Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENCARI IDE


__ADS_3

Elea meminta Bram ke rumahnya bertemu Hermawan! Tapi ia menolak karena alasan belum tepat, jika saat ini bertemu ayah dari kekasihnya itu. Apalagi jelas ia ingat penolakan terakhir, Bram rasa ia belum cukup matang. Usaha kurir delivery yang akan ia kembangkan saja belum terlihat berjalan.


"Aku ingin mengambil proposal terkait penelitian itu, aku rasa kamu bisa melihatnya Bram. Tapi itu ada di .. Apartemenku!" eja Elea menatap dalam.


Penjelasan Elea, membuat Bram menahan diri. Ia mengantar Elea guna mengecek visi penelitian itu, Bram bertekad akan menutup aksi ilegal dan membawa mereka yang tidak bertanggung jawab dengan cukup bukti, meski dengan adanya rekaman ia bawa. Tetap saja itu tidak kuat, Bram di minta Elea untuk bersabar, karena tidak sedikit uang untuk merogoh kocek menutupnya, apalagi Elea tidak ingin kekasihnya itu bangkrut karena kecerobohannya.


“Sebentar lagi pagi,” gumam Bram, sambil melihat jam di sudut kiri ponselnya.


Pukul dua dini hari. Bram merasa sangat lelah. Dia butuh beristirahat. Ia pamit pada Elea kekasihnya itu, meski bagi Bram ada kesempatan. Tapi Bram, bukan pria brandal yang merusak Elea tanpa status resmi yang halal.


Setelah memikirkannya beberapa saat, Bram memutuskan untuk menginap di hotel.


Tling!


[ Misi kali ini, mencari pemilik kedua dari tanah sengketa, tujuannya agar timun emas yang Bram tanam kelak panen, pemilik kedua tidak mengecoh usaha lahan Bram, demi meraup keuntungan di luar batas. ] pesan aplikasi misterius.


Tling!


[ Mr. Taylor hotel Aiger X! perjuangkan, batas waktumu merebut hak kepemilikan tanah sengketa adalah dua minggu! Jika tidak semua hasil yang kau perjuangkan akan sia sia! ] kembali pesan system itu memberi perintah.


Bram menutup pesan itu, ia tahu. Saat ini adalah misinya bernego, konon meski ia telah membeli lahan tersebut. Ada beberapa berkas yang amat panjang, agar menjadi miliknya utama, Bram tahu adalah bernego misinya kali ini.


Bram mulai meninggalkan parkiran apartemen Elea, tujuannya saat ini adalah mencari hotel terdekat untuk sekedar melepaskan penatnya.


Tidak beberapa lama dia berkendara di sepinya jalanan malam, Bram menemukan sebuah hotel berbintang lima yang berdiri dengan megah, menjulang tinggi dan entah berapa lantai yang mereka miliki. Dan ini adalah kali pertama bagi Bram memasuki sebuah hotel semegah ini, karena misi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Bram berjalan dengan santai memasuki lobi hotel.


“Aku pesan satu kamar,” ujar Bram, kepada resepsionis yang tampak sedang sibuk dengan ponselnya.


Resepsionis tersebut melihat penampilan Bram yang mengenakan pakaian biasa saja, dan sepertinya sedikit tidak meyakinkan.


“Maaf, Pak, kamar di sini tidak ada yang tipe biasa-biasa saja. Semua kamar harganya di atas delapan juta!” jawab resepsionis sedikit ketus, karena dia tidak yakin kepada Bram mampu membayar biaya sewa salah satu kamar di hotel mereka, bahkan kamar paling murah sekalipun.

__ADS_1


Bram merasa kesal dengan sambutan yang meremehkan dari resepsionis tersebut. Dia emosi, padahal matanya sudah sangat mengantuk.


“Berikan aku kamar yang paling mahal!” ujar Bram kesal.


Resepsionis itu bukannya melayaninya dengan baik, malah menertawakan Bram.


“Hahaha… Yang benar saja Anda ini. Anda datang ke hotel ini menjelang pagi, pakaian Anda biasa saja, dan sekarang Anda mau memesan kamar yang paling mahal di hotel ini? Tolong jangan main-main, ya. Kalau mau iseng ke tempat lain saja!”


Dikatai seperti itu, Bram semakin kesal. Itu terlihat jelas dari raut mukanya yang semakin masam.


“Saya yakin, Anda tidak akan bisa membayar sewa kamar di hotel ini. Jadi, lebih baik Anda pergi. Atau perlu saya panggilkan satpam?” sambung si resepsionis.


Bram hanya diam, tak mengatakan apa pun. Dan itu membuat si resepsionis geleng-geleng kepala. Dia pun menelepon satpam.


“Siap, Bu! Ada yang bisa dibantu?” tanya satpam saat tiba di lobi hotel beberapa saat kemudian.


“Pak, tolong awasi tamu yang masuk ke hotel. Orang seperti dia ini kenapa dibiarkan masuk? Lihat saja, dari penampilannya saja sudah ketahuan kalau dia nggak akan sanggup bayar biaya sewa kamar,” cerocos si resepsionis.


“Dia ... orang ini kaya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau tadi dia datang dengan mobil supermewah,” bisik satpam tersebut pelan, namun Bram, masih bisa mendengarnya.


Resepsionis tampak terbelalak mendengar penjelasan dari satpam itu.


“Tadi aku juga sempat curiga dengan penampilan orang ini. Tapi bagaimanapun, dia datang mengendarai mobil yang harganya bisa triliunan. Jelas dia punya uang!” lanjut si satpam.


Si resepsionis langsung gugup. Kedua tangannya gemetar. Saat dia menatap Bram, dia mendapati Bram tengah menatapnya dengan tajam.


Langsung saja, resepsionis itu membantu Bram memproses pemesanan kamar. Sesuai permintaan Bram, kamar yang diproses pemesanannya adalah kamar paling mahal harganya di hotel tersebut.


Tling!


[ Debet card, senilai satu malam Rp.75.000.000 atas nama Bram Hartanto, no reff ×××× 14479 ] Bram menatap akses dari ponselnya. Hal itu jelas Bram menatap pendebetan dari layar ponsel pintarnya.


'Jika aku membeli hotel ini, perguruan tinggi bukan lagi yang aku lihat. Melainkan attitude kepada siapapun itu!' lirih Bram, membuat resepsionis dan satpam menganga dan menunduk ketakutan.

__ADS_1


“Ini kuncinya, Pak. Kamar terletak di lantai tujuh, nomor 74GA. Dan maafkan kami kalau pelayan di malam ini tidak mengenakkan,” ujar resepsionis sambil tersenyum menyerahkan kunci kamar kepada Bram.


Bram menerima kunci tersebut tanpa sedikit pun tersenyum. Mendapati Bram menatapnya penuh amarah, resepsionis itu langsung menunduk.


Bram mengembuskan napas panjang. Dia langsung menuju kamarnya. Sebuah kamar yang luas dan sangat nyaman. Bram tersenyum puas saat melihat fasilitas kamar tersebut, karena itu sebuah pencapaian baginya.


Akan tetapi, perasaan nyaman ini tidak bertahan lama.


Setelah berbaring menelentang di kasur beberapa saat, Bram mulai merasa gelisah. Dia mencoba tidur tapi tak bisa juga. Selama itu, di benaknya terus muncul sosok Elea.


Bram merindukan kekasihnya itu. Dia juga mengkhawatirkan kondisinya, membayangkan betapa sedih dan frustrasinya hubungan mereka saat ini.


“Ya, sepertinya aku memang harus membeli rumah untuk kami tinggali bersama,” ucap Bram, sambil menatap kosong ke langit-langit kamar.


Ia berniat menelepon Elea untuk membantunya mencarikan rumah untuknya, tapi saat mengecek jam di ponsel dia mengurungkan niatnya. Sudah hampir pukul dua dini hari. Dia memaksakan diri untuk tertidur dan baru akan menghubungi Elea nanti saja.


Misi Bram kali ini amat berat, betapa tidak hubungan mereka yang jarang bertemu. Akan tetapi masalah yang mereka hadapi untuk berjuang sukses bersama baru di mulai.


Tbc.


Hello All, mohon maaf jika cerita ini membuat kalian bingung, Terimakasih atas dukungan kalian memberi iklan dan mengikuti kisah Bram.


Sesuai judul ini adalah system kurir yang tiap menjalankan misi akan medapat tips lumayan di luar nalar kehidupan real ya! tentunya akan banyak rintangan lika liku, maaf ini bukan mengisahkan romance nganu atau sekilas banyak adegan cinta.


Jika mau baca nganu! Mampir yuks.


# Istri Yang Tersakiti.


# Mengandung Anak Sahabat.


On Going.


- Happy Reading all -

__ADS_1


__ADS_2