Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 DIA DALAM BAHAYA


__ADS_3

Lama Damar membuat Siren terdiam, dan akan membawanya pulang. Keanggunan Siren memakai dress, tak lama Damar membelikan pakaian ganti yang amat mudah dikenakan, tak lupa mereka makan berbincang di pinggir jalan.


"Damar, bukankah itu orang Dady mu ya? apa kamu diam diam kabur dari kantor Dady lagi?"


"Ah! tidak perlu khawatir, kalau gitu kamu bisa pulang pakai mobilku. Atau aku hubungi Heru, supaya menjagamu."


"Ta-tapi .."


"Peganglah kuncinya, masalah Dady. Tidak ada hubungannya denganmu kok. Jadi aku minta maaf, kali ini please!"


"Aku bakal baik baik saja, kamu datang tepat waktu saja. Aku tidak ketakutan dari Daru, tempat ini tidak mungkin Daru hampiri, karena sepenuhnya ini milik keluargamu kan." senyum Siren.


"Good! aku pergi dulu, sebelum Dady Bram temui aku." Siren mengangguk.


Beberapa Puluh Menit Kemudian.


"Apa yang kau lakukan disini Siren, tidak dengan Damar?"


Mata Siren, membulat dan berdiri diam. Di saat tepat, teman baiknya datang. "Ayo, Sir cepat masuk kita searahkan, lagi pula Damar sudah beritahu aku."


"Heru, terimakasih."


Sepanjang perjalanan, Heru menatap Siren berkali -kali dan berkata.


"Kamu sedang ada masalah Sir, ayo cerita!sebagai teman baik dan teman seperjuangan dalam karier ayo ceritalah padaku!"


"Tak apa Her, aku baik tenang saja."


Namun tak bisa dipungkiri, Heru jelas lebih tau sikap Siren sedikit tak ada yang beres.


"Kau masih dalam genggaman si aktor besar itu ya,?" tutur Heru yang menjelaskan.


Meski Siren menyangkal, tapi ia pun mengeluarkan bulir air mata. Sehingga Heru membawa Siren ketempat aman, karena Damar kembali ke acara penting keluarganya.


Satu jam kemudian di Bar Briliant.


"Hai...... sudahlah menangis saja sekencang mungkin, jika lelah bersandarlah di bahuku. Kau tau, aku tak bisa melihat seorang wanita menangis, karena aku jadi ingin ikut menangis. Huuuu ..... hiks."


Lama Siren ditemani Heru. Sebenarnya ia sahabat yang baik dan seperjuangan. Tapi ia tak bisa banyak membantu.


"Dasar pria lemon, kenapa kau jadi ikut menangis? apa masalahmu lebih berat dariku Her."

__ADS_1


"Tidak, kan aku sudah bilang, jika melihat wanita menangis aku jadi ikut sedih Siren."


"Cih ..... dasar pria lemon, pantas saja kau lolos dalam akting putri duyung yang selalu mengeluarkan air mata, kamu memang pandai dalam film mengeluarkan air mata tanpa ada trouble drama pribadi." sindir Siren,


tapi Heru tersenyum kembali saat Siren berhenti menangis.


Heru akhirnya menepuk pundak Siren dan berkata. " You are strong women."


Sehingga Siren pun berbincang pada Heru akan masalah beratnya.


"Daru mempersulitku di depan ayah, dan Damar, nyatanya dia adalah musuh kakek Tjandra. Bagaimana aku bisa malang begini?"


"Serumit itu kah, who aku baru tahu."


"Oke baiklah aku ada kartu nama mungkin ini bisa membuatmu terbantu." Heru menyodorkan helai kertas kecil.


"Apa ini ..?" tanya Siren.


Heru pun membalas. Jika ini sebuah pemilik saham terbesar, perusahaan yang bekerja sama dengan model, artis, aktor manapun ia paling hebat. Kebetulan anak pemilik itu teman baik kakaknya. Namanya Alex, cobalah minta bantuan pekerjaan disana tawaran nya menggiurkan. Siapa tau kamu butuh untuk melunasi si Daru kingkong itu."


"Thanks Heru ..." Heru pun membalas kembali.


"Ya mungkin kamu bisa ikut bergabung, meski secara freelance tak terikat dia perusahaan yang humble kok."


"Baiklah Siren, santai sajalah apa kamu tak percaya padaku?"


Siren pun mencubit pipi Heru sahabat, teman baik pria yang seperti wanita. Bahkan perawatan nya lebih darinya yang terkenal wanita sejagat, ia seksi repot akan perlengkapan fashion dan makeup nya.


"Kamu sekarang sibuk apa Her," tanya Siren.


Heru pun membalas masih terikat kontrak iklan dan film thailer seru kan?!


"Kenapa ga coba yang lain Her?"


"Maksudmu Sir, apa... ?" balas Heru.


"Perias wajah dan fashion Her, kamu kan cocok sepertinya."


Hahaha ..... hiks .... tertawa paksa kecil Heru menatap tajam pada Siren, namun tubuhnya melenggok tangan ke atas menyentuh pipi.


"Gak lucu Siren!" ucap Heru.

__ADS_1


"Ups jangan marah dong aku bercanda lagian."


Siren mencubit pipi Heru kembali, sehingga Heru hanya menahan gemas dan tubuh lekuk nya, ia pun mengambil sebuah cermin di tas kecil tanpa tali, sementara Siren tiba saja menerima panggilan di ponselnya.


Siren menjauh dari mobil Heru, ketika berada di satu meja bar makan terbuka. Sesekali menatap ia takut akan Daru tiba saja ada disana, benar saja terlihat pesan Daru jika ia akan menemuinya dan menyeretnya. Karena Daru tahu, dirinya sedang tidak bersama Damar, bagi keberuntungan untuk Daru kala Damar tidak bersama Siren.


"Heru .... Her, kayaknya aku pergi dulu dari sini ya!"


Siren mengambil tas nya meninggalkan Heru.


"Tapi, pesananmu ini, Siren ada apa sih biar aku temani, kalau kamu pergi sendiri aku bisa dimarahin Damar loh." teriak Heru.


"Nanti saja Her, aku ga mau kamu terlibat. Si Daru akan datang tiba disini."


Heru pun kasihan dan merasa bersalah. Harusnya ia bawa Siren ketempat private tadi, bagaimana pun tubuhku lemah tak bisa melawan pria kekar itu. Gumam Heru dengan gaya lembut wanita dengan satu tangan terangkat dan satu lagi diselipkan ke pinggangnya, lalu minum sebuah gelas kecil minuman bersoda rendah, dan Heru pun meminta pelayan membungkus, makanan agar tak mubajir.


Seorang pelayan pun menggelengkan kepalanya, "Hadeuh tuan memang bar ini warteg apa ya?"


Heru pun menghampiri pelayan itu menegurnya, namun pelayan itu pergi dan tertawa kecil karena pria itu putih handsome, tapi sayang suaranya lembut bagai wanita.


"Semoga Siren aku temui aku akan kejar dia, kasihan dalam masalah besar dia, aku harus menolongnya, bicara pada Damar saat ini juga." ucap Heru.


[ Damar, maaf tadi Siren lari kencang. Sepertinya ada sesuatu gps, kenapa si aktor kingkong Daru itu, bisa tahu dimana Siren berada. Dia sepertinya sedang di kejar! cepatlah kembali. ] pesan misterius, membuat Damar yang sedang di introgasi oleh Dady Bram, membuatnya hilang fokus saat itu juga.


"Dady, izinkan aku pergi kali ini. Damar janji, akan kembali!" pinta Damar, pada Bram. Di saat rapat penting berlangsung.


***


Di sebuah gedung bawah memarkir mobil, ketika Siren sedang berjalan. Ia berusaha mencari mobil Damar, yang lupa ia parkir ditempat mana. Tapi sudah ditemukan seseorang yang membuat Siren ketahuan, harusnya ia tadi di dalam mobil Damar saja, sehingga tidak ketahuan Daru yang ternyata masih mengikutinya.


"Siren, tunggu berhenti!"


Siren mendengar suara tak asing, ia pun menoleh kebelakang, ia syok ketika Daru berlari mengejarnya. Ia pun segera pergi dan mencopot kedua sepatu tingginya.


"Gawat, apa ponsel ku di pasang gps. Kenapa dia bisa tau kemana aku berada." Siren berlari dengan lelah dan ia bersandar pada celah tembok kecil.


Sepuluh menit, berlalu Daru tak menemui Siren. Ia tetap masih mencari hingga bertemu.


"Siren, jangan bersembunyi jika aku dapatkan dirimu, aku pastikan malam ini kamu menyesal. Akan aku nikahi kamu dan tak akan pernah sedikitpun aku beri celah kamu menghirup udara." Daru berteriak saat itu, membuat Siren memutar mata ketakutan.


TBC.

__ADS_1


 


 


__ADS_2