Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
INTRIK YANG GAGAL


__ADS_3

Tok! Tok!


Jingga menggedor pintu apartement Bram, mau tidak mau ia membuka lagi dan wajah Jingga yang melas kala itu.


Jingga memang bicara seperti itu berulang-ulang kali mencoba untuk memohon pada Bram, kata orang, repetisi bisa menunjukkan seberapa kita menginginkan itu dan memberikan penekanan pada lawan bicara. Ini yang dilakukan Jingga.


"Apa jadinya aku kalau aku harus menikah dengan pria yang tidak aku sukai? Kehidupan macam apa yang akan aku jalani, coba kalau kau di posisiku, Bram?”


"Kau tidak mencoba untuk menolak dan bicara dengan ayahmu baik-baik mungkin!"


"Sudah!" Jingga makin gemas.


"Sudah berkali-kali! Bertahun-tahun malah! Tapi tetap saja ini tidak pernah berhasil!"


Mata Jingga pun berkaca-kaca, membuat Bram mengumpat.


'Hah, wanita ni, kalau ada maunya pasti nangis bombay jurus terakhirnya. Dia pikir aku ga tau apa?' Bram bukan pria yang mudah digosok oleh wanita dan mengikuti inginnya. Meski saat ini telinganya mendengar bujuk rayu Jingga lagi, seolah masa lalunya ingin berdamai, tapi bukan berarti ia menodai cintanya pada Elea di alam berbeda.


"Hanya kau yang bisa menolongku! Lagi pula kau tidak akan menyakitiku dan akan memakai tubuhku kan? Ayolah tolong aku! Bram, aku tahu persis kamu mencintai Elea."


Tapi Bram belum berani setuju, meskipun...


‘Hah, bocah ini! Ada-ada saja! Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi setelah lama menghindar? Tadi malam harusnya aku tidak keluar dari kamar!’ gumam Bram yang menyesali dirinya merenungi mantan kekasihnya di balkon semalam.


Tapi kemudian, matanya melirik Jingga membuat Bram berpikir lain.


Bram itu punya satu kekurangan, dia selalu merasa tidak tega dengan kesulitan orang lain. Apalagi orang yang sudah dikenal dan saat ini Jingga memohon dengan penuh harap sampai menanggalkan rasa malunya sendiri di hadapan Bram. Bagaimana dia tidak tergugah?


"Kalau aku mau berpura-pura menjadi kekasihmu, apa semua masalahmu akan selesai?"


"Jadi kau mau membantuku kan, Bram?"


"Aku tadi belum bilang iya! Aku bertanya dulu padamu.”


"Cukup kau menjadi kekasihku saja aku yakin ayahku pasti tidak akan mengganggu karierku lagi, ayolah please .. please! Aku janji tidak akan mengganggu Mu lagi, bahkan di kantor aku akan bersikap tidak kenal, antara bawahan dan sang bos BI production."


'Yes, yeaaah! Dia akhirnya ga keras lagi!' bisik hati Jingga senang.


Melihat Bram yang sudah hampir termakan oleh ucapannya dan terlihat mulai goyah dengan ketegasannya, Jingga tidak buang waktu dia langsung mengutarakan kalimat tadi penuh harap dengan senyum yang membuat Bram berdecak di hatinya.


"Kau yakin tidak ada yang lain yang diinginkan Tjandra, Jingga?"


Tapi Bram berusaha fokus, karena itu dia memastikan dulu. Jangan sampai setelah ini dia harus menuruti keinginan Jingga yang lainnya.

__ADS_1


"Nggak ada! Menjadi kekasihku saja cukup. Jadi kau setuju kan? Kita bisa ketemu ayahku?"


"Eh tunggu dulu, ketemu ayahmu maksudmu bagaimana?”


"Ayahku kemarin melihat berita!" dan Jingga memindai netra Bram, dia ingin kita bertemu dengannya! Hari ini aku hanya diberikan waktu satu kali dua puluh empat jam, kalau aku tidak bisa membawa kekasihku ke hadapannya, maka dia akan terus menjodohkan dan menikahkanku dengan laki-laki pilihannya itu namanya, Mr Boim!”


Masih dengan wajahnya yang merengut penuh harap, Jingga pun memohon pada Bram.


"Huuh!" Bram meringis, "baiklah kalau maumu begitu!"


"Jadi kau setuju?”


'Hahaha! dia termakan dengan ucapanku!' hati Jingga loncat-loncat kegirangan melihat bagaimana Bram akhirnya mengangguk, meski tubuhnya masih membeku di tempat


"Yes! Makasih ya Bram! aku seneng banget!"


"Jangan melangkah lagi! Ga usah memelukku juga!" Bram tahu Jingga ingin mendekat padanya karena luapan perasaan. Sebab itu Bram mencegahnya.


“Sudah tahu kakimu sakit dan baru juga aku obati, cepatlah mundur sebelum kena beling lainnya.”


"Iya, maaf deh, aku dah seneng banget soalnya, euforia dikit, hehe!"


"Ssh, naik sana ke sofa! Kenan, sedang menuju kemari mengantarmu pulang!"


"Kita berangkat sekarang, Bram! Aku beli tiketnya dulu ya!” Jingga bersemangat


"Lakukanlah apa yang mau kau lakukan!"


Bram tak melarang, justru menuju lemari.


"Ini pasportku!" pesan tiket butuh data, maka Bram menyerahkan ID-nya.


"Oke, aku cari sekarang!"


Dia sudah terlanjur setuju dan ingin melangkahkan kakinya ke kamar mandi, menaruh kotak P3K, tapi!


“Pakai bajumu dulu dong, Jingga! Jangan langsung ke hape!"


“Oh iya, aku sampai lupa, untung kau ga suka cewek, Bram. Hehe."


Cepat-cepat Jingga mengambil kemeja Bram lagi, dia memakainya di saat Bram sudah melangkah ke kamar mandi.


'Wanita yang aneh! ish!'

__ADS_1


Sekarang Bram berdecak sambil menghela napas, setelah menaruh kotak P3K di laci wastafel, dia menutup bolongan kecil di cairan infuse yang masih tersisa banyak dengan tusuk gigi bersih.


'Tapi aku yang lebih aneh karena aku mau membantunya! Ngapain juga aku mau setuju menolongnya, ya?'


Bram bertanya sendiri pada dirinya sambil mencuci tangan.


Tapi!


"Aku hubungi Kenan, biarkan dia yang menjadi kekasih Jingga. Saat ini, tidak tepat jika bertemu Tjandra." ujar Bram, mempunyai siasat lain.


Klik!


'Tiket pasportmu segera boarding, lalu pilih jas yang keren. Ada hal misi yang harus kamu lakukan malam ini juga Kenan.' pesan Bram, yang ia tahu jika Kenan sedang menuju apartementnya.


'Baik Tuan.' menurut Kenan, membalas pesan bosnya dalam itungan menit.


Toh Bram tidak harus menjaga hati siapapun. Dia tidak punya pasangan dan benar juga yang dikatakan oleh Jingga, hidupnya juga tidak akan bermasalah, pikir Bram sambil tangannya juga menarik tissue dan mengelap jari dan telapak tangannya yang basah. Ia akan bilang pada Jingga, jika yang jadi kekasihnya adalah Kenan, Bram cukup pintar tak ingin terbawa arus intrik wanita manja.


"Bram aku sudah pesan tiketnya, kita bisa berangkat sekarang!"


Jingga menggoyangkan handphonenya sambil tersenyum pada Bram, saat pria itu keluar dari toilet. Jingga sudah antusias.


"Jam berapa itu?” tanya Bram lagi sambil mengerutkan dahinya, karena tak terlihat layar handphone Jingga.


"Jam sebelas,”


'Tuh, kan, wanita ga ada otak ya kaya gini!' gumam Bram mengomentari Jingga yang tak mengerti kebodohannya justru tersenyum bangga.


“Ini udah jam delapan, Jingga! Kau mesti ambil barang dulu di hotelmu, ini makan waktu setengah jam. Dari sini kita mesti naik Jetty port terus ke Caticlan, habis lima belas menitan buat ke port dan nyebrang, belum bongkar muat, udah jam sembilan kurang sepuluh itu! Terus pesawat jam setengah sepuluh, kalau ga telat, Jingga! Sejam loh dari Caticlan ke Manilla, terus kita mesti check in ulang di bandara, pesawat jam sebelas, mikir ga sih sebelum beli tiket!" Bram gemas dengan kelakuan Jingga yang masih cengar cengir.


"Ya aku cuma dikasih waktu dua puluh empat jam, ya enggak mungkin kalau enggak jam segini kita berangkat, Bram."


"Kita di Indonesia saja?" Bram malas berdebat. Makanya menanyakan tujuannya saja.


"Enggak! Ayahku ada di New York. Jadi kita ke new York.”


"Kita tunggu Kenan, aku sudah putuskan yang menjadi kekasihmu adalah Kenan, dia orangku yang supel dan ganteng. Aku cukup mendampingi!"


Duuar!!


"Apa ..? Bram, kenapa kau berubah pikiran?" syok Jingga kakinya melemas, bagai tak ada tulang.


"Berjaga jaga, mau atau tidak itu pilihanmu." ujar Bram, duduk menyilangkan kaki dengan acuh lagi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2