Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BRAM COMEBACK


__ADS_3

"Elea." lirih Bram,


Memegang pundak Elea, "Janganlah bersedih, bersabarlah!" memeluk Elea, sambil menguatkan.


"Maafkan aku! tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membantumu.. " meneteskan air mata, memikirkan betapa malangnya nanti Elea akan hidup tanpa ibunya.


"Elea! jangan menangis!" Bram pun ikut memeluk Elea, yang tengah bersedih saat itu.


Elea terdiam gemetar hatinya hancur, kakinya tak sanggup lagi untuk berdiri, lemah dan tak berdaya ia pun terduduk dengan pasrah saat itu, tak bisa ia bayangkan hidup tanpa seorang ibu.


Elea seperti tubuh yang kehilangan jiwanya, tatapannya kosong ia terdiam, seakan tak sadar dan tak kuat lagi atas apa yang menimpanya.


"Elea, jangan seperti ini lihat Aku! kamu harus kuat!" dengan kedua tangannya memegang wajah Elea, sambil mengusap air matanya.


"Bram kenapa harus aku..?" Elea pun juga ikut menangis saat itu sambil memeluk Bram.


Air mata Elea kembali bercucuran.


"Tidak...! tidak.. ti...ti.. tidak, aku tidak mau ditinggalkan ibu." teriaknya.


"Elea .. Tenanglah Elea."


"Bram!" Elea melihat Bram yang tak kuasa menahan rasa sakit itu.


"Huhu, Elea... jangan sedih lagi, ada kami!" ujar bibi.


"Elea janganlah putus harapan, semoga ada keajaiban dan Ibumu sudah tenang, kita siapkan semuanya. Elea sadarlah sayang, kamu harus percaya padaku! kita harus kembali, planet ini bukan kehidupan kita sebenarnya." ucap Bram.


Elea yang menangis dengan pilunya, sungguh menyakitkan apa yang dialaminya, terus menatap ibunya dan sekejap menatap ke langit, memejamkan mata berharap ibunya kembali sadar, tangannya gemetar, terus berharap dan berharap.


"Kasihan Elea, kenapa jadi seperti ini. Apapun yang terjadi, tolong kembalikan kami pada dunia sebenarnya! kenapa aku saja yang ingat, tapi Elea tidak..." teriak Bram, dengan kepala tertunduk dan meneteskan air mata menatap Elea, Bram dengan penuh harapan dalam hatinya, agar Elea sadar.


[ Bram, bawalah Elea ke dasar gunung emas! di sebelah puncak bukit sebelah kiri, mangkok dan sendok emas, telah ditemukan bola yang akan membawa kalian pada keluarga kalian sebenarnya! kalian terjebak pada kehidupan sihir, kehidupan sihir yang bergabung dengan kekuatan system, dimana mereka semua mempunyai kekuatan, dan yang tidak memilikinya akan hidup dengan tragis di planet ini ] suara system, mampu membuat gendang telinga Bram jelas, tidak berwujud hanya suara saja.


Lalu bagaimana caranya aku membawa Elea? apakah aku harus menerima takdir, jika Elea tidak dapat dihidupkan lagi. Sehingga aku memang harus kembali pada keluargaku tanpa Elea saat ini?! gumam Bram, berharap mendapat jawabannya.


[ Dasarnya orang telah mati, tidak akan bisa dihidupkan lagi meski kekuatan system bercampur, percayalah Bram! Elea di kehidupan lain dia tetap tidak akan bisa bersama, karena telah tidak bernyawa! dia lahir kembali dengan sosok kepribadian orang lain. ]


Lemas Bram! menunduk saat itu juga menatap Elea, yang nampak menjadi gadis remaja.

__ADS_1


Keadaan ibu Elea saat itu semakin memburuk saja. Tidak ada nafas, membuat beberapa orang membantu memakamkan. Meski Elea menolak untuk sang ibu tidak di gotong.


"Jangan, ibuku masih hidup!"


"Elea, sadarlah sayang. Ibumu sudah tenang!"


"Bagaimana aku tanpa ibu. Ibu paling menyayangi aku, bibi tidak akan membuat aku sedih kan? tolong bilang pada mereka jangan bawa ibu!" dengan kedua tangan kecilnya memegang tangan bibinya, disebelah Elea.


Selangkah demi selangkah Elea mendatangi ibunya, rasanya kakinya tak sanggup lagi untuk berjalan, terus menatap ibunya dan tatapannya kosong, di pikirannya hanyalah ibunya.


Elea berdiri di hadapan ibunya, dinginnya hawa hujan saat itu tak sedingin hatinya yang tengah kehilangan kehangatan ibunya, sakit yang Ada di tubuhnya tak sesakit rasa perih yang ada dalam lubuk hatinya.


Tubuhnya gemetar takut, kembali dengan wajah tertunduk. Ia terduduk diam kakinya seakan lemas.


"ibu. Ma-maafkan Elea, tidak bisa menjaga Ibu dengan baik."


Menapakkan tangannya ke lantai, "Elea bukan anak baik, Elea yang membuat ibu seperti ini."


Suasana menjadi hening, semua orang tertunduk diam.


Tiba tiba, suatu lambang telah muncul, lambang itu kemudian memecah ke seluruh ruangan. Cahaya guntur yang saat itu Elea berteriak meminta sang ibu kembali, tiba saja menggelegar membuat semua orang hening dan silau tak melihat siapapun di sampingnya.


Waaash ...


Kilat berubah menjadi bunga dan daun yang menyelimuti tubuh ibunya Elea, seluruh tubuhnya tertutup dengan bunga bunga berwarna putih merah dan daun hijau berwarna jingga.


Terangkatlah badan ibu Elea saat itu, bunga bunga yang menyelimuti tubuh ibu Elea, seperti kepompong yang menutupi ulat sebelum berubah menjadi kupu kupu.


Kemudian gumpalan bunga bunga itu berubah menjadi butiran cahaya berbentuk bunga kecil, terbuka dan tersebar ke seluruh ruangan.


Elea yang melihat kejadian itu tersentak dan betapa terkejutnya ia saat itu. Setelah bunga bunga itu tersebar ke seluruh ruangan, kembalilah ibu Elea ketempat semula.


Keadaannya berubah total, rambut yang memutih, kuku yang membiru, wajah yang semakin pucat dan tua telah kembali seperti semula bahkan keadaannya menjadi lebih baik.


Walaupun ibu Elea menjadi lebih baik namun ia tak kunjung sadar juga. Tak bisa berkata kata Elea dan hanya memanggil nama ibunya dengan ikhlas harus merelakan.


Suasana menjadi terbalik menjadi harapan dan rasa lega dalam hati Elea. Elea terus memandang wajah ibunya saat itu, tak sadar akan apa yang terjadi dengan hal lainnya.


Elea bingung, tak ada seorang pun di sana. Hanya ada dirinya dan cahaya besar. Elea mencari keberadaan ibunya dan yang lain. Tapi ia melihat seorang wanita dan bicara pada Elea untuk terus melanjutkan hidupnya. Suara guntur tiba saja membuat tubuh Elea terpental hingga setengah sadar.

__ADS_1


Tubuh Elea yang memancarkan energi berwarna hijau pekat, mereka tahu bahwa itu adalah energi kebangkitan yang sangat kuat.


Kemudian datanglah orang yang ada di luar pintu cahaya. Mereka tampak seperti bukan orang biasa, dengan baju hitam dan putih yang mewah berlambang bunga kristal hijau dan di dampingi dengan beberapa pengawal disampingnya.


Berdiri di depan Elea, melihatnya yang sedang memancarkan energi yang sangat kuat.


"Apa!"


Mereka semua terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"luar biasa sungguh sangat luar biasa"


"Selama ratusan tahun kami tidak menemui energi kebangkitan yang sangat luar biasa." takjub dengan pancaran sinar Elea saat itu.


"Terus rasakan energi itu mengalir dalam tubuhmu dan jangan biarkan ia lepas, biarkan masuk ke dalam dirimu, biarkan ia menuju hatimu." ucap seorang lelaki paruh baya yang ada di barisan orang orang itu.


"Ini adalah awal kehidupan kamu, lakukanlah sesuai skill kemampuan yang kamu miliki. Jadilah ratu dunia dalam surga, energi cahaya ini akan membantumu menelusuri dan mencari yang hilang yang kamu cari dan kamu inginkan."


"Ibu, aku hanya ingin ibuku!" teriak Elea.


[ Aku datang! Aku adalah utusan langit, Oliver Kristalion. Pergilah ke ujung cahaya pintu, lewati bukit gunung emas sebelah kiri. Tenanglah dengan abadi Elea. ] suara system membuat Elea melupakan wajah Bram yang menggeleng, tanda Bram akan kembali tanpa Elea.


"Tidak Elea! jangan tinggalkan aku, bahkan aku kembali tanpamu. Bagaimana bisa?" pilu Bram berteriak.


"Bram, aku tidak ingat kita berada di bumi lain, tapi kembalilah. Aku harus menyusul ibuku! tenanglah dengan ikhlas Bram! pulanglah." balas Elea dengan penuh senyuman, berlari cepat ikuti cahaya pintu bukit bagai tangga menuju bulan.


Tidaaaak!!


Bram seolah terbawa angin, kilat petir membawa Bram ke dalam suatu tempat bumi semestinya.


***


Yees!


"Kita berhasil..." teriak Alex yang memencet monitor, disampingnya Kristal membuka mata, menoleh ke arah Tuan Reksa dan Damar yang kini berusia remaja.


"Jadi papaku kembali om. Om Alex tidak bohongkan padaku?" ucap Damar, yang bergegas menuju kamar papanya terkunci, selama belasan tahun, mereka menunggu kembalinya Bram Hartanto.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2