Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 RESEPSI PERNIKAHAN


__ADS_3

"Aku akan lakukan apapun, kita akan cari jalan keluarnya, tapi jangan minta aku untuk meninggalkanmu sayang, aku tidak sanggup."


ucap Damar.


"Hubby, apa kamu pikir aku sanggup terlebih Aku sedang ha...,?" Siren terdiam tak melanjutkan.


"Kamu sedang apa sayang?" tanya Damar.


"Aku sedang amat kecewa, maaf kan aku Damar, cobalah mengerti, semoga kamu memahamiku."


Siren pun meninggalkan kamar dan berusaha melihat dekor di mansion dady Bram, yang megah luas, ia beranjak ke kolam renang halaman kebun belakang untuk menenangkan diri. Sementara Damar membiarkan istrinya untuk selalu tenang.


Dady Bram, dari kejauhan menatap menantu kesayangannya diam menangis, ia tak sengaja mendengar pembicaraan anak dan menantunya itu. Bram pun mencoba menemui Damar, dan mengajaknya bicara agar menemukan solusi.


"Jadi aku harus apa, Dady?


"Damar, kamu harus mencari bukti cctv di ruang vip itu dan saksi. Setelah itu cari Sena temui bicaralah, setelah itu Dady akan membantu."


Meski Damar, tidak begitu yakin, baiklah maafkan Damar ya dad, mengecewakan, nama keluarga ini.


Damar sayang, yang lebih tersakiti adalah istrimu! hanya waktu, yang membuat Siren kembali seperti awal meski sulit untukmu.


Bram pun, sudah duduk disebelah Siren, yang saat itu Siren pun mengusap mata dan tersenyum.


"Ada yang perlu Siren bantu Dad?"


"Menangis lah Siren! dady sudah tahu semuanya. Dady harap kamu ikhlas dan menghadapinya dengan kepala dingin. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya!" membuat Siren mengerti, atau ia harus rela jika benar Damar berlaku selingkuh dan harus memakluminya, ketika ia sadar menikah dengan pria kaya.


***


Tiba pagi Siren sudah dipoles dengan gaun indah, dan mata sembab nya, ia poles dengan lipbalm dan cream wajah nya sehingga tak terlihat ia sedang bersedih atau rapuh.


Delapan jam acara ramai berdatangan, kerabat, sahabat, keluarga, bos besar dan seluruh investor kantor semua yang di undang berdatangan.


Merlin seorang istri kerabat dari klien yang akrab menyapanya, memeluk Siren tanda ucapan selamat. Suaminya melirik berbisik bernama Ozi pada Damar.


Tuan Ozi menarik Damar, apakah istrinya sedang ada masalah, karena ia tahu betul gestur para wanita jika ada masalah, Apalagi ia mengenal Siren jauh lebih dalam dari Damar.


"Hari bahagia, mengapa kalian tidak seceria itu. Kalian ada problem?"

__ADS_1


"Tidak mungkin, ini pasti efek lelah."


Damar pun mengelak, bicara bahwa semua baik baik saja.


Dan ketika acara berakhir akan selesai, seseorang datang dengan gaun kuning menghampiri Siren dan Damar. Wanita itu muncul tanpa undangan, membuat Damar ingin murka ditahan.


Sena diam dan menatap Siren, ia berjabat tangan seolah ingin memeluk, Siren merasa risih tapi tak mungkin ia perlihatkan didepan publik.


Saat memeluk Siren, Sena berbisik.


'Selamat sudahkah melihat gaya hot Damar, setelah ini .. Haruskan kita berbagi suami Siren.' seringai licik Sena, yang saat itu Siren mengepal gaun.


Damar pun melangkah menghampiri melihat air mata istrinya, yang tiba saja tertahan. Sedang Siren tersenyum memeluk Sena dengan hangat ke purapuraan.


Mikha, kesal dan di pinta oleh Bram, agar Mikha membawa Sena jauh dari keramaian Damar dan Siren, hal itu Bram sadari jika mereka sedang tidak baik.


***


Hingga selesai acara, tiba Siren sudah dikamar berganti pakaian dan membuka laptopnya, ia mengirim email pada Sena untuk besok pagi datang ke rumah.


Damar menghampiri istrinya, tapi hanya perlakuan dingin dan seperti biasanya.


tepat dibelakangnya hingga ia merasa terkejut, dan mata penuh cinta saling memandang dan Siren mengecup suaminya lebih dulu, Damar pun membalasnya namun ketika Damar sejauh menikmati, Siren melepas erat pelukannya.


"Hubby, maaf aku lelah,"


"Baik sayang. Aku okey, istirahatlah!"


Damar hanya menunggu dengan sabar, hingga mereka pun beristirahat.


Esok pagi Siren, sudah anggun dengan blouse kemeja terusan putih bergaris navy. Ia menelusuri anak tangga, menghampiri Dady Bram, tak lupa Damar menyusul dari belakang menggenggam erat pinggang Siren masih terlihat harmonis.


Saat itu Siren amat terkejut, namun ia sadar tetap bersikap harmonis, semua ia lakukan agar cukup ia saja yang terluka.


"Sayang, Ayo kita sarapan bersama." ucap Bram pada anak dan menantunya itu.


Damar, Siren ikut bergabung di meja besar itu. Ia melirik ponselnya, dan menjawab chat Sena agar segera masuk.


"Dady. Siren harap masalah Damar dan Siren hanya kita dan tak ada seseorang lagi yang tahu. Bukankah Dady ingin sekali menimang cucu, maaf jika lancang. Siren mengundang Sena pagi ini, untuk makan bersama, karena kita harus membicarakannya. Mungkin berharap Damar untuk bertanggung jawab."

__ADS_1


Deg.


Sendok garpu lepas begitu saja, menatap ke arah Siren.


Morning!!


Tak lama Sena memberi salam dan menghampiri, mereka pun duduk bersama dan makan bersama.


Bram tak percaya akan sikap lapang hati tegar menantunya itu. Semakin takut akan kehilangan menantu tersayangnya itu. Setelah makan bersama selesai, Siren pun memulai pembicaraan serius.


"Sena, aku harap jelaskan apa yang terjadi saat itu, dan apa keinginan mu saat ini. Mungkin salah satunya aku bisa mengabulkan keinginanmu." lirik Siren.


"Sayang percayalah, jangan gegabah ini tidak seperti yang kamu pikirkan bisa saja semua itu rekayasa." Jelas Damar, namun Siren hanya senyum dengan kegilaan, ingin sekali tidak percaya tapi sulit rasanya.


Sementara Bram, ia mendengarkan dan memberi dukungan yang terbaik. Sena menjelaskan detail dengan tatapan tangisan dan keinginannya.


"Jelas kan Dady! kita sudah tahu. Disini Siren hanya menginginkan Damar menikahi Sena dan bertanggung jawab juga, mungkin permintaan Siren amat konyol, tapi ada syarat Siren hanya ingin Sena tak berbicara apapun ini didepan publik, terlebih tentang keluarga. Siren hanya wanita yang banyak kekurangan, bukankah adil untuk pria kaya mempunyai istri lebih dari satu?"


Bram menepuk bahu Siren, dan mendukung apapun itu keputusan rumah tangga putra pewarisnya, sementara Damar keukeuh tak setuju, tapi Siren melontarkan sebuah kata yang tak disangka.


"Hubby, Jika kamu tak setuju, maka kamu harus merelakan aku pergi, jika kamu menikahi Sena, dan bertanggung jawab atas anaknya kelak, kita akan masih tetap bersama. Aku akan mencoba ikhlas."


Damar menatap sinis, tak masuk akal dengan permintaan istrinya.


"Beri aku waktu sayang, Dady aku pergi dulu."


"Ya. Selesaikanlah Damar." lirih Bram, yang hampir sakit kepala.


Damar meninggalkan Sena! dan sang papa kala itu bersama beberapa pengawal, mereka mengantar Bram ke kamarnya.


Sementara Siren, paham akan wajah dua Sena saat ini.


"Sena baiklah aku pastikan keinginanmu tercapai, aku permisi!"


Di lobby Siren menatap suaminya, di samping mobil merenung setelah Damar mengejar langkah istrinya itu. Ia pun bergegas pergi meninggalkan Damar.


"Hubby, aku ingin sendiri. Aku bisa ke butik sendiri. Please beri aku ruang!" pamit Siren yang senyum, tak lupa mengecup punggung lengan Damar.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2