Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PROBLEM TEMAN


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Hari yang super membuat klinik system. Mikha yang sudah genap membawa baby Alex delapan bulan, ia berkunjung ke tempat kediaman Osin.


Dimana Osin saat itu terakhir kali resign, dan menikah dengan Eri, asisten suaminya itu. Dimana para suami mereka sedang sibuk akan cabang baru dan project lainnya.


"Mas, aku izin ke rumah Osin ya."


"Baiklah hati hati, sampaikan pada supir agar tidak ngebut!" ujar Hari memperingati.


Dan saat di rumah Osin, dalam beberapa puluh menit mereka sampai. Terlihat sekali Osin bercerita panjang, jika pernikahan dirinya dengan Eri selama ini, terkendala karena Osin pernah keguguran, dan menyebabkan ia sulit hamil.


"Osin, ceritakan padaku! apa masalahmu, siapa tahu aku bisa membantu?"


"Berat Mikha, semua ini karena aku enggak punya anak. Dan dinyatakan tidak bisa mempunyai anak."


Deg.


Terdiam Mikha, yang kala itu menatap intens membawa Osin bercerita di taman halaman belakang, sementara tak jauh putranya Alex di babywalker, dengan sang pengasuh.


"Tarik nafas, ayo lanjutkan cerita!"


"Apa perusahan sun system tidak punya tekhnologi canggih, yang bisa membuat rahim pengganti hanya dengan alat canggih, bukan dengan manusia. Jujur aku ingin anak untuk hidup kami melengkapi!"


"Eh, sun System suamiku itu untuk awet muda, tapi soal itu belum ada gambaran sampai sejauh itu Osin. Tapi ceritakan semuanya, siapa tahu dengan itu kamu lega setelah bercerita, aku bisa membantumu dengan cara lain."


Osin pun menceritakan pada Mikha saat ini, dengan bayangan kesedihan mendalam.


Rasanya Eri saat itu bicara pada Osin kala pertengkaran terjadi, dimana ia ingin menyerah saja pada pernikahan mereka. Ia tak akan sanggup mendua Osin, tetapi Osin selalu mendesak dan tentang bayangan semalam membuat dirinya menjauh, seolah takdir begitu kuat mengikuti keinginan Osin.


Eri yang tak sanggup mengkhianati pernikahan, dan takut tak berlaku adil. Rasanya di dalam hati bercampur ada sedih, terluka dan kecewa atas keinginan istrinya. Bahkan ia tak ingin membenci istrinya hanya karena rahim yang retak pasca operasi beberapa bulan lalu.


Eri berkata semakin berat kala mendengar penjelasan tersebut, memang sedikit membuka mata hatinya, tetapi tentang ke depannya tidak ada yang tahu.


Bahkan, Osin pun yang akan menyiapkan calon istrinya untuk Eri nikahi, tetapi Eri tidak begitu yakin. Karena Eri sangat mencintai istrinya seorang. Hingga pertengkaran itu, Eri mengeluarkan semua emosinya.


Sedangkan di tempat lain, Mikha mendengar keluh Osin yang kini mempunyai usaha kecil kecilan.


"Osin tidak ada yang tidak mungkin, kamu pasti mendapat titik terang, tapi kamu bisa saja mencoba program bayi tabung. Mungkin jika aku bicara pada mas Hari, ia mau membantu karena memang program bayi tabung itu tidak murah kan."


Perbincangan pun berhenti, terkait Mikha sudah berkunjung sangat lama. Sehingga kali ini ia segera pergi menuju butik Bram, yang ia kembali pegang hanya untuk kroscek keadaan dan pembukuan butik.


"See you, aku pulang ya. Lain kali mampir ke mansion, atau telepon aku!"


"Thanks bu bos." senyum Osin di jumpai sahabat sekaligus istri mantan bosnya itu.

__ADS_1


***


Beberapa jam kemudian.


Mikha sudah kembali ke butik untuk meneruskan pekerjaannya, karena ada beberapa deadline yang harus dikerjakan, terutama job baru untuk para pelanggan.


Ia juga sudah membeli beberapa bahan dan warna sesuai diskusi kemarin bersama asisten. Kali ini, ia akan melakukan sendiri, sebab asisten akan absen beberapa hari ke depan untuk cuti pulang kampung.


Mungkin agak sedikit kerepotan, tetapi Mikha mencoba menyelesaikan tepat waktu. Padahal, dirinya ingin sekali bertemu dengan calon klien yang direkomendasikan Siren dari eropa, terkait ia kini berada di ibu kota dan acaranya di gedung ibu kota termewah.


“Permisi, Bu, ini ada beberapa request model permintaan dari pelanggan.”


Mendengar kalimat karyawannya membuat kesibukan Mikha semakin bertambah, yang di depan mata saja belum disentuh dan pekerjaan sudah kembali bertambah. Belum lagi sesekali sang putra bersama pengasuh di ruangannya sedang ikut dengannya, beruntung Alex si balita itu anteng saja.


“Kapan deadline nya?” tanya Mikha sembari tangannya bergulat di atas kertas kosong.


“Minggu depan mereka minta sudah selesai, Bu, karena untuk dipakai di acara tasyakuran kelahiran bayinya dan acara meriah di gedung ini, dengan seusai tema dekor harus sedikit mirip terutama warna dan hiasan agar senada.”


Ucapan karyawan tersebut membuat aktivitas Mikha terhenti. Mendengar seorang bayi, hatinya terenyuh sensitif teringat Osin, sehingga Mikha menoleh ke arah bayi mungilnya yang harus ia jaga, tak mudah di luar sana mempunyai anak dengan diberikan cepat.


Namun, Mikha jadi mengingat siapa Osin dan kalimat dokter memperjelas keadaan Osin, jika Osin tak mampu berbuat banyak selain meminta walau sangat kecil kemungkinan. Osin juga tak akan goyah untuk membuat suaminya memiliki keturunan dengan cara menikah lagi.


'Nasib malang Osin, kenapa dia bisa sejauh itu menyuruh Eri menikah lagi ya.' benak Mikha merinding.


“Ibu Mikha.” Sang karyawan memanggil lembut atasannya.


Seketika Mikha tersadar. “Ah, iya maaf. Ada lagi?”


“Maaf, Bu, ponsel Ibu berdering sedari tadi. Kalo gitu saya permisi, Bu,” kata sang karyawan yang sepertinya telah menyinggung perasaannya.


Mikha merutuk, perkara bayi membuat pikirannya tak fokus dan hampir teledor di depan karyawannya sendiri, itu karena curhatan Osin padanya beberapa jam lalu.


Ah, bodoh seketika Mikha menatap layar ponsel yang tersemat pesan singkat di layar. Matanya mengernyit membaca kalimat singkat dari suaminya.


Setelah mendapat pesan singkat dari mas Hari, Mikha langsung bergegas pulang. Entah apa yang ingin dia lakukan. Pasalnya, dia tidak pernah meminta pulang secepatnya.


Namun, sebelum itu ia mampir ke toko roti sejenak untuk membawakan roti pizza pesanan mas Hari. Sebenarnya, Mas Hari meminta Mikha nanti malam untuk buatkan, tetapi dirinya belum sempat sehingga meminta di toko roti.


Sampai Rumah.


“Selamat sore, bidadariku. Oh bayi mungilku." kecup Hari kala itu menyambut, dan diberikan pada pengasuh bayi Alex untuk dibersihkan ganti baju segala hal.


Mikha mengernyit, tumben sekali suaminya menyambut romantis seperti itu. Bahkan raut wajahnya terlihat bahagia.

__ADS_1


“Hmm, Mas Hari aku tadi mampir ke butik Om Bram. Maaf jika sedikit lama." Mikha ragu memanggilnya bahkan beberapa bawaan sudah berpindah di tangan suaminya itu.


"Tidak seharusnya Mas melakukan ini.”


Hari menggeleng. “Nggak apa, Sayang, kamu juga pasti capek karena keluarga kita ini banyak sekali usaha macam macam. Selagi Mas pulang cepat dan tidak ada salahnya memanjakan istri sendiri. Cup! lagi pula mas sedang meminta asisten terpercaya untuk kamu tidak lelah, jadi sekali dua kali aja mengecek butik.”


Bahkan, pria itu sudah mendaratkan bibirnya singkat di pipi. Beruntungnya tidak ada pengasuh yang membawa bayinya saat ini dimana mereka sedang intim, sudah dipastikan akan malu nantinya.


Bukan tak biasa, dia memang selalu romantis. Namun, halnya aneh saja. Biasanya Mikha yang melakukan itu kepada suaminya dan berbanding terbalik seperti ini agak tak tahu diri kelihatannya.


“Maafkan aku yang selalu sibuk di butik, Mas.” ucapan Mikha terlontar penuh salah.


"Semua ini karena kakak Bram yang memberikan aset, sehingga kamu tetap mengurusnya juga sayang. Maaf jika kamu harus terlibat banyak usaha keluarga ini."


"Sudah seharusnya kan mas."


Seharusnya, ia memang di rumah cukup merawat suami dan Alex saja.


"Mikha sayang .. kok diam?" Sapa sang suami, membuat lamunan Hari kembali sadar.


“Mas sudah makan belum, biar Mikha siapkan.”


"Ada yang kamu pikirkan sayang, ceritalah!"


Mikha dan Hari, sudah berada di kamar bersama suaminya. Terlihat sang bayi telah ia gendong setelah dibersihkan oleh sang pengasuh, dimana bayi Alex telah berada di kasur bos raksasa, di ruangan sekat satu kamar.


"Osin dan Eri, mereka tidak bisa punya anak. Apakah perusahaan mas Hari, meluncurkan rahim buatan dengan robot canggih, atau alat system yang bisa membuat kesuburan wanita kembali, setelah pasca operasi pengangkatan rahim."


Deg.


Terdiam Hari Hartanto saat itu juga, membuat ia berfikir sejenak, untuk apa yang akan ia lakukan dengan cabang baru yang kata sang istri sangat membuatnya punya ide.


"Tekhnologi seperti itu tidak ada, tapi sepertinya mas akan coba beberapa system baru, dan itu akan memakan banyak biaya. Biarlah urusan mereka kita singkirkan, cari solusi lain. Saat ini, ayo bersiap malam ini kita ke eropa, mengelilingi dunia. Karena ini adalah hari jadi pernikahan kita yang masih hangat. Sambil memikirkan cara rahim subur dengan bantuan system, tentunya mas harus bekerja sama dengan para dokter."


Mikha dan Hari yang telah bersiap dalam beberapa jam, ia segera menuju bandara. Bersama bayi mungil berusia delapan bulan, ia melambai tangan pada Readers sampai jumpa di season berikutnya.


Kisah Keluarga Hartanto, dari Bram .. Hari .. Damar sudah berakhir happy ending, dengan kekayaan unlimited.


End ..


Pantengin bonchap nya, akan ada yang baru, untuk novel karya terbaru Author.


Mungkin Berjudul.

__ADS_1


#MENANTU KECIL SEPERTI DEWA


__ADS_2