Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DI BANDINGKAN


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian.


Hari pulang, dan setelah semua membaik. Terlihat keluarga Hartanto kali ini lengkap, dengan tambahnya Elea sang menantu. Dan sebagai kakak ipar Hari. Di keluarga Hartanto kali ini, terlihat lengkap dan ramai.


Dan saat di ruang meja makan, setelah makan malam hampir habis. Reksa melempar satu buah kertas, membuat Elea dan Bram terdiam, membulatkan matanya.


"Kau, akan jadi anak seperti apa. Bar milik keluarga telah hancur, lalu usaha yang didirikan kakakmu. Kenapa bermasalah, tidakkah kau putar untuk memilih klien, kenapa harus Ryan, dari keluarga mantan supir yang angkuh itu..?"


"Pah! Sudahlah, Bram dan Elea sedang mengurusnya juga. Lagi pula, bukan salah Hari juga. Dan yang bermasalah disini adalah anak anak dari tuan Harta, Bram memaklumi kok. Luka Hari, dan Hari juga sudah berusaha kok pah." bela Bram.


"Semua memang salah aku kok! Jadi apapun yang aku lakukan, papa selalu menyalahkan Hari!" ujarnya, memundurkan kursi dan pergi.


Bram dan Elea ikut menunduk, sehingga kala itu terlihat Inggrid mengejar putranya. Akan tetapi ditahan oleh Reksa, agar melanjutkan makan hingga habis. Suasana pun sedikit tegang, Elea juga terlihat menyabarkan Bram. Benak Elea, rada rumit ketika tinggal bersama mertuanya yang terlihat tegas dan harus perfect.


Beberapa Jam Kemudian, Inggrid terlihat mengekor putranya yang akan pergi, tapi ia bilang sedang menunggu temannya. Terlihat Inggrid membujuk beberapa kali Hari, agar tidak memasukan hati perkataan ayahnya.


"Nak, jangan pulang terlalu larut. Kita akan makan malam bersama kolega ayah," pesan sang Inggrid, mengingatkan, Hari Hartanto agar segera pulang, jika ia akan pergi.


Bukan hal aneh jika calon pewaris sah CF Corp. Bersikap angkuh dan seenaknya, terlebih dia masih dalam masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Apalagi di saat tuan Reksa, menuduh Hari tidak sepintar Bram.


Remaja berusia dua puluh tiga tahun itu, sudah berada di tahun terakhir universitas akhir.


Tidak akan ada yang menyangkal jika pemuda itu, sudah setara dengan playboy kelas atas. Perawakannya yang tinggi dan paras rupawan membuatnya bisa berganti kekasih bagaikan berganti pakaian. Akan tetapi karena kesalahan mengurus pt corp gold milik sang kakak, membuat dirinya direndahkan dan di salahkan karena tidak becus memegang usaha amanah yang harus semakin sukses.

__ADS_1


"Iya, Mah." Bersamaan dengan jawaban dilontarkan, Hari menstarter motor untuk ikut balapan liar di jalanan.


Inggrid, selaku wanita yang melahirkan Hari hanya mampu menghela nafas, berharap agar sang putra pulang dalam keadaan selamat.


Di balik tembok, Bram, kakak Hari, menguping pembicaraan ibu dan adiknya itu.


Sekian lama Hari tinggal di rumah kediaman papanya, Hari menjadi anak Tuan Reksa dan Inggrid. Hari menjadi selalu iri dengan Bram yang bisa melakukan segala hal semaunya. Hari, merasa keberadaan Bram diakui, setelah apa yang dicapainya.


Tidak ingin mendapat perlakuan sama, Hari memilih belajar dan bekerja keras untuk mendapat pengakuan dari sang ayah, agar ia tetap sama si seperti Bram, anak laki laki pewaris yang semestinya diakui juga.


Nampaknya, Inggrid tahu mengenai rencananya. Sehingga berusaha membuat Hari dan Bram lebih dekat. Kesalahan Inggrid yang memaksa Hari sesuai keinginannnya, dan memaksa merebut apa yang menjadi milik Bram, menjadi milik putranya. Membuat usaha Bram, sedikit kacau karena adanya kolega curang.


Tapi setelah itu, Inggrid sadar. Kala ia mengakui kesalahannya pada Reksa Hartanto, dan hal itu juga membuat Inggrid tidak dicerai, hingga saat ini Inggrid berusaha menjadi ibu sekaligus mertua yang baik. Apalagi ia malu setelah Bram, kabur karenanya dan sukses mempunyai nama terkuat seperti suaminya.


"Kamu sedang apa, sayang?" tanya Inggrid dengan senyum manis, berpura-pura tidak tahu jika anak tirinya di jarak jauh, itu menguping dirinya dan Hari.


"Ayo makan sama Mama, bibi tadi masak semur ayam kesukaan kamu," ajak Inggrid, berusaha tetap bersikap baik meski dia tahu jika anaknya itu memiliki niat buruk.


Bram yang sudah kenyang, mau tidak mau dia mengekor Inggrid, menuju ruang makan kedua. Ia hanya ingin tahu, dari jarak sedikit jauh. Ada masalah apa antara ibu dan adiknya itu. Apalagi setelah pulang dari Ring Tinju, Hari terlihat menjauh dan malas menjawab pertanyaannya. Belum lagi, lontaran di meja makan keluarga sang papa terlihat memarahi adiknya itu.


Hingga Bram, melihat aksi luar rumah, kala Hari dan Inggrid hanya makan saja. Bram juga sempat menghubungi Elea, yang saat ini mengurus banyak surat penipuan Ryan, bersama Kristal. Tampaklah Bram melihat arah jendela, yang saat itu ada beberapa orang disana.


Di sisi lain sebuah jalan yang remang namun ramai oleh anak-anak muda. Di beberapa sudut, mereka nampak menenggak minuman keras. Anehnya menuju rumahnya saat ini, mereka bertamu melalui pintu belakang. Bram pun terhentak, kala bel berbunyi. Dan Bram, masih mengumpat dibalik tiang. Kala Hari, membuka pintu belakang.

__ADS_1


"Lo dateng malam ini," sapa salah seorang teman Hari.


"Iy nih, gue otw ke kamar lo ya. Har,?"


"Yuks, bareng aja. Gue juga nggak sanggup di rumah. Kelihatan jelas banget kalo anak pewaris diperhatiin sama orang tua gue," desisnya Hari tidak suka.


"Loh, bukannya kakak lo baik ya!"


"Lo tahu kan, bar lithdark aja, ampe saat ini setengah beroperasi, udah setahun lebih pembangunan ga kelar kelar. Ditambah gue jadi bawahan kakak ipar, di corp gold miror. Problem, bikin gue disalahin terus ama bokap. Jadi ada baiknya, gue keluar dari rumah ini bukan,?" cetus Hari.


Dari awal dia benci dengan kehadiran Bram, yang mengambil perhatian Reksa Hartanto. Apalagi puncak keberhasilannya selalu disanjung.


"Apa lo yakin, bokap lo nggak semakin marah lihat lo kayak gini?"


"Ngapain marah, kan udah ada Bram." ujar Hari, yang saat itu mengambil jaket di masukan ke dalam tas.


Mungkin bagi sebagian orang darah lebih kentara dari air, tapi bagi sebagian lagi air bisa melarutkan darah. Terkadang orang lain bisa jauh lebih perduli daripada keluarga sendiri.


Hari memang berkawan dengan berandal dan orang-orang liar, tapi tidak sekali dua kali mereka memberi nasihat perihal orang tuanya.


"Gue cuma pengen bokap lihat pemberontakan gue ini buat apa." Hari menunduk sedih, Hari tidak bisa menyangkal jika ayahnya memandang dia sebagai berandalan. Bukan sebagai anak yang haus perhatian. Padahal sebelum Bram, ia juga mengurus perusahaan keluarga dan berjalan dengan lancar, tapi karena kedatangan Bram ke rumah bersama kakak ipar, membuat Hari merasa tertekan tak dianggap.


TBC.

__ADS_1


Ok! Terima kasih Atas dukungan Bram, semoga satu bab lagi, tetap lolos review hari ini juga ya all.


Kali ini, konfliknya adalah keluarga Bram Hartanto dan Hari Hartanto.


__ADS_2