
"Sayang, kenapa kamu melamun? Katakan, apa yang terjadi?!" lirih Damar khawatir.
Siren menatap suaminya, apakah ia harus menceritakan semuanya, yang jujur sangat malas dan muak melihat Damar kali ini.
Dua Puluh Jam Lalu.
Damar menyusuri kecupan manis di kening istrinya, yang sedang melamun di meja makan.
Siren, menatap suaminya yang manis menyediakan sebuah sandwich panggang dan susu untuknya. Dia tersenyum menatap dan mengambil sebuah sandwich dibalut daging sayuran dan mozarella.
Siren pun memakannya hingga tiga potong dengan lahap, dan menghabiskan susu di gelas dengan sekejap.
"Sayang, pelan pelan kamu baru saja menghabiskan Nasi kuning ala chef Damar, dan kentang goreng, aku melihatmu ada yang berbeda. Apa selera makan mu menjadi bahagia sejak malam kita ..?"
"Hubby, jangan mengacau belum pernah melihat ibu ha...?."
Tercengang diam, Siren pun terhenti berbicara.
"Maksudku kamu belum pernah melihat istrimu ini makan banyak, kemarin aku ga selera dengan kesedihan dan banyak pikiran, jadi aku merasa harus makan banyak mulai saat ini."
"Baiklah sayang, ayo aku antar ke kantor paman Kenan, pastikan surat resign, dan bagaimana bisa kamu sudah cukup apa yang aku berikan, cukuplah di rumah tidak perlu giat bekerja lagi, karena kasihan paman Kenan. Aku hari ini ada meeting, dan mungkin pulang larut, kabari aku jika sudah pulang ya!" oceh Damar.
Di kantor Siren, mengetik pekerjaannya, dan Mikha pun membantu untuk nanti yang diadakan di korea.
"Siren, bagaimana perasaanmu apa sudah lebih baik?" tanya Mikha.
"Entahlah Mik, sepertinya jika benar benar dikandungan Sena benar benih suamiku,
aku harus rela berbagi suami meski menyakitkan. Sampai disini aku harus lebih banyak mengumpulkan pundi pundi untuk kedepannya, bukankah cara cantik harus kita terapkan sebagai istri bersaldo unlimited."
"Aku harus mengumpulkan banyak uang untuk kehidupanku nanti, mungkin aku harus membuka usaha parfum ku. Aku berencana melanjutkan S2 ku untuk masa depanku, jika aku terlempar dari keluarga Damar Hartanto, aku sudah bersiap nanti." tambah Siren menjelaskan.
Mikha pun menohok dengan keras kepala akan sikap Siren.
"Bisa - bisanya kamu berfikir sejauh itu Siren. Owh ya, ini berkas untuk acara nanti sudah selesai. Sebentar lagi nih, kita makan siang bareng ya."
Siren pun mengacungkan jempol menandakan Siap pada Mikha. Mikha sendiri tidak dilarang diam di rumah, setelah menikah dengan paman Hari, terkait usia belia dan impiannya menjadi model highclass.
***
Berbeda Tempat.
__ADS_1
Dady Bram datang ke rumah sakit bersama Sena, di buntuti beberapa pengawal di belakangnya.
"Sena, kamu tahu. Saya menginginkan cucu penerus, tapi bukan berarti Saya menyukai kamu. Karena caramu yang memaksa, kamu harus menyakiti wanita juga. Pernikahanmu dengan Damar tidak seharusnya terjadi." ujar Bram yang tahu siapa gadis bernama Sena.
Perkataan itu pun, melukai hati Sena.
"Tapi, Paman kan tahu. Aku dan Damar sudah lama berteman dekat, kenapa aku tidak bisa menjadi bagian keluarga Damar."
"Cepat periksa kandungan di dalam, orang paman akan menemani sampai dalam!" titah Bram, yang saat itu bingung harus di pihak siapa.
Sena masuk, ia ketar ketir juga ketika paman Bram, ikut campur ke dalam masalah dirinya yang ingin menjadi nyonya Damar.
Di Beda Tempat.
Menjelang malam, matahari terbenam Siren sudah ditepi pantai dengan jamuan meja hidangan dinner romantis, tak lama sebuah jari tangan harum dan halus menutupi kedua matanya.
'Baiklah hubby, aku akan melupakan tentang video menyakitkan itu. Malam ini kita makan malam romantis, sambil menatap laut ditepi sana, kita akan lihat kebahagian kita apa akan tetap bersinar, dan bertahan dengan senyuman.' batin Siren menjerit.
Idenya lah, yang memaksa suaminya, menikahi wanita gulali itu, tapi mengapa saat ini semakin sakit. Ketika aku pun sedang mengandung tak ditemani suami.
Siren takut jika skandal Damar tersebar dan mengganggu reputasi kantor, investor, perusahaan Dady Bram hancur, maka dengan cara inilah, dirinya harus memaksa Damar bertanggung jawab pada Sena.
Jendela kamar menerangi cahaya, Siren membuka jendela. Lalu menatap suaminya dengan manis, ia melupakan sebuah kesalahan, ia yakin semua akan indah diakhir. Karena Siren pun tak luput dari sebuah kesalahan.
"Hubby, ayo bangun?" Siren membangunkan suaminya.
Namun Damar membalas dan menarik istrinya erat, dan memulai mesra apa yang terjadi, tak bisa dipungkiri iya meminta lebih.
memeluk, mencium dan sangat bahagia. Sehingga mereka habiskan waktu bersama hingga siang hari.
"Sayang, aku menunggumu di bathroom. Biar ku nyalakan aromatherapy coklat dan bunga lily rose. Menyusul lah dengan cepat!"
Siren hanya tersenyum, dengan merapihkan semua piring, dan terdengar bel berbunyi, ia pun bergegas membuka dan terkejut melihat Sena datang.
"Ada apa, kenapa kamu datang kesini?"
Sena pun masuk mendorong Siren.
"Aku juga berhak atau aku akan menyebar video itu. Ingat Siren, aku bisa tahan malu karena aku tidak terkenal, tapi dirimu akan tamat dan nama keluarga Hartanto pastinya kan?"
"Sena, jika kamu lakukan itu, Damar dan keluarga akan bangkrut, apa kamu tidak takut, kamu bersama Damar akan jatuh miskin, tidak ada yang kamu dapatkan kelak."
__ADS_1
"Aku, tidak takut Siren, ingat surat perjanjian kekayaan Damar dan Dady Bram sudah real nama anakku. Jadi ketika dia bangkrut aku sudah memiliki yang aku inginkan."
"Hah, dasar wanita gulali. Jadi kamu lakukan demi harta Sen,?"
"Bisa dibilang, tapi obsesi ku tak tersalur. Damar hanya mencintai wanita seperti kamu, setelah menikahi ku demi anak ini, dia tidak akan tinggal bersamaku. Jadi aku hanya bisa lakukan ini, tapi jika dirimu hamil, aku pastikan hanya anak di rahimku saja!"
"Sayang, cepat lah "
Terdengar berkali kali Damar memanggil Siren sang istri.
"Pergilah Sena, kamu akan mendapatkannya dan akan segera menikah. Jangan ganggu kesibukan weekand kami hari ini, jadi sudah selesai bicaramu, kamu bisa pergi sekarang!" Siren berusaha mengusir.
"Apa, sepertinya Damar sedang mandi, lebih baik kamu tunggu diluar Siren. Persiapkan berbagi suami, termasuk kali ini Damar mandi bersamamu diganti dengan Aku." bisik jahatnya.
Siren menahan amarah, dengan sedikit perut ia duduk, serasa diremas sakitnya tak tertahan. Rasanya tidak percaya jika dengan Sena seperti ini.
Siren merasa, dia bukan benar benar mencintai Damar tulus.
Sena pun masuk ke kamar menghampiri Damar, membiarkan Siren kesakitan. Di luar ruang tamu dengan mencari cari obat ia berjalan pelan tak tertahan.
'Hubby, tolong aku!' teriak Siren berkali kali, hingga suara itu mengecil.
"Ah, ya tuhan aku sangat sakit. Biarkan hati ku saja. Jangan biarkan bayiku ikut sakit, ku mohon nak bertahan dan kuatlah "
Tak, lama Siren dibangunkan oleh seseorang dan cepat dilarikan ke rumah sakit, dan membantu nya meminum supplement.
Siren menatap tatapan mata yang tiba tiba saja datang. Sementara Sena berada di apartement, entah apa yang mereka lakukan.
Bahkan pikiran Siren bercabang, tangisan tetesan air mata mengalir begitu saja dan remuk, rapuh.
Siren sangat bersyukur ketika seseorang membantunya, disaat yang tepat.
***
"Kenapa diam sayang? Katakan apa yang terjadi sampai kamu masuk rumah sakit?" tanya Damar, masih dalam ruangan rumah sakit.
Hal itu membuat Siren, masih diam dan belum menjelaskan, ketika satu persatu Mikha dan dua teman lain pamit pulang, dan akan menjenguknya lagi esok.
"Cepat sembuh ya Siren, aku pamit. Damar jaga Siren ya!" lirih Mikha kala itu, dan terlihat paman Hari, datang menjemput Mikha, juga menyempatkan menjenguk Siren yang tiba saja masuk rumah sakit.
TBC.
__ADS_1