
Anak-anak yang kira-kira berusia kurang dari sebelas tahun, hingga enam belas tahun itu memeluk Olive begitu erat. Mereka berteriak dan menangis, meminta untuk diantarkan pulang.
Bram tahu sekitar anak anak itu berusia seumuran Arsen, dan ada juga adik kelasnya. Bram mendengar cerita, kala Arsen siuman. Ia amat trauma, tak ingin tinggal di tempat tinggalnya lagi, dan kembali bersekolah di tempat yang sama. Bram pun mulai berfikir, jika alamat itu tidak aman, polisi tak bisa menyentuh para penjahat yang tega pada anak anak itu.
Bram berniat mendirikan sekolah, untuk menampung mereka semua yang trauma. Jika sampai sekolah itu dapat Bram tuntut, tapi tak bisa di selesaikan. Maka satu satu jalan adalah mendirikan sekolah baru, dan memblok area terlarang yang sudah zona merah untuk tidak ditinggali siapapun. Bahkan Bram berencana menampung beberapa ekor singa buas, agar penjahat tak menyentuh lokasi itu lagi.
Kini giliran Bram, yang terkekeuh geli, menahan diri untuk tidak tertawa. Lantaran melihat Olive yang kerepotan harus mengurus anak-anak itu.
Kalau saja bukan anak-anak, Olive sudah pasti akan membentak mereka karena terlalu berisik, membuat telinganya menjadi sakit.
Dia mengatur napasnya, mengendalikan emosi serta pikirannya agar tidak meledak-ledak karena rengekan anak-anak ini, ternyata membuat kepalanya ingin pecah.
"Ayo, kita pergi dari sini dan bertemu teman-teman kalian di luar!"
Akhirnya anak-anak itu mau menuruti perintah Olive! meskipun harus diberikan embel-embel terlebih dulu.
Bram pun mengikuti mereka di belakang, dengan langkah tergopoh-gopoh dirinya mencoba untuk tetap berdiri dan mempertahankan kesadarannya.
Mereka meninggalkan rumah Markas yang penuh akan kenangan buruk itu. Bram, ingin berkeliling lebih dulu guna memastikan tidak ada lagi anak-anak yang disekap. Namun, Olive, menerangkan bahwa sudah tidak ada lagi anak-anak di sana.
Bram pun percaya, mengingat Olive, memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.
Ketika sudah berada di ruang terbuka. Bram pun dikejutkan dengan kehadiran Tim medis dan orang-orang dewasa yang ternyata sudah mengerumuni area tersebut.
"Bagaimana bisa sudah banyak orang di sini?" batinnya sambil menahan nyeri di bagian bahunya.
"Aku yang sudah memanggil mereka semua. Kau tahu bukan kalau aku ini bukan hanya Kepala Sekolah, tapi seorang Dokter juga?" bisik Olive sembari tersenyum bangga.
Bram, mendongak, didapatinya alis Olive yang naik turun, menunjukkan kalau dirinya seorang yang hebat.
Bram, menyelengos kemudian :
"Owh ... Kalau begitu terima kasih karena sudah repot-repot mengerahkan semua tim medis, untuk membantu anak-anak di sini," katanya dingin, menatap datar orang-orang di depannya.
Perlahan-lahan pandangan itu mulai remang-remang. Terlihat mereka yang di depan mata tampak bergoyang tak beraturan. Bram pun sedikit menahan pusing, ia kelelahan karena tadi habis bertarung. Sehingga ia menopang pada tiang listrik, yang Olive juga tak sadar Bram sedikit lemah. Karena saking sibuknya membantu anak anak.
BRUKGH ...
__ADS_1
Bram pun ambruk di detik itu juga. Dirinya terlalu lelah dan juga kehilangan banyak darah, setelah bertarung habis-habisan tadi.
Bram mencoba menahan, tapi matanya samar ketika seseorang berlari ke arahnya. Entahlah apa itu mimpi, yang bersamaan ada bayangan tulisan sebuah misi yang memberikan ucapan selamat.
Tling! ....
80 % .....
85 % ....
99 % ....
Loading!!
[ Selamat Bram, misi menjalankan membunuh para penjahat. Dan menyelamatkan banyak nyawa berhasil! Saldomu kian bertambah, sebesar membeli tiga pesawat yang sudah di tambahkan ke akun id mu! Tetaplah berbuat baik ... Kehidupan Makmur Jutawan Tanpa Batas, sudah digenggaman! .. ]
Bram sempat membacanya, meski samar tulisan itu, bagai angin yang dibatasi kaca bergaris garis, tapi seketika tulisan itu lenyap saat di belakangnya Bram melihat seorang perempuan yang mirip ia kenali dengan anak kecil, akan tetapi karena pusing jadi tidak jelas atau blurb.
Olive juga syok, kala menoleh Bram sudah tergelapak di tanah. Lalu menoleh ketika mobil putih datang, seorang wanita membuka pintu mobil dengan anak kecil yang baru saja siuman.
Seseorang berlari ke arah Bram, seolah Olive tertegun menatap pemandangan bagai serial adegan romantis yang tengah bersandiwara, dan Olive hanya tercengang menyaksikannya saja. Ia tak menyangka wanita itu berhasil menemukan keberadaan Bram, dengan mobil aparat kepolisian dengan begitu berani.
"Bram, ayo bangunlah! Jangan lagi tinggalkan akuuu.." menangis histeris.
Olive pun segera meraih Bram, meminta pihak medis untuk membawa Bram ke rumah sakit. Terlebih disana Elea mengekor dengan Arsen si bocah yang ikut membantu menenangkan teman teman, adik kelasnya yang di sandera.
***
Dua Minggu kemudian.
Bram, pun akhirnya membuka matanya. Setelah tujuh hari terakhir tidak sadarkan diri. Begitu setia Elea menemani kekasihnya di rumah sakit, sungguh Elea tak bisa membayangkan jika ia terlambat sedetik pun. Maka Elea akan kehilangan Bram lagi, dan mungkin untuk selamanya menjadi penyesalan.
Elea yang tertidur di pangkuan tangan Bram, yang terdapat selang infus. Perlahan menggerakan tangannya, membuat Elea ikut bangun.
"Di ... ma .. na .. a-aku? Su-dah berapa lama aku tertidur?" tanyanya kebingungan, sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Bram, kamu sudah sadar..?" senyum Elea, tampak Bram ikut terkejut menatap kekasihnya sudah ada disampingnya. Lalu Olive datang tepat dibelakang Elea menyambar.
__ADS_1
Olive telah berdiri di sisi Elea yang sedang duduk dengan tatapan tajam, "Kau di rumah sakit. Selama 14 hari kau tidak sadarkan diri."
Bram, membuka mulutnya lebar-lebar, "Apa, 14 hari? Aku tidak sadarkan selama itu?"
Bram pun geleng-geleng kepala lantaran merasa tidak menyangka, akan tertidur selama itu.
"Bram, bagaimana apa masih ada yang sakit. Dimana ..?" sapa Elea.
"Ka- mu .. Si- apaaa ..?" ujar Bram, menatap seorang wanita yang membuat Elea syok menutup mulutnya. Tak menyangka kata kata itu keluar dari bibir kekasihnya begitu saja.
"Apaaa .. Kau tak mengenaliku Bram .. Serius kau kah ini...?" lirih Elea, seolah lontaran itu amat menyakitkan.
"Nona, keluarlah sebentar! Biar saya cek terlebih dahulu. Mengingat pasien baru sadarkan diri dari koma."
"Ba-baiklah dokter. Terimakasih, saya akan menunggu di luar." ujar Elea dengan berat hati melangkah.
Hingga Elea telah menutup pintu, Bram dan Olive saling menatap tajam. Utusan langit itu kini menyamar jadi dokter dihadapan kekasihnya itu. Benar benar system yang selalu memerintah dan mengubah diri menjadi siapapun, sehingga kata kata tadi Bram! Terpaksa menyakiti hati Elea saat itu.
"Aku malah mengira kau akan tertidur selama satu tahun, tapi ternyata hanya 14 hari saja, ternyata diluar ekspektasiku," pungkasnya terkekeh.
Bram, hampir melompat dari tempat tidurnya saking kesalnya dengan pria yang ucapannya selalu ingin ngajak gelud.
"Lalu, bagaimana kabar anak-anak itu? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Bram, langsung mengubah topik pembicaraan.
"Mereka baik-baik saja dan kondisi mereka pun berangsur-angsur membaik, tapi tidak sedikit pula dari mereka yang masih mengalami trauma mental dan psikisnya," terang Olive datar sambil melipat tangannya.
Dirinya juga menambahkan kalau orang tua dari setiap anak sudah berdatangan, dan mulai berkumpul kembali dengan anak-anaknya.
Mendengarnya, membuat Bram tersenyum sumringah. Sedikitnya dia bisa bernapas lega sekarang karena kerja keras telah berhasil mengembalikan senyuman, yang selama ini mungkin telah terenggut.
"Apa kau senang?" celetuk Olive yang langsung menyadarkan Bram, dari lamunannya.
"Senang telah menyelamatkannya, tapi bisakah aku tidak berpura pra amnesia. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya?" pinta Bram, yang saat itu bernego pada Oliver si utusan langit.
"Kau sedang memohon .. Atau Bernego ...?" senyum Olive yang ingin menertawai Bram.
Tbc.
__ADS_1