Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PERJANJIAN BRAM


__ADS_3

Bram dan Elea saat itu bertemu utusan langit, yakni Oliver dan Kristal yang sudah menunggu dibatas rooftop dengan meja makan hias nuansa private. Dengan tirai putih yang berbentuk awan.


"Maaf aku terlambat." ujar Bram, dan Elea ikut menyapa senyum.


"Hah, manusia sekarang memang sering jam karet. Lama lama mengikuti aturan kebiasaan manusia, aku bisa terus berbohong dan terjerat manipulasi manusia." gumam Kristal, yang saat itu Elea menoleh ke wajah suaminya.


"Maafkan aku! semua karena Bram, menunggu persemian rumah sakit. Banyak pertemuan dan tanda tangan yang sampai saat ini acara belum selesai, jangan marah ya!" sapa Elea, menyentuh tangan Kristal.


"Jadi kita ke intinya saja!"


Tling, jari Oliver menjentikan jari dan sudah ada monumen emas, gunung dan tiga rumah tepat mirip miniatur arsitek sebelum membangun gedung yang di inginkan.


"Tiga bulan aku minta kau sudah buatkan tempat kami yang terkena guncangan rusak, setelah miniatur setinggi 10 sapi yang meninggi, kau bebas dari aturan kami lagi Bram. Maka kami tidak akan menggangu kehidupan kalian lagi."


"Termasuk tiba tiba muncul dan menarikku lagi?" menohok Bram.


"Yes." angguk Oliver.


"Lantas aku minta satu permintaan. Hari, adikku sangat tergila gila dengan seorang wanita, yang aku yakini papa si wanita itu adalah pria yang menyebabkan tragedi kecelakaan mendiang Armanto, jika mereka bersatu. Mustahil hatinya akan remuk, bahkan dia tidak mau menerima sepersen pun uang dariku. Yang itu artinya miliknya juga ada."


"Huuuah, perdebatan manusia lebih merumitkan dibandingkan hancurnya rumah kita, di dunia system." cetus Kristal.


"Aku dan Elea akan terus mengumpulkan emas, dan arsitek terkenal. Agar rumah kalian yang kalian inginkan, bisa sesuai dan di transfer pada dunia system kalian. Jadi aku minta awasi Hari, baik materi dan keselamatannya!" pinta Bram, menambah.


"Ok! Deal." antusias Oliver.


Tling.


Tiba saja sebuah miniatur rumah emas, dan gunung berubah menjadi hidangan lezat. Tentunya si Utusan langit Oliver Kristalion yang mengubahnya dengan satu jentik jarinya. Mereka pun melanjutkan makan bersama dengan perjanjian antara kasat mata dengan bantuan system, dicampur dengan bantuan manusia seperti Bram, yang terpilih.


***


Esok Harinya Di Kampus.


Saat Kristal berbincang dengan si penelfon, nampak gadis itu ingin mengenalkan dirinya dengan seseorang yang dipanggil abang olehnya.


Sayang sekali tepat ketika Kristal Amora hendak menyerahkan ponselnya, Hari dipanggil oleh pihak kampus untuk mempresentasikan perihal penelitian yang dia buat.


Dan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan berkali-kali. Kini Hari akhirnya bisa membuat kesimpulan, jika yang menelfon kala itu adalah Bram atau Elea.

__ADS_1


Bagaimana kini Hari, harus mendefinisikan perasaannya?!


Rasanya sangat sulit untuk melakukan hal itu, tapi daripada semuanya terlambat. Bukankah lebih baik dia mengakhiri segalanya, padahal keduanya belum memulai apa pun.


"Terkadang hidup hanya memberi kita dua pilihan dengan resiko yang sama besar." sambar Lena mendekati Hari.


Seseorang mengejutkan Hari, yang masih mengamati jalanan tempat mobil yang membawa Kristal pergi, setelah Hari melihat Kristal mendapat telepon dan begitu saja pergi tanpa pamit.


"Bukannya kamu sudah pulang bersama Pak Hendru?" tanya Hari, mendapati Lena turut mengamati mobil yang dilihatnya.


"Aku ingin menyaksikan apa yang kamu rencanakan, tapi sepertinya semua tidak berjalan sesuai rencana bukan?" tebak Lena tepat sasaran.


Hari mengangguk, tidak menyangkal tebakan Lena, si gadis yang ia sukai itu kembali menemuinya. Tapi kala itu Hari pamit dan berlalu begitu saja, ia bilang akan menemui temannya karena ada hal penting terkait tugas kampus.


Lena pun terdiam, tak sangka Hari akan menjauh begitu saja.


***


Dan Tiba Hari Menunggu Kristal.


"Apa yang kamu ketahui? sampai membuatmu mengurungkan niat untuk menyatakan cinta pada gadis itu," selidik Kristal yang penasaran.


Hari, melangkah lebih dulu untuk kembali ke asrama universitas dengan Kristal mengekor di belakangnya.


"Kamu tahu nggak alasan lain kenapa aku tidak jadi pulang bareng kakek?" Kristal memberikan teka-teki pada Hari, yang sedang malas main tebak-tebakan.


"Nggak."


"Aaaaish .. kamu ini. Setidaknya jawablah, tapi nggak masalah. Mood aku lagi bagus jadi aku akan memberitahumu secara cuma-cuma. Aku akan bertemu dengan kekasihku, yeay," seru Kristal, dengan semangat. Yang saat itu ia hanya ingin banyak tahu, kesibukan tujuan Hari itu apa.


"Bukannya kalian bertemu hampir setiap bulan?" tanya Hari tidak antusias. Gadis itu terlalu sering menceritakan pertemuannya dengan sang kekasih.


Bahkan jadi mengingatkan Hari dengan Lena, gadis yang ia sukai pergi ketika patah hati pada kakaknya.


Bagusnya lagi, kakeknya tidak mengetahui perihal pertemuan itu. Hari yakin, jika Kristal melakukan lebih dari sekedar bertemu dengan kekasihnya. Saat tanpa sengaja melihat alat kontrasepsi di tas gadis tersebut.


Tetapi Hari, enggan mencampuri urusan orang lain, hanya beberapa kali sempat memberi nasihat pada Kristal agar tidak kebablasan. Karena gadis itu masih terlalu polos untuk ukuran pewaris Konstruksi. Yang kala itu Hari tahu, ia keluarga Hendru. Padahal Hendru sendiri adalah utusan langit bernama Oliver, yang Hari tak tahu dia sedang dibuntuti dengan penyamaran wajah manusia asing bagi Hari.


Kristal memang mengubah beberapa alasan kebiasaan manusia, wanita nakal yang selalu membawa alat alat aneh. Jika bukan karena misinya ingin kembali ke gunung emas, ia tidak mungkin menyamar membantu Bram membuntuti keseharian Hari agar tidak salah jalan.

__ADS_1


"Apa keinginan Mu saat ini Hari?" ujar Kristal.


"Bertemu wanita yang aku sukai, tapi terhalang banyak hal. Beberapa jam lalu aku lihat dia, tapi aku menghindar tak sanggup." balas Hari, membuat Kristal mengerjapkan kedua mata untuk bisa mengabulkan Keinginan besar Hari.


"Temuilah saat ini!"


Tling! Berpindah Tempat, membuat Hari kebingungan.


"Apa aku mimpi, sudah di taman kampus lagi?" gumam Hari.


Di sebuah taman kota tepat ketika senja menyapa, Hari duduk di bangku panjang bersama seorang gadis yang membuat jantungnya berdesir menyenangkan.


Sayang sekali, fakta yang didapati Hari, membuatnya harus menahan diri untuk menyatakan perasaannya.


"Kenapa kamu meninggalkanku sewaktu di kampus?" tanya Lena terpesona dengan gradasi warna senja yang begitu indah.


"Aku ada sedikit urusan," jawab Hari berkilah.


"Apa yang ingin kamu katakan sewaktu kita wisuda kemarin?" tagihnya menatap lurus pada fitur wajah Hari, dari samping. Semburat Lena dari senja membuat wajah pria itu seperti makhluk dunia imajinasi. Pipi merona menghangat, membayangkan Hari berlutut di hadapannya lalu menyatakan cinta.


Kenapa Lena berpikir demikian?!


Sebab gadis itu merasa akhir-akhir ini sikap Hari, mulai sedikit melunak padanya.


"Aku akan melanjutkan studi strata dua ku di sini, sekaligus bekerja di S Konstruksi," ucap Hari tidak sepenuhnya beralasan.


Sebelum mendapatkan fakta bahwa Lena adalah putri dari Tjandra, Hari memang ingin kembali ke tanah air dengan membawanya. Dia bisa bekerja di tanah air, kemudian melamar Lena, setelah mendapatkan uang yang cukup lalu hidup sederhana.


Melupakan fakta dan dendamnya bahwa Tjandra telah merebut kebahagiaan miliknya. Tidak di restui hanya karena Hari, anak yang terbuang dan bukan keluarga Reksa Hartanto si pria berkuasa.


Dia tidak ingin menyiksa dirinya dengan membawa dendam seumur hidupnya.


Tetapi nampaknya, takdir tidak merestui keinginan Hari. Gadis yang dicintai adalah keturunan Tjandra, fakta itu semakin menyakiti. Kenapa kehidupannya tidak bisa lepas dari nama Tjandra? Tjandra sendiri adalah masa lalu kelam, di mana Mang Jaya menceritakan ayahnya Armanto, dibunuh berencana oleh keluarga Tjandra, dengan trik kecelakaan.


Hingga tak sampai hati Hari, menyukai Lena kakak kelasnya, yang kala itu menyukai Bram, tapi ditolak. Terkejut lagi Hari, jika keluarga Lena ada dibalik pembunuhan kecelakaan beberapa tahun silam.


Senyum yang tertarik lebar di bibir Lena perlahan memudar, gadis itu menatap tepat pada mata Hari yang nampak sangat sulit diselami. Tak lama Kristal Amora datang dan menyapa Hari, sehingga tatapan dua wanita itu terdiam membisu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2