
Hari, tak menyangka, jika Mikha akan kritis. Ia juga bodoh tak mengetahui istrinya, akan punya trauma dan phobia dari ketakutannya.
"Bagaimana dokter bilang?" tanyanya.
"Mikha dalam perawatan. Kondisinya saat ini, dan sekarang cukup stabil, hanya menunggu siuman saja pak."
"Apa ada yang kamu curigai Osin?" tatapan Hari menyamping.
Sedikit bingung, lalu mencoba berfikir banyak untuk menemukan jawaban yang tepat.
"Belum, ponsel bu Mikha juga hilang. Saya tidak bisa mengeceknya."
Hari mengepal jari, ia mencoba berbalik badan dan memejamkan mata. Sekedar menahan tangisan amarah yang ingin tumpah.
Mengetahui hal itu, Osin mendapat lirikan dari Eri. Hingga di mana Osin pamit, dan mengekor oleh Eri, yang menunggu di luar. Sehingga dalam ruangan itu hanya ada Mikha dan Hari.
Hari amat menyesal, memang terkadang Insecure dirinya yang bersama Mikha, dianggap paman tua dan keponakan, Hari sendiri sedang membuat racikan herbal, dimana tambahan system untuk awet muda, kembali pada usia 26 tahun agar terlihat sejajar jika berjalan di sisi Mikha, itu semua karena ia malu, bukan karena dirinya tidak perhatian dan selalu abai pada istri barunya itu.
'Maaf, aku kurang memperhatikanmu Mikha. Tunggu sebentar lagi, aku bisa menjagamu. Saat ini aku rapuh dengan usiaku ini.' batin Hari.
'Mikha. Maaf jika beberapa hari, aku tak bisa mendampingimu. Sadarlah, aku janji tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian. Apa kamu mendengarku saat ini. Jangan salah sangka, kita ditakdirkan bersama, hanya saja aku terlambat. Andai kamu juga bisa paham, tidak mudah bagiku mencintaimu, tapi keterlibatan keluarga kita di masa lalu, yang keruh. Meski aku sadar. Perlahan kamu akan tahu kebenarannya itu pasti.. '
Hari mengirim beberapa nomor intel. Ia ingin mencari dengan bukti yang kongkrit, sehingga ia bisa membalaskan siapa yang tega melakukannya pada istrinya.
Tanpa sadar, Hari menatap jari manis Mikha bergerak. Perlahan ia menatap pergerakan itu, lalu menatap wajah Mikha yang sedikit membuka mata. Bibirnya bergetar sedikit membuka, sehingga Hari memencet tombol agar suster dan dokter kembali mengeceknya.
Hingga beberapa saat kemudian.
Dokter datang dan mengecek. Detak jantung, nadi dan mata penglihatan di tempelkan alat sinar cahaya senter. Selama berpuluh menit, Mikha dalam pemeriksaan. Begitu pun Hari masih setia mendampingi, meski ia menahan nyeri ditubuhnya tak bisa berdiri terlalu lama.
"Syukurlah. Keadaan pasien telah membaik. Tetapi saya harap, untuk tidak membuat pertanyaan yang berat. Seperti kejadian yang menimpanya. Biarkan pasien yang mengatakannya dengan kondisi zona nyaman!"
"Baik. Terimakasih ya dok."
__ADS_1
Wajah yang pucat, Mikha menatap seluruh langit. Hingga di mana, ia mendapati wajah pria yang setia selalu baik padanya. Meski pandangan sedikit kabur, Mikha tahu dengan suara serak pria. Ia paham siapa pemiliknya.
"M-mas Hari. Aku kenapa?"
"Syukurlah. Kamu udah sadar, kamu hanya pingsan Mikha. Bagaimana sekarang. Masih sakit?"
"Pi-pingsan. Memang aku kenapa Mas?" Mikha menoleh menatap wajah Hari dengan gugup dan lemas.
"Jangan di pikirkan. Aku akan menemanimu saat ini. Setelah ini, aku akan menyuapimu dengan sup hangat dengan campuran jahe. Ini bagus agar kamu bisa pulih lagi."
Mikha cukup tersenyum, saat ini. Memang ia sedang tak bisa memikirkan kenapa ia tiba di rumah sakit. Hal itu pun, membuat Mikha cukup sakit merasakan kepalanya, memegang kepalanya sedikit nyeri.
Perlahan, Mikha memberikan air putih. Lalu menyuapkan sup, Mikha dengan cukup senyum ia melahapnya dengan pelan.
"Hati - hati. Ini cukup panas!"
"Mas. Aku ga tahu, kalau tidak ada kamu. Aku harus bagaimana. Jujur aku sepi, aku sendirian kalau ga ada kamu mas." senyum Mikha.
Hari tak bisa jujur, ia tak bisa berkata lagi. Dengan istrinya bicara ngelantur seperti ini, meski membuat dirinya sangat yakin atau senang ketika mendengarnya.
Mikha senyum mengiyakan, tanpa sadar ia meminta Osin duduk dan bercerita. Mikha lalu duduk sedikit menegak karena punggungnya sedikit pegal. Osin pun membantu memutar posisi duduk Mikha saat ini.
"Syukurlah Bu Mikha sadar. Saya seneng, owh ya. Cepet sembuh, biar kita cuci mata lagi!" goda Osin.
Tuut. Mikha menatap agar Osin tidak banyak bicara buruk, bagaimana pun ada Hari, yang mengkerut kan alis.
Eeeehm .. ! Deheuman seseorang.
"Kamu nih Osin. Owh ya, aku kenapa ada di sini. Kata Mas Hari aku pingsan. Ada apa emangnya?"
Osin melongo, ia menatap Pak Hari dan Pak Eri yang memberikan kode mata. Hingga di mana Osin mendengus nafas dalam - dalam.
"Ibu ga ingat, ah pasti kecapean. Pasti ibu belum sarapan ya?"
__ADS_1
"Capek. Heumph! belum sarapan, kayaknya enggak juga deh. Tapi udahlah, aku seneng kamu di sini juga."
Hari menerima panggilan, ia keluar dan Eri pun mengikutinya. Sementara Osin hanya menggeleng ketika dua pria sibuk itu pamit. Osin tak pernah menyangka jika ia akan dekat dengan dua pria bos yang kuat di kantornya. Dan ternyata pak Hari adalah suami bu Mikha yang diam diam tak banyak orang kantor tahu.
Meski terlihat baik, tapi jelas saja. Jika di kantor ia akan terlihat seram dan jutek. Layaknya profesional karyawan dan atasan. Berbeda jika menyangkut di luar ketika bersama Mikha.
'Heuuumph. Mikha, lo beruntung kali ini. Tapi kenapa gue insecure ya. Emang semenarik apa sih jatuh cinta, percintaan lo sama dua pria hebat?' batin Osin.
"Osin. Kok aku yang sakit, kamu yang bengong?" tanya Mikha.
"Gpp, antusias seneng aja. Ibu udah siuman, ga syok lagi saya dapat potongan bulanan dari pak Hari karena ibu terjadi sesuatu." alibi.
"Haha, dasar."
Mikha sendiri tidak mau memberitahu, jika dirinya ingat. Bukan karena dua pria antara Dani atau Hari, tapi karena Lena mantan istri suaminya yang tergila gila menyesal menalak Hari, yang mungkin super sibuk.
Hari telah selesai menerima panggilan. Lalu ia memerintahkan pada Eri untuk meminta Lei, sang sepupu. Memancing Dani untuk bertemu di suatu tempat.
"Eri. Jangan sampai buat kesalahan. Jika dia yang melakukannya. Pastikan menghajarnya habis habisan."
"Baik. Ta-tapi bos, pikirkan kesehatan anda. Sebaiknya tidak perlu dengan kekerasan! Bagaimana, rontgen ulang sejenak!" khawatir Eri, dimana pengobatan bosnya, baru 40% dilakukan apalagi herbal dengan sengatan cahaya tekanan tinggi, membuat Hari harusnya banyak istirahat.
Eri yang tiba saja mengeluarkan petuah. Ia malah mendapat sorot mata yang tajam dengan jari yang runcing, menyentuh dasinya.
"Saya bilang. Lakukan sekarang Eri!"
Tanpa ba - bi - bu. Eri langsung pergi begitu saja. Mematuhi perintah dari sang atasan.
"Baik bos, 86."
Tidak habis pikir, apa bos kejam berubah drastis kala menyangkut belahan jiwanya terluka. Tanpa memikirkan kesehatannya juga, yang perlu di obati.
'Jika kau terjadi sesuatu bos, maka nasibku bukan saja kehilangan. Akan tetapi menambah pengangguran, beban di negara ini bertambah satu itu adalah saya.' batin Eri bergerutu, padahal ia mencemaskan kesehatan bosnya itu.
__ADS_1
Tbc.