Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KELUARKAN MEREKA


__ADS_3

Namanya adalah Carry. Hanya Carry saja, tidak ada kelanjutannya. Unjuk Alex mengenalkan ketuanya.


Bram sedikitnya tahu tentang Carry ini. Pada kehidupan pertamanya, Carry begitu ditakuti karena telah berhasil mendirikan Kelompok Organisasi yang cukup besar. Bram juga pernah berhadapan dengan anggota Organisasi ini beberapa kali, saat itu Olive menjelaskan di akhir ia akan menemukan sesuatu yang mencengangkan.


Namun, sejauh itu juga, Bram tidak pernah mengetahui wujud asli dari Ketua mereka yang bernama Carry itu dan ternyata begitulah bentuknya. Ada di depan matanya sekarang.


Setiap mengingat kejadian masa lalu, Bram rasanya ingin tertawa terus, tapi ditahannya agar tidak terkena omel dari Alex.


"Hei, anak baru! Bangun kamu!" perintah Carry yang ditunjukkan untuk anggota barunya itu.


Bram buru-buru bangun, berdiri sejajar dengan Carry. Tubuh pria ini gagah, besar dan tinggi. Berbeda dengan dirinya yang kulit berbalut tulang karena pola makan yang masih belum teratur.


"Diriku memiliki tugas untukmu," kata Carry menunjuk Bram, yang saat itu Bram sedang mencari cara.


"Tugas untukku, secepat itu?"


"Alex!" Carry tidak menjawab, tetapi dirinya memberikan isyarat pada Carry untuk Bram diam.


"Masih berani kau melawan perkataan, Bos!" erangnya sambil menggerakkan gigihnya, lalu melingkarkan tangannya pada leher Bram.


"Iya ... Iya,, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk menghina ketua!" gumam Bram sambil menunduk. Mana berani dirinya mendongak bukan karena takut, sedang menahan diri untuk tidak tertawa.


"Tugasmu adalah menjaga wanita yang ada di penjara itu," kata Carry sambil membuang pandangannya ke sisi kanan.


Bram mengangkat kepalanya, memutar sebagian badannya, dilihatnya ke belakang.


'Wanita? Jangan-jangan wanita yang duduk sendiri itu?' batinnya menerka-nerka. Dirinya memiliki firasat kuat akan wanita itu. Ia tidak asing bagi Bram. Namun, siapa ia, pemuda itu tidak mengetahuinya?


"Tugasmu mengawasi wanita itu 24 jam. Pastikan ia makan dan minum dengan benar. Jangan biarkan ia berbicara dengan tahanan lain atau keluar dari sana. Mengerti!" gertaknya kemudian.


Bram mengangguk cepat, "Siap, Bos! Saya mengerti!"


Dia memasang tubuh sigap, layaknya tentara yang sedang berhadapan dengan atasannya. Tidak lupa tangan diletakkan di ujung pelipis, sebagai tanpa hormatnya pada Carry. Pria kerdil yang membuat dirinya ingin selalu tertawa.


"Bagus kalau dirimu mengerti." Carry memberi isyarat pada Alex untuk menggendongnya di bahu.


Carry duduk berjongkok di depan Alex Tubuhnya yang tinggi besar, tentunya akan sulit untuk dinaiki oleh Carry yang bertubuh kerdil itu.

__ADS_1


Alex sudah berdiri kembali dengan Carry di atas bahunya. Melihat kedua pria yang berbeda dari segi usia dan ukuran tubuh itu, membuat Bram ingin tertawa terbahak-bahak. Namun, lagi dan lagi dirinya harus menahannya demi nyawa satu-satunya itu.


"Ingat! Jaga wanita itu baik-baik. Dia adalah harta berharga bagi Kampak Merah. Paham!" gertak Carry di atas bahu Alex.


Bram sedikit tersentak, mengangkat kepalanya untuk menatap manik hitam legam pria kerdil itu. "Ketua tenang saja. Saya akan mengawasi wanita itu dengan sebaik mungkin. Ketua tidak perlu khawatir tentang wanita itu, dia akan aman di bawah pengawasan saya."


Dia memasang senyuman sebaik mungkin untuk mendapatkan kepercayaan Carry sepenuhnya. Dengan begitu dirinya akan mudah melumpuhkan si kerdil itu.


Carry tak menanggapi lebih lanjut. "Cepat, jalan!" Dia memerintahkan Alex untuk jalan.


Kedua pria beda segala-galanya itu akhirnya pergi juga. Bram ngelongok ke belakangnya, memastikan kalau Carry dan Alex sudah pergi.


Bukan hanya keduanya saja yang pergi, tapi anak buah Carry, juga ikut menyusul karena Carry yang memerintahkan untuk pergi.


"Hufh ... Mereka pergi juga akhirnya. Dengan begitu aku sendirian di sini. Hahahaha."


Setelah menahannya dengan bersusah payah tadi, akhirnya Bram bisa melepaskan semua hal lucu itu. Dia tertawa terbahak-bahak, saking senangnya sampai terpingkal-pingkal.


Kalau saja bukan karena si kerdil adalah pemimpin di sini, maka sudah sejak tadi dirinya tertawa. Menahan tertawa nyatanya lebih menyakitkan daripada menahan ingin buang air kecil.


Segera dia merapikan pakaiannya yang masih berlumur darah akibat duel beberapa saat lalu. Kalau bukan karena pertarungan, mungkin pakaiannya tidak akan ada bercak noda seperti ini.


"Haruskah aku datang dengan penampilan kayak gini?" Bram cukup kurang percaya diri lantaran bercak darahnya terlalu banyak. Padahal itu bukanlah darah miliknya, tetapi darah dari lawan-lawan yang berhasil dirinya lumpuhkan di arena tanding tadi.


Mengingatnya kembali, membuat Bram ingin terus-terusan memuji dirinya, tapi masih ada hal yang perlu diawasinya.


Bram berlari dari ruangan tempat si kerdil itu berada, menuju penjara yang terdapat seorang wanita di dalamnya, seperti yang Carry perintahkan.


"Nona!" Bram memanggil.


Namun, wanita itu bergeming, bahkan terlihat sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.


"Bagaimana caraku menyapanya?" batin Bram, seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sepasang bola mata itu memutar seirama dengan isi kepalanya yang sedang mencari cara untuk mengajak bicara wanita itu.


"Halo. Perkenalkan namaku Bram Hartanto, panggil saja Bram. Siapa namamu?" tanyanya yang nekad mengajak berkenalan wanita itu, walau sebenarnya Carry melarang orang luar berbicara dengan wanita itu.

__ADS_1


"Ah, aku tidak peduli. Si kerdil itu bilang, jangan ada orang luar yang mengajaknya bicara," ulangnya mengingat setiap perkataan Carry.


"Orang luar?"


Bram memikirkan ulang perkataan Carry itu.


"Berarti orang yang bahkan berasal dari Organisasi Kampak Merah begitukah? Artinya, aku masih bisa mengajaknya bicara kalau begitu?"


Dia menunjukkan tawa horornya yang sengaja suaranya dikeraskan, agar wanita itu dapat mendengarnya.


Pemuda kepala plontos itu melirik ke dalam penjara, meskipun sudah tertawa sangat keras, tetap saja wanita itu tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya.


"Apa dia sudah tuli? Bisu? Atau jangan-jangan ... Dia sudah mati? Jadi, sekarang yang aku ajak bicara adalah mayat?"


Bola mata itu melihat ke dalam penjara. Perasaan takut dan bulu kuduk berdiri, datang begitu saja tanpa permisi dulu.


Dirinya juga jadi ingat ucapan si kerdil, yang mengatakan kalau wanita ini sangat berharga bagi Kampak Merah."Jangan-jangan benar ia sudah meninggal dunia, kalau saja masih bernapas pasti akan menggerakkan organ tubuhnya?"


Ketika Bram, sedang bergelut dengan pikirannya, mendadak terdengar suara orang kedua.


"Aku belum mati, bodoh!"


Bola mata itu hendak copot dari tempatnya.


"Apa kau yang berbicara tadi?" tanya Bram bingung.


"Iya ... Kalau itu suaraku, Tuan ingin apa? Apakah Tuan ingin membunuhku, seperti yang lainnya?" gertak wanita itu sedikit meninggikan intonasi suaranya.


"Tidak ... Aku datang kemari bukan untuk membunuh dirimu atau yang lainnya. Aku ke sini untuk menyelamatkan kalian semua dari jerat Kampak Merah." ujar Bram.


Tak lama Olive berbicara tanpa wujud, yang Bram pikir ia sudah pergi.


'Selamatkan mereka, ruang bawah tanah. Kau geser dinding cangkul besi, tanpa banyak tanya Bram! Cepatlah, bantu mereka keluar dari sini.' bisikan Olive, lantang di telinga kanan Bram, hingga Bram memekik telinganya sebelah. Dan membuat tahanan penjara lain melihat Bram aneh.


Bram kira Olive sudah hilang lagi, nyatanya ia masih menempel di diri Bram mengawasi dan membantunya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2