Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
TIDAK BOLEH BODOH


__ADS_3

"Aku tidak tahu. Apakah buku Takdir benar menyebutkan diriku menjadi guru apa?" balas singkat Bram, tanpa sedikitpun senyuman.


Sungguh Bram, amat merindukan pulang menemui papanya yang kini di rawat bersama asisten dan pengasuh, semenjak ditinggal mama inggrid. Bram juga tidak tahu, bagaimana kabar Hari adiknya itu, apalagi terakhir sekali sang mama sambungnya sakit keras, setelah terakhir Bram mendeposit pada pihak rumah sakit.


Ingin sekali, Bram menemui Elea dan menceritakan ia kembali hidup, dengan profesi barunya yang harus memberantas para mafia palsu dan preman berseragam yang pungli pada pengusaha sepertinya yang baru saja merintis.


Bram bukan pria yang pelit, melainkan para pungli dan preman itu meminta nominal jatah bulanan yang diluar batas, melebihi setengah keuntungannya. Mau tidak mau, saat itu Bram memberanikan diri bertemu kelompok naga buaya mirip genk tikus yang beroperasi di berbagai wilayah, dan mungkin menyamar menjadi profesi ganda.


Bram, hampir saja mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar. Kedua tangannya pun sudah mengepal bulat-bulat dan siap untuk memberikan satu atau dua pukulan setidaknya.


Namun, dirinya mengurungkan niat saat mengingat kembali, bagaimana Olive, yang dapat membuat seluruh tubuhnya membeku, layaknya bongkahan es batu hanya dengan jentikan jarinya. Alhasil, Bram tidak jadi melayangkan pukulan, yang dilakukannya sekarang adalah mengelah napas berulang kali agar pikirannya tetap waras.


"Terus sekarang aku harus bagaimana? Bahkan letak sekolahnya pun aku tidak tahu di mana?" tanyanya penuh kebingungan.


Sebelum Bram melanjutkan pertanyaannya, Olive sudah lebih dulu menjentikkan jarinya, alhasil keduanya kembali berpindah tempat. Sekarang posisi mereka berada di halaman belakang yang jika diperhatikan dari bentuk bangunannya, seperti sekarang.


"Sekarang kita di mana lagi?" Bram, tidak mau berhenti bertanya. Bahkan untuk bisa menelaah lokasinya berada sakarang pun tidak mampu dilakukannya.


"Manusia selalu saja banyak bertanya, tanpa mencaritahunya terlebih dulu."


Kini giliran Olive yang merasa geram lantaran terus dihujam pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutu sama sekali oleh Bram.


"Kita sudah berada di sekolah," lanjut Olive singkat.


Tanpa menimpali, Bram segera memutar badannya, bola matanya melihat-lihat sekitaran area tersebut.

__ADS_1


Dari bentuk beberapa bangunan yang ada di depan sana, memang menggambarkan suatu sekolah.


"Terus ... A-pa yang ...?"


Belum sempat dirinya bertanya perihal tugas yang harus dilakukannya, rupanya Olive telah menghilang dari pandangannya.


"Sekolah ini menyimpan banyak rahasia. Tolong berantas salah satu pengelola yang korup mengatasnamakan siswa / siswi berprestasi, mereka menjual nama tapi dari siswa tertekan segala banyak tekanan!" teriak suara Olive bergema tanpa wujud, seolah memberi Clue.


"Astaga! Dunia kehidupan begitu kejam. Apa memakan hak orang lain sudah menjadi makanan sehari hari, tanpa berat mereka pikul?"


Bram bertanya, tapi Olive telah pergi hilang begitu saja. Membuat tatapan Bram membulat sempurna.


Bram mengelah napas panjang layaknya gerbong kereta api. "Dia sudah pergi ... Si Utusan Langit itu benar-benar meninggalkan diriku di tempat yang bahkan belum pernah kudatangi semasa hidupku," ungkapnya terdengar lirih dan pilu.


Ketika pikirannya tengah menetralisir kondisinya sekarang, mendadak dirinya mengacak-acak pucuk kepalanya. Merasa frustasi dengan semua ini.


"Aaaaa!!!"


Dia mendongak dan meneriaki langit. Berteriak sekencang-kencangnya berharap Raja Langit mendengarkan keluh kesahnya, dengan begitu ia bersedia mencabut tugas-tugas aneh ini, mengembalikan profesi nyaman menjadi delivery saja! Hanya lelah tenaga, tapi menjadi bos jutawan bukan hanya tenaga saja, melainkan otak dan kecerdasan diatas orang genius.


Setelah emosinya mulai mereda, barulah Bram merasa lemah dan akhirnya tersungkur di tanah. Sepasang kaki yang selama ini menopang tubuh kekarnya kini seperti tidak lagi memiliki tenaga untuk sekedar berdiri.


"Mama. Mengapa nasibku seperti ini? Kenapa aku harus hidup lagi? Aku 'kan sangat ingin bertemu kalian, lalu kenapa aku masih berada di dunia yang kejam ini?" lirihnya dengan segala kungkungan yang menyesakkan. Kembali bisa bernapas, nyatanya membuat Bram, dipenuhi rasa sesal menjadi seorang pengusaha jutawan dalam sekejap, banyak rintangan dan duri ia lewati.


Kepingan demi kepingan ingatan akan sosok kedua orang tuanya kembali tergambar jelas dalam pikirannya. Biarpun saat itu usianya masih sepuluh tahun. Akan tetapi, Bram masih mengingat betul rupa sang mama yang begitu lembut, wanita cerdas yang notabane pengusaha bisnis. Meski jarang di rumah, tapi tidak pernah melupakan perhatiannya untuk Bram saat kecil.

__ADS_1


Hingga satu hari, sang mama jatuh sakit dan sang papa menikah lagi. Adalah hal terberat bagi Bram saat itu, ia ingin bertekad mengikuti jejak sang mama yang notabane seorang wanita, bisa sukses menjadi wanita pembisnis dan dikenal banyak orang.


Selama dua puluh tahun ini, dirinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu angkatnya serta papanya yang sering jarang dirumah membuat Bram, diperlakukan beda dengan Hari, sang adik.


Selama itu pula Bram hanya tinggal bersama asisten dan pengasuh. Meskipun masih ada orang yang mau merawatnya, tetap saja Bram merasa kesepian, apa lagi dirinya yang tidak memiliki saudara lain, memposisikan dirinya sebagai manusia paling kesepian, dan tidak dendam pada adik tirinya adalah cara Bram! Mengasihi.


"Aku lelah dengan semua drama ini. Tugas apa ini, sistem seperti apa yang kudapatkan? Di mana-mana juga, tugas Sistem tertinggi bukanlah menjadi seorang guru. Tapi jika para preman palsu berkuasa di dataran orang lemah menengah, aku tidak akan biarkan."


Bram, menjeda kalimatnya cukup lama, sebelum akhirnya mengelah napas panjang,


"Aku hanya si sampah yang pantas untuk dibuang dan diinjak-injak. Jika kali ini aku tidak bisa menyelesaikan misiku." lirih Bram.


"Benar apa yang mereka katakan. Aku hanyalah pria lemah! Bahkan untuk membunuh seekor kecoa pun aku tidak mampu. Semua karena aku kasihan, tapi demi kehidupan kedua aku tidak boleh bodoh lagi."


Elahan napas terus Bram, lakukan tanpa jeda. Rasanya dia ingin menggali lubang besar, lalu mengubur dirinya hidup-hidup di sana, dengan begitu semua masalah yang ada akan cepat selesai.


Ketika pikirannya tengah kalut, tiba-tiba saja dirinya dikejutkan dengan orang orang murid yang tanpa sengaja lewat.


"Lihat! Ada orang aneh di sana. Siapa dia?" bisik salah satu murid pada temannya.


Bram, bisa mendengar jelas ucapan murid tersebut, lantaran keduanya berdiri tidak jauh dari posisi duduknya.


Kalau sudah begini, Bram benar-benar frustasi dibuatnya. Dirinya benar-benar ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga, tanpa peduli tugas dan Takdir Langit yang membuat kepalanya sakit tanpa henti.


"Apa anda Bramanto?" tanya seseorang, membuat alis Bram, tekejut pria itu bisa tahu nama singkat panggilan kecilnya dulu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2