
"Damar, papa mu, disana kemana?"
"Tidak perlu khawatir! setelah akan terang, rumah ini akan meredup. Bahkan dady Bram, tidak akan tahu jika kita berada di tempat yang sama, berbeda letak posisi. Mamaku Elea, akan terlihat dengan orang yang ikhlas, tulus tidak pendendam. Bahkan kenapa aku menarik kamu, tetap ingin padamu! karena kamu bisa melihat ibuku, dari boneka system ia akan hidup seperti pada umumnya. Tapi bagi orang tidak diperlihatkan, dia akan terlihat seperti hiasan! bahkan tak terlihat." jelas Damar.
Siren sendiri sedikit bingung, dengan apa yang ia lihat. Benar benar pria yang ia kagumi, sangat genius. Tidak salah, jika ia mendambakan Damar, sejak party kuliah sudah melihat aura Damar yang berbeda dari manusia pada umumnya, bahkan kali ini ia mengekor kemana Damar melangkah, setelah menjelaskan.
Bahkan mama Elea sendiri terlihat ramah, namun setelah makan bersama ia masuk ke dalam ruangan, yang sinar terang membuat mata Siren tidak kuat, bahkan udaranya sendiri sedikit beku kedinginan. Setelah itu hilang begitu saja, membuat Siren kembali pada tatapan Damar yang memintanya pulang, karena Damar berniat mengantar Siren pulang ke rumahnya, tanpa pamit pada ibunya Elea, yang sudah di tempat lain.
Bahkan Damar sendiri tidak bisa masuk ke dalamnya, karena paman Alex sedang memulihkan ruangan khusus yang didalamnya ada sinar dan kekuatan system, belum sempurna, untuk masuk ke ruangan privasi mamanya.
Siren menatap Damar yang sedang menyetir,
ia pun membalas genggaman erat tangan sang kekasih dan menceritakan pahitnya ia kini bersama sang mama, hingga tiba di depan rumah Siren terhenti. Damar yang mengantarnya, dari sepanjang jalan Siren menceritakan sisi keluarganya! tiba di kejutkan dengan seorang paruh baya yang menunggu kedatangan Siren.
Damar pun ikut turun, layaknya pria yang mengantar Siren dengan baik baik saja, gentle bertanggung jawab.
"Sudah jam berapa ini Siren, kamu pulang selarut ini?"
Sang bibi pun menghampiri, sementara Damar memberi salam dan mengenalkan diri. Siren yang menatap bibi dengan tajam pada Damar. Sesekali pada Siren keponakan tersayang nya itu, Siren pun paham akan sikap bibinya itu. Hingga Siren diperkenankan masuk lebih dulu.
"Dia Damar bi, yang aku ceritakan tempo lalu." jelasnya.
"Masuklah sayang, papa menunggumu di dalam!" tutur bibi pada Siren.
"Damar, terimakasih ya. Aku masuk lebih dulu."
"Selamat malam Siren!" ucap Damar.
Sepeninggal Siren, bibi Yani mengajak Damar ke taman depan dan berbincang serius. Siren yang menatap Damar dari jendela ingin sekali bergabung, dan rasa penasaran apa yang dibicarakan oleh bibinya itu.
__ADS_1
"Sedang apa disitu ndok?" Papa menghampiri Siren, ia pun terkejut dan mengajak papa kedalam ruangan hangat, tak ingin jika papa tau jika ia diantar oleh Damar yang membuat jantungnya anfal.
"Eum .. Karena cuaca begitu dingin, malam penuh angin papa pakai baju hangat yang tebal. Apa papa sudah makan, minum obat?" tanya Siren, hingga merekapun berbincang panjang di ruangan! dan tak lama bibi Yani bergabung lalu mengajak untuk makan bersama. Siren pun penasaran, apa yang sebenarnya di obrolkan di depan.
Namun Siren, memilih istirahat dan hanya mengambil satu gelas susu dan berlalu ke kamar.
Dalam kamar Siren! yang telah bersandar membersihkan diri, mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Damar perihal pembicaraan nya pada bibinya.
Lalu ia menunggu balasan namun menatap ponsel satu nya terlihat, pesan dan panggilan tak terjawab hingga delapan belas panggilan dan sembilan pesan. Yakni itu adalah ponsel yang tersambung nomor Daru, si pria kejam.
"Hari ini aku tak ingin mendengar dan melihat namamu Daru! jangan mengacau mood gelisah ku karena namamu." gumam Siren yang menunjuk ponsel dengan tampilan layar terlihat nama Daru.
Beberapa puluh detik, Damar pun mengirim pesan. Siren antusias pun segera meraih dan membukanya dengan senyum penasaran.
[ Dasar pria menjengkelkan, kamu menyebalkan sekali Damar. Membuat aku penasaran,] balasnya dengan emoji.
Tak lama pesan kembali dari Damar.
[ Sudah lah jangan dipikirkan aku sudah berjanji untuk memperjuangkan pada papamu, bibi tak menyulitkan hubungan kita namun juga melarang sedikit agar waktu yang tepat.]
Siren tersenyum menatap isi pesan ponsel dari Damar! ia pun mengingat akan perkataannya di mobil tadi, malam yang indah.
Sejak di dalam mobil, perjalanan menuju pulang. Siren menceritakan sepenggal keluarganya dari temurun kakek Tjandra.
Aku terlahir yang memang dibuang oleh keluarga terpandang, mama ku cucu berdarah kerajaan, dan masih menjadi tradisi jika jodoh sesuai dan setara hal biasa. Tapi mama ku berbeda dia melanggar memilih keluar dari keluarga, menikah dengan papaku yang notabane berdarah asing, tapi selama empat tahun meninggalkan aku dan mama. Hingga sepeninggal mamaku, papaku di bantu ekonomi oleh kakek Tjandra, dengan satu hal kehidupan masa depannya sudah di atur olehnya, baik itu pasangan atau pernikahan meski pria itu punya istri sekalipun, asalkan materi terjamin seumur hidup, dan usaha konstruksi nya tetap berjaya selama turun temurun tidak hancur.
Sejenak Damar kala itu terdiam, sambil melaju mobilnya, tidak di sangka ada keluarga yang haus akan kekayaan. Bahkan bagi Damar perusahaan milk Dady Bram, membuat Damar lelah tak punya banyak waktu.
__ADS_1
"Aku dengar papa telah menikah kembali dengan bangsa yang sesuai, aku dengar dari mama jika papa hanya menikah bisnis tapi mama kecewa dan tinggal lah kami disini hingga kini." kembali Siren menjelaskan.
Deg.
"Maafkan aku Siren, yang mengabaikan saat itu, sehingga aku mengesampingkan hubungan jelas kita. Jujur keluargaku besar karena banyaknya sumber materi dari sebuah system, jadi aku mengesampingkan hubungan teman kita yang sudah terjalin lama."
'System itu tak terlihat tapi bersuara, apakah sama seperti manusia yang bertapa, meminta kekayaan dan kemakmuran?' terdiam Siren, sejenak ketika Damar berucap.
Tak berselang lama pintu kamar Siren terketuk, bibi Yani pun mendekat keponakan tercintanya, di saat Siren melamun dirinya dengan Damar tadi.
"Bibi ada apa malam seperti ini belum istirahat?"
Tak lama Siren terkejut akan penjelasan bibi, ia sudah tau akan masalah pilu dan berat keponakannya itu yang hidup di bawah tekanan keluarga.
"Sayang bibi! Siren kamu harus kuat, tidak mudah mendapat restu papa jika tanpa alasan kuat, dan terlebih kamu harus berhati hati menyampaikannya pada papamu, jantung papa tidaklah baik saat ini. Bibi merestui apa pun pilihanmu, tapi ada syarat nya kamu harus cerita dan terbuka pada bibi, jangan simpan semua sendiri!"
Siren pun memeluk bibi Yani, karena bibi selama ini sama seperti mama yang mengerti Siren! Siren pun berjanji akan menepatinya untuk terbuka.
Mereka pun berlalu dan tidur bersama. Siren bahkan menjelaskan perkenalan ia dengan Damar. Bibi pun memberi kecupan kening dan meminta Siren tetap tau batas dan berhati hati pada Daru. Siren tak menyangka jika selama ini bibi Yani mengetahui akan sikap Daru di luar selama ini.
Tak lama, ponsel Siren berdering. Itu adalah sebuah video system ruangan khusus, ketika Siren ingin menemui mama Elea.
"Video apa itu Siren?" tanya bibi, membuat Siren mengumpat, karena rahasia besar Damar tidak boleh bocor pada siapapun, termasuk bibinya.
'Ah! gimana ini... kalau bibi aku perlihatkan, apa dia percaya dan bicara lagi ke orang lain?' batin Siren.
TBC.
__ADS_1