
Sesampai di rumah, Ia segera mengganti baju dalam beberapa saat. Mikha memegang kepalanya, rasa sakit dan bingung kenapa ia bisa di rawat di rumah sakit. Seolah ia hilang ingatan tragedi yang menimpa dirinya terakhir kali.
"Kamu kenapa, ada yang sakit?"
"Mas, benar aku sakit karena pingsan kelelahan di kantor, kok aku ga ingat ya. Aaacch."
"Jangan dipaksa sayang, cukup untuk mengingat hal menyakitkan. Ada hal yang lebih penting, kamu harus memikirkan hati, jiwa nan bahagia."
Mikha duduk, lalu teringat akan bidak tubuh Hari. Mikha melepas tiga kancing baju suaminya dengan berkata. "Mas, luka apa ini? Aku mohon jangan berbohong!"
"Ini saat mas mengendarai karena tidak hati hati, tabrakan kecil. Kamu ga perlu khawatir."
"Mas, jangan berbohong! Apa kamu berbohong soal ke Australia meeting, tapi berobat?"
Hari memeluk Mikha, terlihat ada rasa khawatir Mikha. Dimana ia tak ingin pria baik di depannya ini mempunyai luka serius. Apalagi makin hari wajah suaminya terlihat fresh, atau awet muda.
"Sudah mas bilang, ini bukan hal serius. Ada yang lebih serius, dari hubungan kita saat ini."
"Mas, aku ganti perbannya ya?" di anggukan oleh Hari dengan senyuman.
"Mas Hari, kenapa hingga saat ini aku tidak boleh ikut ke kantor yang ada di beberapa negara, aku ingin ikut."
"Belum waktunya, lagi pula di kantor semua pria. Aku tidak ingin ada yang ganggu dirimu Mikha."
Menahan nafas, lagi lagi selalu ditolak. Padahal Mikha ingin tahu, suaminya sedang menciptakan sesuatu apa, sehingga semua pekerja pria.
Beberapa saat Mikha mengganti perban, memar merah kebiruan itu membuat Mikha ngilu. Pelan dengan hati hati, ia membuka dan membubuhkan obat pereda nyeri yang ditaburkan obat merah. Lalu kembali menutup luka itu. Tangan Mikha pun di genggam dengan tatapan senyuman. Ada rasa khawatir bagi Mikha, gugup bercampur penuh keringat dingin, kala angin dan petir membuat tirai jendela balkon tersapu angin.
Mikha dengan segera mungkin refleks menutup tirai, sementara Hari senyum, tahu jika Mikha gugup, ketika keadaan mereka berdua saja.
"Mas, aku tutup dulu ya."
__ADS_1
"Heuumph.."
Dingin menyeruak kulit pori pori Mikha. Sadar diri, ingin sekali menanyakan terakhir kalinya apakah mas Hari melihatnya bertemu Dani, dan ia terluka kecelakaan melihatnya, atau mas Hari sudah salah paham, yang dimana Mikha menyembunyikan dirinya kecelakaan oleh Lena mantannya yang gila harta itu. Tapi tiba saja pria itu telah berdiri amat dekat dan menempel di bagian punggung Mikha, sambil memegang jemarinya untuk menutup tirai balkon bersama.
Eeehmp! Seperti ini, mas bantu Mikha sayang! Desiran bisikan Hari, membungkam Mikha yang buyar ingin bertanya.
Lalu Hari dengan gugupnya melihat Mikha, ia berjalan ke arah pintu lain.
Mikha menatap sendu, ketika mas Hari membukakan pintu kamar dengan perlahan dan lembut. Hal yang tidak mungkin ia takuti adalah, di mana ia menatap langit ruangan doop seperti pria yang lajang.
Mikha berusaha menatap seluruh kamar, ruangan dapur dan ruang tamu untuk bersantai dengan banyak ide.
"Kamu lihat apa?"
"Mas. Kalau aku merubah warna dan seluruh beberapa barang. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Mikha.
Hari hanya mendapat senyuman saja, dan membuat hatinya meleleh. Rasa sesak di luka yang amat sakit, ia tahan. Membuat dirinya menahan, ketika menatap wajah indah Mikha yang menyejukan. Jujur ia tidak ingin membuat Mikha kepikiran tentang dirinya saat ini.
Dalam pandangan senyuman pria di depannya. Entah Mikha sadar atau setengah sadar, ia merasakan sosok pria yang ia cintai. Senyuman lembut itu, mirip mas Dani yang pertama kali menyambut dirinya dan menjadi teman sekedar kuliah.
'Astaga Mikha! Jangan seperti ini, jangan lagi wajah dia yang hadir. Ingat di depanmu adalah Hari yang lebih baik dari masa lalu.' batin.
"Mikha. Pernikahan kita sudah masuk satu tahun, tapi aku minta maaf jarang menemani kamu. Apa kamu bahagia?"
Mikha mendekati Hari. Dalam pikirannya memang mas Hari yang sedang berbicara, tapi entah mengapa ia seperti melihat Dani. Mikha megerjapkan matanya. Berusaha sadar untuk tidak merubah suasana yang kacau.
"Mas. Aku tak pernah sedikit terluka dan sakit. Jika itu kamu." lirih Mikha.
Dalam batin Mikha. Ia sangat sedih dan bingung akan perasaannya. Jika ia bertemu Hari, ia sangat benar - benar ingin tetap lama menatap dan di dekatnya. Tapi sikap acuhnya, ia sangat kecewa dan semua itu ia dapatkan dari sosok Mas Hari yang teramat baik padanya, hanya saja pria di depannya ini seperti membuka usaha penyelundupan barang narkotika, dimana Mikha tak di perkenankan ikut serta, tidak seperti Siren yang selalu bisa datang kapan saja oleh pewaris hartanto itu.
"Semoga aku tidak pernah melukai dirimu mas. Jika aku salah, katakanlah agar kita selesaikan!" bisik Mikha.
__ADS_1
"Apa kamu sedang menggodaku. Mikha sayang?"
Eeehm.. Mikha menutup bibirnya, ia mencoba untuk membuka hatinya meski pria itu jarang sekali dekat di sisinya. Meski begitu, Hari berhak atas dirinya. Sudah saatnya ia menunaikan kewajibannya.
Hari perlahan mendekat ke arah Mikha yang berdiri, kaki Mikha terpentok sofa dan duduk. Kemeja kancing Hari, itu telah terbuka sempurna sejak kapan entahlah. Mikha dengan sengatan mata suaminya yang dalam, ia hanyut kala pinggangnya telah di raih dan duduk diatas pangkuannya.
"Mas, kita ...Uhm."
Hari sudah menegang, memangku terasa bagi Mikha yang telah duduk diatas pusarannya, pria berumur ini membuat Mikha syok, ketika On seperti terong raksasa yang bersiap menembus ke jantungnya. Ranumnya telah tertutup dan saling menempel, setengah terbuka, Mikha memejamkan mata dan terlihat Hari semakin dekat dan erat semakin dalam memainkan lidah. Mikha yang duduk dipangkuan Hari, berdesir kala tangan kokoh itu meraba arah sensitifnya.
Entah mengapa suami berumur nya ini, tidak nampak kulit kerutan, dan kulitnya mirip bayi. Atau Mikha saja yang jarang perhatikan suaminya, atau dia baru sadar suaminya tidak tua tua sangat.
Namun tiba saja seseorang memencet bel rumahnya.
Ting Nong!
Hari dan Mikha membuka mata, terlihat jelas tangan Hari mengepal, seolah kesal.
"Mas, aku lihat dulu siapa yang datang ya?" gugup Mikha mencari ikat rambut, dan merapihkan bajunya yang terbuka.
"Tetaplah disini sayang! Biar mas yang lihat, jika itu Eri. Gajinya akan hilang setahun detik ini juga."
Gleuuk!!
Terdiam Mikha, ia mencari remot tv dan satu tangannya menyentuh bibirnya, menggigit bibir bawahnya, ingatan jelas itu terasa beberapa saat lalu, apa yang mereka baru saja lakukan. Dan melihat gaya berjalan suaminya, terlihat bukan umur empat puluh delapan tahun. Entah kenapa ia semakin ingin berperang pada Lena, untuk memastikan Hari Hartanto tetap jadi miliknya seorang.
Kreeek!
Hari, membuka pintu dan menatap tajam. Sementara Mikha, terlihat menatap ponsel Hari, dimana sebuah surel terdapat tulisan, system herbal.
Tbc.
__ADS_1