Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KETAKUTAN


__ADS_3

Sementara di kantor Bram!


Terlihat Kristal memergoki Hari dan Ibu paruh baya yang sedang membuka laci khusus.


"Kalian sedang apa disini?" tanya Kristal.


"Ka-mi ... Maaf kak! Mamaku ingin ikut aku bekerja hari ini, kesehatan mamaku sedang tidak baik. Ja-di mamaku beristirahat di ruangan ini saja, lagi pula di rumah tidak ada yang menjaganya." jelas Hari.


"Eh.. Bukan begitu, kedatangan saya juga selain ikut. Aku mau bertemu Elea. Dimana dia? Cepat suruh dia datang sekarang juga!" ujar Inggid memerintahkan pada Kristal. Yang saat itu Kristal ingin membantu putaran kursi dorong, ditepisnya.


Sementara Kristal menatap wajah Hari, sedikit ditekuk seolah segan, tapi tak berdaya. Bisa bisanya ibu ini datang mencari masalah, apalagi dia mengacak ngacak barang Bram yang ada diruangan privasi! Benaknya.


"Hari, bisakah kamu jelaskan saja! Apa maksud mamamu, Aku masih menghormati karena kalian keluarga Bram. Tapi memberantaki barang Bram, itu tidak bisa aku biarkan loh." jelas Kristal, lalu Inggrid melempar vas.


Prang!!


"Heiiiy..., aku ini ibunya Bram loh. Bukan oranglain, kenapa kalian lancang bicara padaku seperti itu ..? Harusnya kalian pikir, Bram tidak ada, yang jadi bos itu harusnya Hari, adiknya dan aku memegang penuh wewenang. Aku ibu Bram, kalian lupa. Mau aku gugat kalian ..." cetus Inggrid.


MAAH! .. Lirih Hari, ia kebingungan.


"Waah, a-apaa Akuu ..lancang?" eja Kristal, menohok.


"Tante, maaf jika aku tidak sopan. Sebaiknya tante menunggu di ruang Hari. Ruangan ini bukan supermarket yang bisa tante pegang pegang, berantakan. Banyak arsip penting! Atau jangan jangan ... ? Tante mau minta Elea hak waris bisnis Bram, menjadi milik tante?" bisik Kristal.


Enyaahlah! Tunggu saja, kau jika lancang. Akan aku tendang kalian dari kursi bisnis anakku. Elak Inggrid, ia segera menjalankan rodanya. Sementara Hari, ia meminta maaf pada Kristal dan izin cuti hari ini untuk mencari pengasuh sang mama.


Kristal pun membenahi berkas arsip yang berantakan, dengan helaan nafas.. Lalu ia menatap pesan di ponselnya. Yang saat itu dari Elea, memintanya datang ke lokasi saat ini juga.


[ Kristal, apa kamu bisa membantuku. Aku ingin masuk rumah sakit Buana Center. Tapi aku di persulit. Please ...! ] pesan Elea.


***


Kembali Pada Bram.


Bram menyeringai, menunjukkan senyuman penuh kemenangan. Sudah lama dirinya tidak melakukan senam tangan semenjak menjalani kehidupan keduanya.


"Maju kalian!" perintahnya tanpa berbasa-basi lagi. Tangannya sudah gatal ingin bertarung.

__ADS_1


"Ternyata berani juga ini orang. Apa kau tidak tahu kami-kami ini siapa?" seru pria yang penampilannya agak sedikit rapi diantara rekan-rekannya.


"Haruskah aku peduli siapa kalian?" balas Bram santai dan tetap tenang, walau harus dikepung lima orang dalam satu waktu.


"Bedebah! Sombong sekali dirimu!" umpatnya lagi.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia yang sudah geram dan dendam atas kematian salah satu rekannya itu, langsung mengangkat tangan yang sudah mengepal bulat-bulat.


Dengan gerakan cepat ia hendak meninju wajah Bram. Namun, jurusnya itu terlihat lambat di mata Bram, sehingga dirinya sangat mudah menepis serangan dari lawan duelnya itu.


Pertarungan belum usai. Keduanya pun bertukar beberapa jurus. Bram yang cukup banyak memahami bela diri karate dan Wushu pun bisa dengan mudah membaca pergerakan dari lawannya.


BRUGHK ...


Bram, memberi pukulan keras di wajah lawannya, saking kerasnya deretan giginya sampai retak dan bertebaran di tanah. Tidak berhenti sampai di sana saja, Bram meninju bagian perut lawannya dan darah segar memuncah keluar dari mulutnya.


Dalam satu tarikan napas, lawan bertarungnya sudah tersungkur di tanah dengan wajah babak belur dan darah segar keluar dari kepalanya.


Mereka yang sudah melihat kemampuan Bram dalam hal bela diri, mendadak jadi ragu dan mikir ulang untuk melawan Bram.


"Kalian kenapa diam saja? Ayo, maju! Bukankah tadi kalian mengatakan ingin membalas dendam atas kematian rekan kalian, maka hari ini akan kuladeni kalian semua!" KESAL BRAM.


Kali ini Bram yang mengambil inisiatif untuk menyerang lebih dulu. Mereka yang masih melongo dan belum siap untuk bertarung pun harus terpental beberapa meter, saat pukulan, tinjuan dilayangkan Bram dalam kurun waktu kurang dari satu menit.


Hanya dengan satu tarikan napas, mereka yang tubuhnya bahkan lebih besar dari Bram pun tersungkur di tanah, dan darah segar mengalir dari tepi bibir mereka.


"Baiknya kita lari saja. Tidak mungkin kita semua mengalahkan pemuda ini!"


Mereka sama-sama memutuskan untuk pergi dari sana. Bram pun bereaksi. Dengan segenap tenaga, dirinya berusaha menghentikan mereka yang hendak kabur itu.


BRUGHK ...


Dirinya menggunakan gerakan bawah dengan cara menyapukan kakinya, setidaknya ada dua lawan yang jatuh kembali. Sisinya tidak mampu Bram kenai.


"Mau kemana kalian?" Dirinya tidak mampu untuk mengejar mereka yang masih memiliki banyak tenaga itu. Biarpun begitu, dia cukup puas karena telah berhasil menjadikan dua orang tersebut sebagai tawanannya.


"Wajah orang asing. Mohon untuk tidak membunuh kami. Biarkan kami tetap hidup," mohonnya sambil mencium kaki Bram.

__ADS_1


"Ingatkan! Kau tahu siapa aku? Hah! Bram Hartanto .." eja Bram meminta mereka mengingat dirinya.


"Jika kau mendengar namaku, melihatku, enyahlaaah!! Jangan berani mengusik ladang, dan wilayahku! ingat tanganku ada sengatan listrik bisa saja membuat kalian gosong!"


Ia yang masih menyayangi nyawanya pun, memutuskan untuk pasrah dan memohon ampun dari pemuda pemilik nama Bram Hartanto tersebut.


Lalu, rekannya pun ikut menimpali, "Tolong ampuni kami orang asing. Jika dirimu membiarkan kami tetap hidup, maka semua yang Tuan inginkan akan kami beritahu."


Mendengar pengakuan tersebut, terlintas dalam benak Bram untuk memanfaatkan kesempatan ini. Setidaknya dia tidak perlu berkerja keras lagi untuk mengorek informasi lebih jauh. Dan misi selesainya, ia bisa kembali pulang.


Tidak lama kemudian Olive pun datang. Kali ini dirinya muncul dari belakang Bram.


"Ternyata kau sudah mendapatkan dua mangsa yang besar-besar," ucap Olive senang.


Bram melirik sejenak ke arah pria di sampingnya itu, "Apa kau tahu dari mana mereka?"


Dicecar pertanyaan, Olive pun mengerutkan kening, mengecilkan pandangannya serta mengelus dagunya kemudian.


"Mereka adalah anggota dari organisasi genk Merah," jelasnya santai.


"Genk Merah?"


"Ya. Mereka adalah anggota Genk Merah yang menduduki wilayah sini."


Olive juga tidak lupa menambahkan, bahwasanya di daerah tersebut tidak memiliki penegak hukum, seperti polisi.


"Jadi maksudnya, di sini tidak ada pihak yang berwajib begitukah?"


Bram, tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Olive mengangguk mengiyakan tebakan tersebut.


"Alasannya, jelas karena Ketua Genk Merah yang telah menguasai wilayah ini."


Kedua anggota Genk Merah yang menjadi sandera itu termangu, merasa menyesal karena telah salah memilih lawan bertarung.


Jelas-jelas Olive dan Bram yang sama sekali tidak keduanya kenal itu, banyak mengetahui informasi tentang organisasi mereka.


'Jadi jika aku hempaskan semuanya, melawan dengan tenaga listrik sekalipun, aku tidak dituntut bersalah?" lirih Bram, dan Olive tak bisa menjawab hanya diam.

__ADS_1


Sementara pria sandera merasa ketakutan.


Tbc.


__ADS_2