Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SIAPA JINGGA


__ADS_3

Hari, yang lebih dekat dengan Damar, segera mengangkat dan menggendong bocah tersebut.


Bram sendiri disibukkan dengan barang-barang dan beberapa hal lain yang harus dia urus. Bahkan dia tidak sempat menolong putranya karena saat akan menghampiri Damar, pihak bandara menghampirinya lebih dulu. Beruntung Hari, adiknya sudah keluar dari mobil. Sementara wanita yang mirip Elea, hilang setelah berbicara entah apa tadi dengan petugas.


"Damar tidak apa-apa?" tanya Hari, meneliti seluruh tubuh bocah kecil tersebut.


Damar yang masih terkejut hanya sesenggukan menahan tangis.


Memastikan tidak ada luka atau lecet pada tubuh bocah yang dia gendong, Hari merasa lega, karena keponakannya tidak apa apa.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, kalau di sini kamu jangan lari-larian Damar. Kasihan Daddy nanti kalau lihat kamu luka dia pasti sedih," tutur Hari, dengan sabar.


"O-okay U-uncle," jawab Damar terbata, dia tidak suka daddy-nya sedih.


Baik Damar, maupun Hari mengabaikan wanita yang masih membeku meneliti wajah Damar, yang Hari pikir ia telah pergi tadi.


"Namamu siapa?"


Mendengar pertanyaan itu, Hari dan Damar, kompak menoleh.


Hari mampu menyembunyikan ekspresi terkejutnya dengan baik, saat tahu siapa wanita yang bertanya pada Damar.


"Damar Bramantyo, kata daddy," sahut Damar, menatap penasaran pada wanita yang juga menatap lekat dirinya.


"Apa Damar kenal Onti?"


"Kamu mirip dengan seseorang," timpal wanita tersebut masih berpikir.


"Onti siapa namanya?" Damar, bertanya pada wanita tadi, sedangkan Hari diam-diam mengumpati Bram yang tak kunjung datang.


"Jingga Hendaru," jawab Jingga. Dia merasa jika balita di hadapannya itu mirip dengan kakaknya. Tetapi Jingga juga bingung, kakaknya apa pernah dekat dengan seseorang?


"Damar kamu tidak apa-apa?" tanya Bram, dengan raut cemas setelah urusannya dengan petugas bandara selesai.


Jingga membeku saat mendengar suara berat dan teduh tersebut, dia bahkan tidak berani membalikkan tubuhnya.


Suara yang sangat dia rindukan selama bertahun-tahun lamanya, suara yang selalu menggema di dalam rongga telinganya.


Air mata menggenang di pelupuk mata Jingga.

__ADS_1


"Damar baik Daddy, Daddy tadi ke mana?" tanya Damar, memberontak ingin turun dari gendongan Hari.


"Daddy tadi ada urusan sebentar sayang, nah kita sudah bertemu dengan Uncle Hari. Ayo kita pulang dan bertemu kakek," ajak Bram.


Tidak paham jika ada wanita yang masih terpaku di tempatnya, Jingga takut jika dia bergerak sedikit saja dari tempatnya. Maka, Bram akan menyadari keberadaannya.


"Ayo-ayo kita bertemu kakek," seru Damar riang, bocah itu.


Bram menggendong Damar dan berjalan bersama Hari, dia menjawab setiap celotehan putranya dengan sabar.


Sesekali Bram dan Hari, tertawa oleh ocehan-ocehan Damar yang terkagum-kagum dengan suasana yang baru dia lihat.


Sampai mobil yang ditumpangi Bram menghilang dari pandangannya, Jingga masih terpaku di tempatnya.


Air mata Jingga menetes satu per satu, dia kembali terluka setelah melihat Bram menggendong balita lucu yang menggemaskan.


'Putramu sangat menggemaskan Bram, tahukah kamu jika aku sangat merindukan dirimu?' deru batin Jingga.


Hari ini dia ingin pergi ke luar negeri, tapi niatnya itu justru membuatnya bertemu dengan pria, yang menjadi alasan dari kehidupannya yang berantakan. Ia bertukar peran, menghindari demi adiknya Elea.


Meninggalkan Jingga, di tempatnya.


"Sebenarnya aku ingin tinggal di rumah sendiri, Hari. Tinggal di rumah kakek Heru membuatku sungkan," gumam Bram, menatap lurus jalanan yang semakin padat saja.


"Bukankah itu akan membuat pak Heru tersinggung, Bram?" cetus Hari yang sedikit banyak paham mengenai sifat dari Handaru yang disapa Heru, yakni ayah dari Elea. Meski bagaimanapun dia masih mertuanya juga, meski Elea sudah diberbeda alam.


"Kamu benar, Hari."


"Bram...," panggil Hari, dengan gamang ingin mengatakan perihal pertemuannya dengan Jingga, yakni wanita mirip kak Elea.


"Hm." Bram menoleh menatap Hari.


"Apa kamu mencintai Elea?" tanya Elea untuk memastikan sesuatu.


Bram yang memang mencintai Elea, meski di akhir hidup wanita itu pun mengangguk tanpa ragu.


"Lalu bagaimana dengan Jingga ?" lanjut Hari tanpa aba-aba.


Bram, membeku sesaat, sebelum dia memasang wajah datar. Mengenakan topengnya yang lain, dia bergumam pelan.

__ADS_1


"Elea akan sangat sulit untuk dihapus dari hidupku, Hari "


Mendapat jawaban demikian, Hari tidak meneruskan pertanyaannya. Sepertinya Bram sudah bisa melupakan Jingga yang sempat mewarnai hari-harinya selama sendirian di luar negeri, dan menetapkan hatinya pada Elea Si wanita sederhana.


Jingga hanya terpaku, kala mereka cuek padanya. Padahal jelas, saat tadi Jingga yakin, Bram melihatnya. Terlebih mendengar pembicaraan Bram tadi, rasanya menyesakkan.


***


KEDIAMAN ORANGTUA ELEA.


"Damar! Kakek merindukanmu, Nak," seru Heru, saat mendapati bocah kecil itu mengucek mata dalam gendongan Bram, sementara ibu dari Elea sendiri tampak mematung, ketika Bram hadir tanpa anaknya ada.


Terlihat sekali jika dia masih mengantuk, jadi meski berpindah gendongan. Kepalanya segera terkulai di pundak Heru yang terkekeh saja.


"Sepertinya dia sangat lelah," kata Heru membawa Damar, ke kamarnya yang berada di lantai bawah.


Heru sengaja melakukannya, selain karena kamar yang kini ditempati oleh Damar, adalah kamar Elea. Dia juga ingin memastikan agar cucunya dalam keadaan aman dari bahaya.


Bram masih mengatur beberapa barang yang ada di mobil untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


"Jangan pulang dulu Hari, ada yang ingin aku diskusikan denganmu," pinta Bram sembari menurunkan beberapa koper dari mobil.


Membantu Bram, Hari ikut masuk ke dalam rumah Heru.


"Apa Damar kembali tidur, Pah?"" tanyanya yang tidak melihat putranya di mana pun.


"Iya, dia persis seperti Elea ketika tidur. Akan sulit bangun terlebih saat dia merasa lelah," kekeh Heru dengan netra senjanya yang berkaca.


"Ah, saat ini putri yang tak pernah kamu lihat Bram, dia akan datang. Namanya Jingga! jika dia hadir, jangan kaget karena ia sedikit mirip dengan Elea." ujar Heru, kala papa mertuanya itu bicara.


Mau tidak mau, Bram mengingat kembali kebersamaan dengan Elea yang menurutnya hanya sesaat. Baginya, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Elea, seharusnya ia lebih peka akan kesehatan Elea, bisa saja ia mencegah Elea hamil ketika tahu Elea sakit, sehingga kemo bisa dilakukan.


"Bram .." seseorang memanggil, membuat Bram kembali buyar.


TBC.


Sambil tunggu Up! Yuks jejak, dan mampir ketemen litersi Author.


__ADS_1


__ADS_2