percaya. Dunia nyata begitu kejam mengunjungi kehidupan kami. Ingin bahagia, ingin bersatu tapi sulit menyatukan karena berbagai masalah selalu datang. Menjadi kaya, sukses memang tidaklah mudah. Ada yang dilanda bencana, masalah baru dan ada juga digoda dengan banyaknya surga dunia terlarang yang membuat manusia lebih banyak mengumpulkan dosa.
__ADS_1
'Bram, kembalilah. Aku tidak sanggup mengurus semua ini seorang diri!' batin Elea, menangis.
Tbc.