Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SEDIKIT LAGI TIBA


__ADS_3

Paket delivery tiba! Teriak Bram, hal itu membuat seorang pria paruh baya senyum membuka gerbang lebar lebar.


"Terimakasih, kau mengantarnya tepat waktu."


"Ada lagi yang kau butuhkan nak?" ujar Surya pria paruh baya.


"Begini, dari data yang saya dapatkan. Apa bapak mengenal Mr. Taylor, saya sedikit kesulitan bertemu dengannya. Ada hal bisnis yang saya ingin bicarakan penting."


"Of course. Di sana, pria itu bisa membawamu kepadanya. Kebetulan kami akan ada pertemuan sebelum bertemu di tempat rahasia gemerlap malam." lirih Surya menunjuk.


"Terimakasih, saya harus ..." Surya bergegas pergi, sebelum Bram selesai bicara lagi.


Tlith!


[ Bram pantai, dekatilah pemuda bernama Soga. Ia adalah anak angkat dari Mr Taylor. Kau akan mudah bertemu dengannya, sekaligus ada kaitan dengan penelitian ilegal itu, kau akan dapati jawabannya! ]


Bram yang setelah mengantar, ia meminta pak Surya mendekati dirinya dengan anak muda di sana, pak Surya sendiri adalah custumer yang membeli timun emas 2kg dengan kemasan paket.


Sehingga beberapa jam kemudian, Bram sampai di sebuah pantai dan mencoba lebih agresif mendekati pemuda itu.


“Hello, May I have your name? Sorry I am speaking English no Japanesse.”


(Halo, siapa namamu? Maaf aku bicara bahasa Inggris bukan Jepang)


Bram, mendekati remaja itu yang berjalan di belakang bersamanya. Dia nampak kesulitan berjalan di pantai dengan pasir yang tebal. Bram lalu bicara penuh percaya diri. Remaja itu hanya tersenyum dan tak menjawabnya. Bram cukup menahan diri untuk tidak marah ataupun tersinggung. Teringat pesan system, Bram, harus bersikap baik meski saat ini merubah identitas mendekati pelancong, wisatawan atau perantau demi sebuah misi.


“Your name? I am Bram Hartanto. You can call me Bram.”


(Namamu? Namaku Bram Hartanto. Kamu bisa memanggilku Bram! )

__ADS_1


Bram, agak kesal dan dia tetap menyapa anak itu.


“Untung kamu ganteng mirip Oppa. Kalo kamu jelek, tidak mungkin aku ikuti deh!”


Bram, ngedumel akhirnya. Remaja itu mendengar perkataan Bram, dan dia langsung tertawa renyah.


“Makasih dah bilang aku ganteng!”


Remaja itu tertawa manis seperti buah ceri. Cara tertawanya anggun tidak terbahak-bahak seperti remaja pada umumnya. Bram kaget seakan nafasnya tercekat permen karet. Rona merah jambu menyembul di pipinya. Dia mengira anak itu tidak bisa bahasa Indonesia. Mereka berhenti sejenak.


“Aku Soga! Kenalin!”


Anak lelaki itu mengulurkan tangan kanannya. Bram masih terdiam kaget. Yang dia lihat adalah dia anak lelaki orang Jepang, berperawakan tinggi dengan kulit putih seputih kapas dan rambutnya hitam pendek. Usianya diperkirakan anak SMA.


“Soga! Kukira Sougou Tokiwa, salam kenal dari Bram, si penguasa bumi selatan.”


Bram, masih memelototinya dengan tajam. Mata anak itu tajam seperti elang. Dia ganteng. Dia sipit. Tapi kenapa dia bicara fasih bahasa Indonesia? Benak Bram disambangi tanya. Namun dia gengsi tidak menanyakannya.


“Beautiful! I love it!” (Indah! Aku menyukainya!) puji lelaki dengan rambut dipenuhi uban. Dia berbicara bahasa Inggris dengan aksen Jepang.


“Yes, beautiful Mr! The landscape here is very beautiful,” (Ya, indah Tuan! Pemandangan di sini sangatlah indah) sambung Bram, penuh percaya diri.


Lelaki bernama Soga hanya terdiam dan matanya terhempas menyapu pemandangan di balik jendela mobil. Tak banyak bicara. Dia hanya berusaha menikmati perjalanan itu. Mungkin dia kelelahan atau sama sekali tidak menikmati perjalanannya di sini.


Pak Surya menengok ke belakang. Dia suka sikap Bram yang penuh percaya diri. Dia jadi kepikiran mengajak Bram, untuk menjadi pemandu wisata lain kali. Dia masih muda sudah fasih berbicara bahasa Inggris. Tidak hanya itu dia memiliki sifat percaya diri dan komunikatif sehingga akan mudah bergaul dan berkomunikasi dengan wisatawan.


“It’s true Prof!” (Itu benar Prof!) kata Pak Surya. Lelaki beruban itu ternyata Profesor Suzu yang rutin datang ke pantai itu. Dua yang lain adalah rekan kerjanya sesama ilmuwan.


Beberapa kali orang Jepang itu menyambangi pantai Tegal Buleud, sebuah pantai yang berada di daerah perbatasan Cianjur dan Sukabumi. Mereka adalah pembeli setia benih sidat. Sidat atau yang dikenal unagi adalah sejenis ikan yang bentuknya mirip belut. Di Jepang sendiri sidat merupakan makanan mahal. Sidat bisa diolah menjadi sushi dan sashimi.

__ADS_1


Sidat tak bisa bereproduksi di tempat budidaya. Dia bereproduksi di habitat aslinya yaitu muara atau air payau. Kalaupun di laut hanya akan ditemukan sidat dewasa yang siap dikonsumsi. Profesor Suzu hanya ingin mengadakan penelitian untuk sidat sedangkan satu rekannya lagi yang juga seorang ilmuwan tertarik dengan budidaya sidat di negaranya.


Mereka berjalan-jalan di sekitar kebun teh di daerah Sukanagara. Mereka turun dan berfoto ria bersama buruh teh yang sedang memetik teh di sana.


Bram, tak mau ketinggalan ikut berfoto. Lelaki misterius itu, Soga sama sekali tidak tertarik foto-foto. Dia lebih memilih berjalan-jalan di sekitar los kebun teh.


'Los' adalah tempat berteduh serupa pondok sederhana yaitu bangunan berpilar kayu dengan atap genting. Tempat itu biasa digunakan oleh para pemetik teh untuk istirahat dan menimbang hasil daun teh. Tak lupa Bram masih mengekor Soga, karena ia satu satunya akses bertemu Mr Taylor.


Mereka seperti menemukan oase di padang pasir dari pantai yang panas menuju kebun teh yang dingin. Mereka bilang orang Indonesia harusnya bersyukur dengan kondisi sumber daya alam yang lengkap. Beruntunglah menjadi warga negara Indonesia. Di Indonesia ada gunung, sawah, pantai, gua hingga danau.


Hingga Bram tercekat saat Soga bertanya dengan tajam penuh.


"Kau orang yang ke empat kalinya, mencari Mr Taylor." jelas Soga.


"Wuah! Jadi kau sudah tahu, apa maksud kedatanganku?"


"Benar mendekatiku hanya untuk menemui papa angkatku. Aku mempunyai papa dari nigeria, tapi aku hanya bisa mengantarmu sampai Bar gemerlap malam, selebihnya kau usaha sendiri. Ada enam belas tukang pukul berbadan besar, jangan menyinggungnya jika anda tetap ingin selamat pulang." jelas Soga.


Bram, menarik nafas dalam dalam. Sebenarnya seruwet apa sengketa tanah itu, otaknya tak berjalan saat di Bar itu ada enam belas tukang pukul. Apalagi saat ini Bram hanya seorang diri.


"Anda takut, kami menurunkan anda di sini. Nomor 1007!" ucap pemuda berwajah oppa itu.


"Bram Hartanto, tidak akan pernah takut. Sekali lagi terimakasih atas informasi, dan flashdisk ini." senyum Bram.


Ia turun dari mobil, lalu menatap bangunan tua yang letaknya berada di tengah tengah. Tidak ada yang tahu, Bar ini di kelilingi bangunan megah menjulang tinggi, pantas saja Mr Taylor amat sulit di temukan.


Tling!


[ Buka isi flashdisk, kau harus bisa menjawab misi visi mu agar Mr Taylor setuju dengan setiap permintaanmu Bram. Termasuk tanah sengketa ia lepas dan menjadi milikmu satu satunya! ] kembali pesan aplikasi system itu berdering.

__ADS_1


Tbc.


Maaf sedikit lambat Up! Author kejar on going romance dan tugas kuliah juga. Semoga cerita Bram, kalian menyukainya. Maaf jika tidak sesuai ekspetasi ya all.


__ADS_2