
Selamat pagi semuanya! Bapak mengenalkan hari pertama kali ini, semoga kita lancar dan kedepannya kalian bisa tertib di setiap mata pelajaran yang bapak berikan! Jika kalian kesulitan tidak mengerti. Bisa tanya langsung satu persatu! Jelas Bram dengan penuh pesona wibawanya.
Bram telah menyelesaikan tugasnya sebagai guru untuk hari ini. Biarpun sempat hening dan saling diam hampir tiga puluh menit, tapi pada akhirnya Bram berhasil memberikan materi pembelajaran untuk anak didiknya.
Tidak ada pengalaman dalam hal mengajar, terlebih lagi dirinya hanya lulusan SMA, membuat Bram sedikit kesulitan untuk beradaptasi. Namun, lambat laut dirinya berhasil menekan rasa takut itu. Apa yang dipikirkan, ternyata tidak sepenuhnya terbukti benar.
Bukan pelajaran Matematika, IPA, IPS atau Sejarah yang Bram bagikan pada murid-muridnya, tapi pelajaran prakarya dengan anime 3 bahasa menggambarkanlah yang Bram ajarkan, karena sesungguhnya dia memiliki hobi menggambar.
Pada awalnya dia berpikir untuk mengajarkan pelajaran bela diri pada murid-muridnya karena dirinya memiliki pengalaman dalam hal bela diri karate dan Wushu, tapi diurungkan niatnya itu.
Informasi yang diterimanya dari rekan-rekan guru lainnya, bela diri sangat tidak diajarkan di sekolah tersebut.
Biarpun mereka tidak menjelaskan detailnya, tapi Bram sedikitnya bisa menangkap alasan dibalik pelarangan ilmu bela diri ditiadakan di sekolah.
Mereka hanya takut kalau bela diri akan membuat murid-murid berlagak sombong dan melakukan kekerasan terhadap murid yang lemah. Hal terburuknya iyalah, terjadinya tawuran saat merasa paling hebat.
Setidaknya itulah yang Bram pikirkan, tapi alasan lebih jelasnya dirinya tidak ingin mempertanyakannya lagi.
Pukul 2 siang, Bram telah meninggalkan sekolah. Pada kesempatan kali ini, dirinya tidak bertemu Olive si utusan langit.
Entah di mana pria Utusan Langit itu berada sekarang dan apa yang sedang ia lakukan di sana, sampai-sampai tidak muncul? Pikir Bram heran.
Dirinya tak lagi memedulikan keberadaan Bram, sekarang dirinya telah meninggalkan area sekolah dengan berjalan kaki. Saat langkahnya sampai di ujung gang, Bram buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi karena suatu hal telah mengganggu pandangannya.
Tidak ada tembok, tiang listrik pun jadi, setidaknya sebagian tubuh bisa disembunyikan dari luar.
__ADS_1
"Apa yang sedang mereka lakukan pada anak itu?" tanya Bram terheran-heran, melihat seorang murid laki-laki yang masih berseragam sekolah, tengah diganggu oleh beberapa orang dewasa, sekitar tiga pria bertubuh gagah dan berjenggot tebal, mengepung murid tersebut.
Dikarenakan jarak yang terbilang jauh, Bram pun tidak mampu mendengar pembicaraan mereka. Namun, dari yang terlihat, murid tersebut seperti sedang dirundung oleh ketiga pria berjenggot di sana.
Pandangan Bram tidak bisa lepas dari murid itu. Dilihatnya dengan seksama bagaimana salah satu pria dari mereka memukul kepala murid itu dengan keras, si remaja laki-laki tampak jelas telah memohon ampun. Kedua tangannya digosok-gosok tanda meminta pengampunan.
Namun, pria berjenggot itu malah terus memukulinya. Hati nurani Bram pun meronta-ronta melihat ketidakadilan dan kekerasan terjadi di depan matanya. Dirinya hendak pergi dari sana. Akan tetapi, diurungkan niatnya tersebut, mengingat dirinya sama sekali tidak mengenal mereka.
Bram melihat area sekitarnya yang memang sangat sepi, terbilang tidak ada manusia yang berlalu lalang di sini.
Ketiga pria itu terus merundung remaja laki-laki di sana sili berganti. Mereka melakukannya di sebuah toko yang jika dilihat dari bentuk bangunannya sudah tidak terpakai lagi, sebab warna cat pada temboknya sudah kusam, layaknya wajah manusia yang habis terkena paparan sinar matahari.
Beberapa menit berselang. Murid laki-laki yang wajahnya sudah babak belur itu beringsut dari duduknya. Dengan langkah tergopoh-gopoh, ia pun pergi dari sana, sambil memegangi pipinya yang bengkak dan darah segar mengalir dari tepi bibirnya. Tapi terdiam kala kakinya tak lagi bisa berjalan, dalam hitungan lima langkah.
Bram yang sudah menunggu momentum ini pun hendak mengejar murid laki-laki yang entah siapa namanya itu? Dirinya ingin mencari tahu alasan kenapa ketiga pria berjenggot itu memukulinya.
Kali ini apa lagi? Setelah satu murid laki-laki pergi, datang remaja lainnya yang juga masih memakai seragam sekolah.
"Sekarang apa yang terjadi di sana?"
Rasa penasarannya bukan menghilang, malah semakin memuncak, terutama saat dirinya mendapati murid laki-laki itu terlihat pucat pasif, seperti seseorang yang kehabisan darah.
Bram sangat menyayangkan karena tidak bisa mendengar apa pun yang terjadi di sana.
Sekarang bukan matanya saja yang melebar, mulut yang menganga, tapi tangannya juga ikut geram.
__ADS_1
Dilihatnya terus murid laki-laki berseragam putih biru itu. Sementara ketiga pria berjenggot tebal itu sedang tertawa terbahak-bahak.
Bram tidak memfokuskan dirinya pada ketiga orang dewasa itu, tapi sudut pandangnya terus mengarah pada anak laki-laki itu yang kini duduk tersungkur.
Dari yang dilihatnya, tubuh kecil itu bergetar hebat, tangan dan bibirnya terlihat pucat pasif. Bola matanya juga sayup, sudah seperti orang kritis.
Bram sedikitnya bisa membaca gerak bibir remaja laki-laki itu yang seolah-olah sedang memohon, meminta sesuatu yang entah apa itu?
Pada menit berikutnya, setelah puas tertawa di atas penderitaan murid laki-laki itu, salah satu pria berjenggot dan tubuhnya agak gempal itu, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Saat benda itu keluar, seketika Bram membulatkan matanya, "Barang haram!" Dirinya langsung mengenali benda yang berupa bubuk putih tersebut dalam sekali lihat.
Bram, mengenali benda tersebut dengan sangat baik. Matanya tidak akan pernah salah lihat. Kesimpulannya tiga pria itu merundung untuk mencekoki beberapa murid yang lemah, salah satunya adalah murid di sekolahnya.
Tidak menunggu lama, Bram cekat menghampiri salah satu pundak pria berjenggot, bukan main saat menempel tangannya. Pria itu bagai kesengat listrik dan gosong, diikuti kedua pria lain yang memegang tangan temannya.
Bram melepas, ia ikut syok ketika tiga pria berjenggot tua dan telah berbau busuk sudah gosong, Bram menatap tangannya tapi ia sendiri tidak merasakan panas.
Tlith!
[ Selamat Bram misi menghilangkan orang jahat berhasil! 30 poin .. Loading! Setiap misimu, 30 juta dollar sudah masuk rekening! ] pesan system.
Bram masih tak percaya, ia langsung menghubungi seseorang dan selanjutnya mendekati siswa yang syok akan melihat Bram menolongnya dengan hal tak biasa.
"Siapa namamu, anak kaseup? Jangan takut, aku adalah guru bahasa! Aku bukan orang jahat." ucap Bram.
__ADS_1
Tbc.