Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 PROYEK DADY


__ADS_3

Meninggalkan makam Elea, Bram tak segan memberitahu perihal darurat yang tak bisa ia datangi! jika apa yang ia lihat saat ini, matanya yang salah! Bahkan system itu akan sempurna, jika ayah resmi dari Damar percaya, cahaya itu tembus melihat ibu Elea sekedar menumpahkan rindu.


Belum sempat Damar menjelaskan, pintu cahaya dari balik pohon. Bram meminta Damar ke kontruksi untuk mengeceknya sekali lagi.


"Dady.. bisa fokus, disana ada ... dan lihat!"


"Damar! jangan buang buang waktu! cepatlah pergi bersama Alex!" Bram meninggalkan Damar, yang kala itu sudah ditunggu. Sementara Alex meminta Damar untuk bersabar sedikit lagi, jika Bram memang amat kerasa kepala.


"Tuan Muda! ayo kita pergi sekarang! bersabar akan membuahkan hasil." ujar Alex membuat Damar tak berkata, hingga mereka berada dalam mobil yang berbeda dan tujuan yang beda pula.


Masalah Proyek Dady?! lirih Damar kesal.


Mereka berjam jam mengelilingi, membuat Damar tahu beberapa perusahaan keluarganya yang harus ia tekuni. Bahkan waktu untuk punya kekasih pun sulit jika Damar bayangkan.


"Apa tidak bisa menunggu kita pulang dulu?" Damar dan Alex bergegas meninggalkan BI setelah mereka pamit berpisah dari makam sang ibunda.


"Tidak bisa, Tuan muda. Ini sangat darurat," sahut Alex, yang sering disapa paman setelah menyerahkan beberapa file dari Bram, setelah dari lokasi pemakaman ibunda.


Terburu-buru, mereka bergegas menuju lokasi proyek yang sedang bermasalah. Terlebih paman Hari, ia dengar sedang di hakimi masa.


Damar benci masalah, tapi rasanya. Masalah selalu saja mendatanginya, bahkan Damar merasa, menjadi pria kekayaan unlimited masalah tidak pernah habis, semua karena uang bukan?!


"Kita ke proyek! baru ke petani lahan timun emas Dady. Paman!" titah Damar.


"Beberapa tukang bangunan di proyek itu terlihat mogok kerja, apa mungkin karena gaji yang belum dibayarkan."


Sambil mengemudi, Alex mendiktekan apa-apa saja masalah yang sedang mereka hadapi. Bahkan menceritakan pada Damar, jika Bram pernah disini hampir terluka parah.

__ADS_1


"Loh. Dari kantor lancar kan? Kenapa setelah turun bisa tersendat?" Damar baru tahu mengenai hal itu.


"Sudah pernah saya singgung sebelumnya, Tuan. Jika di dalam kantor, banyak pengerat."


Masuk akal yang dikatakan oleh paman Alex, jangan-jangan selama ini, dady mendapati karyawan culas serakah lagi, sehingga mendapat laporan palsu kembali terulang.


"Sepertinya kita harus merombak dan mengatur ulang dewan direksi." ujar Alex.


"Tidak semudah itu, juga sih paman. Mereka sudah puluhan tahun bersama proyek keluarga Hartanto. Seharusnya mereka solid. Tapi sayang, keserakahan membutakan mereka. Jangan sampai kita rombak membuat, dan mengancam nyawa lagi paman.'


Damar sedang berpikir untuk merekrut orang-orangnya sendiri tanpa Dady tahu. Supaya dia bisa siap, ketika harus menendang seluruh dewan direksi dari kursi jabatan mereka masing-masing. Atau dengan cara menemui kakek Tjandra bernego.


Rasanya melelahkan, bekerjasama dengan orang-orang bermuka dua, benar kaya Dady aku harus fokus kesini mempertahankan adalah hal tersulit yang dady jalani. Seolah perusahaan sangat membutuhkan mereka, sampai mereka lupa. Jika, ada jutaan manusia yang memiliki potensi lebih besar tengah menanti jabatan mereka.


Sampai di lokasi bangunan, Damar dibuat kesal. Mulai dari kerangka bangunan dan letaknya. Yang tidak sesuai dengan gambar yang sudah dibuat oleh arsitektur kepercayaan, dady Bram pernah ada di posisi seperti ini. Itu karena paman Alex yang menceritakannya.


Wajah Damar seketika pucat, wajah Damar memerah karena marah, dia mencoba meraih kepercayaan semua orang dengan memberi kepercayaan pada mereka.


Tetapi, Damar merasa jika kepercayaannya di ludahkan begitu saja.


"Tidak ada orang yang bisa anda percayai seratus persen, Tuan. Anda hanya harus percaya pada diri anda sendiri," gumam Alex. Mendongak menatap puncak bangunan yang seolah bergerak saat ditiup angin. Itu akan sangat membahayakan jika roboh.


Damar berdecak geram hendak menghampiri sebelum dicegah oleh paman Alex. Entah kenapa mereka merasa tertuju pada pintu gelombang, yang sering bising.


"Tunggu, Tuan muda."


"Apalagi!!"

__ADS_1


"Anda harus memakai peralatan kemanan, " kata paman Alex, menyerahkan helm khas proyek, karena tugasnya melindungi Damar dan melatihnya untuk menggantikan Bram kelak.


Mengenakannya secara asal, Damar hampir saja terluka jika tidak segera menghindar, ketika di sambit tongkat besi oleh pekerja proyek pun, mungkin langsung celaka.


Semakin berang, Damar berteriak mencari mandor yang bertugas mengawasi dan mengelola uang gaji pekerja.


Paman Alex bimbang, apakah harus mendampingi tuannya atau mengawasi tuan kecilnya.


Membiarkan mobil menyala dengan aman, Alex meninggalkan Damar yang terlelap di dalam mobil.


Lalu di tempat lain itu juga, terlihat Bram yang sedang murka kewaspadaannya minus, melihat monitor yang mengarahkan pada gerik Damar di tablet pintarnya. Karena saat itu Bram di mobil lain melihat aksi anaknya menangani kasus proyek yang tidak berjalan baik. Lalu meminta Alex mendampingi Damar dimanapun!


"Tenang, Tuan muda. Pekerja proyek itu orang kasar dan keras," bujuk Alex, supaya Damar tenang, yang saat itu mengelilingi bangunan.


"Persetan, paman! Jika ada masalah harus ada yang mengatakan dengan pihak kantor! Bukan begini caranya!" Masih berteriak-teriak, Damar menantang seluruh pekerja proyek agar keluar.


Seorang pekerja dengan perawakan dua kali lebih besar, daripada Damar dan Alex. Datang menghampiri dengan membawa cangkul di tangannya.


Alex sendiri meringis ngeri dalam hatinya, sekali ayun, sudahlah hilang nyawa sekaligus kepala.


Damar sendiri persis seperti Dady Bram. Ia tidak gentar, saat pekerja tersebut sudah dekat. Damar memilih duduk di tanah, tidak perduli dengan setelan jasnya yang mahal kotor oleh pasir dan tanah.


Alex sendiri hampir menjatuhkan rahangnya, persis sama dengan pekerja yang menghampiri keduanya.


"Mari kita duduk," ajak Damar, menatap pria pekerja disana segera mengadu, apa yang terjadi sebenarnya.


"Kau mau apa?" tanya pria itu mendekat, tak mengenali sosok Damar adalah putra pemilik proyek tersebut.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2