
Sementara dari sudut lain. Daru kembali dan memerintahkan orang untuk menelusuri keadaan Siren. Ia tidak tahan jika kehilangan seorang Siren, beberapa silam ia meredakan emosi dan sulut akan rindu seorang Siren yang pantas ia jadikan istri, meski wanita simpanan ia miliki.
"Taya, bagaimana keadaan Papa Tjin?"
Asisten Daru pun memberi sebuah map coklat kegiatan Siren saat ini, ia pun memerintah asistennya itu untuk mengirimkan bucket dan kartu ucapan pesan untuk calon papa mertuanya itu, sebab lampu hijau restu sudah terkonek.
Daru meminta Taya, untuk segera melaksanakan siasat agar papa Tjin segera mempercepat pernikahannya dengan Siren, agar pria yang dicintai Siren kalah telak jika Siren sudah ia resmikan.
"Apa rencana tuan Daru saat ini bukan untuk mendekati warisan leluhurnya lagi?" Taya terdiam ketika salah berucap menatap sorotan tuan nya, Daru pun mengancam untuk tidak banyak bertanya. Segera ia pun pergi berlalu dari hadapan bosnya dengan gugup.
Daru yang memutar kursi, ia pun merasa tidak yakin jika ia mencintai Siren dan jatuh hati, bahkan ia menggagalkan pernikahannya di paris karena ingin menjadikan Siren seorang istri nya, dan tak ada wanita lain. Semenjak tragedi ia bermain terakhir kali di mobil dan memberi tamparan tak sengaja, ada hal aneh membuat Daru ingin memiliki Siren. Ia merasa tidak berdaya dan lemah namun ia rindu akan Siren yang tidak seperti wanita murahan, meski konyol saat ini, terkesan memanfaatkan Siren demi perusahaan Tjandra dikendalikan olehnya, namun ia malah terperangkap dengan penuh tanya dan berdebar ketika tangisan Siren menyentuh hatinya.
Dan sampailah Daru menuju tempat, dimana Siren berada.
***
Rumah Sakit.
Sementara Damar yang telah selesai dalam beberapa perusahaan. Damar memetik bunga dan membawanya kedalam saku jasnya. Ia segera menemui Siren yang kini sedang menunggu di resto kecil, sebelah rumah sakit.
"Kamu jadi datang Damar?"
"Yes! sibukku akan aku sempatkan menemuimu. Maaf aku terlambat Siren." senyum mereka saling menatap.
Lihatlah Bunga Matahari ini sangat indah dan bersinar. Tapi kini redup menghilang, karena cahaya berada di titik ini.
"Ku mohon nona tersenyumlah agara cahaya ku kembali bersinar! Bagai nama bunga tertulis untuk ku. Yaitu Bunga Matahari." tambah Damar menggoda.
__ADS_1
Pujian kata kata gombal itu membuat Siren geli! bagaimana tidak, Damar menyodorkan bunga pada Siren dengan wajah lucu.
Siren pun menatap Damar yang memberinya satu tangkai bunga matahari, ia pun menciumnya dan berdiri menatap Damar, mencubit pipi Damar lembut.
"Kenapa mencuri memetik bunga seperti ini?" tutur Siren, yang mendekat tersenyum ke wajah Damar.
"Agar kamu tidak masam, aku tidak suka lihat kamu sedih Siren." bisik Damar.
"Selalu lah seperti ini tersenyum, ayo duduk sayang! lagi pula aku tak memetik sembarang, aku meminta dari sang pemilik resto ini. Kan aku booking resto ini." tambah Damar.
"Sombong! dasar kamu sejatinya pria gombal yang selalu membuat tersenyum. Awas jika kamu merayu pada wanita lain aku akan menghukum mu Damar!"
"Siap Sirenku." Damar mengedipkan mata.
Mereka pun tertawa renyah, Siren senang menatap pria yang ia cintai, kini terang terangan menyatakan perasaannya. Hingga Siren yang kembali tersenyum ceria lagi kala Damar berhasil menepati janji, menemuinya di rumah sakit.
Sementara diujung sudut, Siren yang asik bermanja cerita dengan Damar, ia menoleh sesekali. Seakan tak enak ia menatap arah samping yang memotretnya, dan pergi begitu saja.
Siren segera berbalik di bangku sampingnya.
Namun hanya ada dirinya dan Damar yang makan ditepi.
"Ada apa, kenapa perasaanku tidak enak, ya?"
"Kenapa, ga enak kenapa?" tanya Damar, menoleh ikut memastikan.
"Ah! sepertinya hanya aku saja yang salah lihat Damar. Ayo ceritakan lagi, ph milik dady mu. Aku ingin mencoba jadi artis ph apa boleh?'
__ADS_1
"No! kau hanya boleh menjadi nyonya Damar, untuk apa menjadi artis, menjadi istri Damar, kamu pasti bahagia." bisiknya membuat Siren malu.
Siren yang melanjutkan pertanyaan Damar, ia melupakan hal yang memang mungkin bukan untuk dirinya, meski ia penasaran.
Sementara ponsel Siren saat itu berdering terlihat pesan bibi menghubunginya.
[ Siren sayang jangan pergi jauh ya tetap didekat papa dan bibi, entah mengapa bibi gelisah tak menentu! ] pesan bibi.
Siren menjadi perhatian Damar. Sehingga Damar mengambil ponsel Siren dan membacanya.
"Aku harus apa Damar?" lirih Siren yang gemetar.
Damar pun merangkul dan memeluknya, ia berjanji akan selalu bersama dan tak meninggalkan sang wanitanya sedetikpun.
Tlith.
[ Paman, sudah tahu alamat Daru. Damar ingin menemuinya saat ini.] pesan suara terkirim.
Hal itu membuat Siren terkejut, kala Damar berniat menemui Daru si pria bergilir.
Tak lama ponsel Siren berdering, ia mengangkatnya. Bulir air mata, begitu saja pecah tak terbendung mendengar kesehatan papa nya yang memburuk.
"Apa .. Papa drop." lirih Siren.
"Ayo! kita ke papamu sekarang!" ujar Damar, memegang tangan Siren yang masih sedih terpaku.
TBC.
__ADS_1