Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 BERSIKAP LUCU


__ADS_3

Meninggalkan beberapa aplikasi sistem lukisan, yang disambung ke face wajah Damar. Setelah selesai ia segera ke kamar menemui istrinya.


"Hubby, kejutan apalagi ini, apakah cara memanjakan istrimu seperti ini, agar aku tidak berpaling?"


Siren, menyusuri perlahan ke arah kamar sebelah, setelah ia meminum susu seteguk gelas, mencuci wajahnya dan menumpahkan satu dua tetes skincare agar wajahnya fresh.


Cekrek. Pintu pun dibuka.


Terlihat bungkusan besar coklat dan kotak merah, terlihat di meja ruangan kamar kedua.


Perlahan membuka pita merah kecil, ia melihat sebuah cincin dan gelang yang cantik.


"Sayang semoga kamu menyukainya, bukalah dan lihatlah kejutan besar berikutnya!"


Siren membuka pita besar itu, dan merobek perlahan kertas coklat itu, Hingga terkejut dengan mata berbinar binar.


"Apa kamu menyukainya sayang?"


Lirih Damar, yang masih bertelanjang dengan handuk kecil dilehernya saja menempel, dan menghampiri Istrinya.


"Hubby, ini lukisan pertama kali kita project bareng kamu buat kan? Aku tahu, bukankah saat itu aku bekerja di museum yang didirikan oleh mendiang ibumu, hingga kita berpisah dan aku tidak sangka, selama itu kamu memperjuangkan hubungan kita."


"Iya sayang, kamu ingat buku remaja karya kita judulnya, saat perusahaan Dady Bram dimulai, aku masih sangat belia. Menghilang dan sekian lama, aku baru tahu jika kamu menjaga dirimu, tidak dekat dengan pria manapun."


"Yap, aku mengingatnya hubby, kamu selipkan gambar sketsa itu dan di tulis di buku itu kan?"


"Good, sayang kamu mengingatnya. Dan ini adalah dua tahun hari jadi lukisan dan buku itu meledak, tepat ditanggal hari ini, kamu tahu aku memajang lukisan ini di luar negri saat kita jarak jauh, banyak menyukai hasil karyaku ini, semua itu karena kamu sayang."


"Bukankah ini saat aku, meneguk coffe hangat, baju pink rajutan ini, ah saat kamu tenggelam dan membeli pakaian dadakan di butik saat itu?"


"Heumph, ia sayang benar sekali, terimakasih ya, sudah hadir selalu mengisi kehidupan berwarna."


"Terimakasih sudah mengagumi berlebih tuan tampan." Siren mencubit pipi gemas Damar.


Siren membalikkan badan ke tatapan suaminya, Damar memakaikan gelang dan cincin hadiah kecil, Siren terpana dan mengecup bibir suaminya dengan lembut memulai.


Damar hanya tersenyum karena kini istrinya lebih agresif dari sebelumnya. Sudah tak bisa dipungkiri apa yang terjadi saat itu, ketika Damar merangkul pinggang dan menaiki satu kaki Siren, menyambut memeluk pundak tungku leher Damar.


Beberapa Jam Kemudian, chat berantai di ponsel Siren.


Siren, sore ini ada waktu gak? Kara.


Kara ayo ketemuan apa kah dokter Kara akan datang? tambah Mikha.


Kenapa Mikha, ada masalah?


Siren, please bantu aku soal tuan Daru!


Ada apa Mikha?


Ga bisa dijelaskan, aku terjebak ucapan. Nanti aku jelasin saat ketemu!


Baiklah Mikha, aku sempatkan aku akan kabarkan siang nanti, share lock ya. Aku akan ijin pada Damar lebih dulu, aku kabarkan nanti!

__ADS_1


Ya, Mikha ada apa?


Share lock sayang. Aku akan hadir! ucap Kara.


Ah, thanks dokter sekarang banyak waktu ya, semenjak mau tunangan?!


Sudah jangan mengacau mood, atau aku akan terlambat datang tak mendengar curhatmu. Hanya datang untuk makanan!


Hiks, sobatku ini sekarang pandai mengancam!


Pesan chat group itu, membuat Siren senyum senyum sendiri, di sudut lain seorang pria memandang dengan menggelengkan kepalanya.


"Ayo sayang, sarapan mu sudah aku siapkan!"


"Terimakasih hubby."


"Sayang, apa rencana mu hari ini libur, apa kita akan di rumah saja. Atau kamu ingin pergi ke suatu tempat?"


"Hubby, sebenarnya aku mau izin ke cafe yang di share lock Mikha .. Tapi apa kamu mengizinkan?"


"Tentu saja, kenapa tidak."


Dengan suapan daging besar Damar melahap, dan Siren menunjukan percakapan group pada Damar sebagai pertimbangan.


Eum ..


Damar mengelap dengan tissue saat terlihat ada nama Daru.


"Hubby, please kamu tahu kamu percaya padaku, Mikha hanya akan bertukar pendapat. Jika kamu sebal padanya, kata pepatah mengatakan istri yang hamil, jika sepasang itu membenci seseorang, bayinya akan terlihat mirip pada yang dibencinya. Apa kamu ingin anak kita mirip orang lain hubby?"


"Ah, benarkah seperti itu, pasti tidak masuk akal, benih itu milik ku, mengapa bisa jadi mirip orang lain sayang?"


Damar menatap istrinya yang sedang melahap buah pisang, ingin sekali tak peduli akan perkataan istrinya.


"Baiklah aku mengizinkan."


"Makasih hubby." senyum Siren.


"Bagaimana soal di korea sayang?"


"Akan di handle Mikha, hubby, owh tidak jangan jangan ini ada hubungannya dengan acara pak Kenan di korea, melibatkan aku dan Mikha waktu itu, tapi Mikha menghandlenya sedikit sulit."


"Sudahlah sayang, semoga hasilnya baik baik saja."


Pagi hari mereka masih habiskan bersama. Di hari libur, sedang Siren ada janji di jam empat sore nanti.


"Seperti ini sayang, angkat sedikit, tarik dan lepas ... oke seperti itu ulangi lagi!"


"Baiklah, terimakasih hubby."


Damar menggenggam tangan Siren, melatih olahraga menusuk anak panah pada bulatan dinding yang dituju.


Setelah itu Damar menemani pemanasan untuk olahraga yoga, dan senam ibu hamil yang ringan.

__ADS_1


"Hubby, kamu ganti celana itu ketat sekali!"


"Apa ada yang salah, aku sama padamu sayang kita sedang yoga."


"Tapi kamu memakai celana legging ku. Bagaimana jika nanti melar dan itu tidak bagus ketika aku pakai lagi akan bergelambir diterpa angin."


"Kenapa tidak bagus sayang?"


"Kamu masih ingin tanya?" ujar Siren, menatap arah bawah.


Damar menatap bagian kepunyaannya yang menonjol jelas. Meski legging itu hitam, jika Siren tak protes menunjuknya. Ia pasti malu kelak jika senam yoga hamil ini diberikan kelas hamil di rumah.


Bagaimana bisa, bagus saja aku lakukan di rumah dan berlatih karena pelatih senam sedang libur.


"Hubby, kamu membuat aku malu jika ada pelatih datang."


"Celana ini terlalu nyaman, jadi aku tidak sadar jika membuatnya menonjol." tawa renyah, membuat Siren mengedipkan mata syok.


"Sudah ayo ganti, please hubby! aku risih atau aku akan menggenggam itu mu."


"Tidak sayang, baiklah aku akan ganti."


Damar menurut jika istrinya tidak sedang hamil, ia pasti sudah menghukumnya nikmat. Hingga istrinya itu meminta ampun.


"Aku seperti ini rendah dimata istriku terlalu bucin, karena takut calon anakku terjadi sesuatu." gumamnya.


Siren masih rileks dengan bola hamil ia duduk bergoyang, Lalu menatap suaminya hanya memandangnya dengan boxer dan singlet putih kaos tanpa lengan itu.


"Siren, Damar. Kalian dimana?" teriak lembut dady Bram.


"Aku disini Dad, diruang gym Damar."


Terlihat antusias Dady Bram, menghampiri Damar dan Siren.


"Lihatlah lah Dady membawa sesuatu untuk kalian, loh tapi Damar kamu, kenapa pakai celana boxer, tapi dalaman celana ketat apa itu legging istrimu?"


Siren tertawa, akan suaminya yang mengenakan celana legging, tapi begitu disindir, ia mulai mencari boxer baru.


Bagaimana tidak lucu seorang pria memakai celana legging wanita, dan ditutupi boxer mickey mouse kuning cerah nan kecil miliknya.


"Ya sudahlah, Damar memang aneh saat memilikimu Siren." ketus Bram, yang membuat Damar diam dengan mata membola.


"Damar, pastikan sistem lukisan yang di buka di gerai, kamu tidak memakai kostum itu. Akan malu wajah Papa nanti." ucap Bram, membuat Damar terdiam, ketika menatap istrinya seolah menahan tawa.


"Hubby, sudahlah ayo ganti. Kamu bisa lihat cermin, aneh saja seorang Damar memakai celana legging istrinya dan singlet. Kamu tidak malu ya?" bisik manja.


Benar saja saat melewati cermin, Damar syok melihat dirinya sendiri.


"Sayang, setelah aku antar ke cafe. Aku harus ke gerai lukisan. Doakan semua lukisan terlelang dengan sempurna."


"Iya pasti hubby."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2