Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 USAHA BARU SIREN


__ADS_3

Esok harinya, beberapa menit kemudian Siren berendam di bathroom yang luas, duduk di bath up memandang jendela, kamar itu menembus kearah langit - langit kerlap kerlip perkotaaan yang tembus pandang. Jika disiang hari amat terlihat tapi karena malam. Hanya keindahan perkotaan yang padat dan bangunan tinggi.


Sudah dua malam Siren bersama suaminya, dengan kado pernikahan dari papa mertuanya yang kini baik merestui mereka.


Lama Siren tersenyum memandang langit benar benar sangat indah, hingga tak sadar dibelakangnya sudah ada suaminya yang memeluk dan beraksi kembali.


"Hubby, aku belum selesai kamu sedang...?


Ah! memulai kembali dan kembali Sehingga Siren pun kelelahan, meminta ampun pada suaminya itu.


"Bukankah kita tidak ingin menunda mongmongan, aku ingin punya banyak anak darimu sayang! agar generasi kita berlanjut."


"Kenapa tidak dua saja?" lirik Siren.


"No! perusahaan dady Bram banyak, syarat ia merestui kita adalah, Dady Bram ingin kita membuatkan cucu yang banyak, lagi pula perusahaan Dady yang diturunkan padaku, tidak akan habis. Aku ingin anak anak kita merasakan semua harta orangtuanya masing masing."


"Bukankah semua hanya titipan?"


"Titipan, tapi kekayaan ini membuat aku bingung untuk apa. Kita telah memberikan banyak pada yang berhak, tapi semuanya tidak habis. Jadi aku rasa satu tahun satu anak, aku sudah menyiapkan nama dan perusahaan untuknya ketika ia lahir, kelak dewasa ia harus memimpin agar keluarga nomor satu tidak tergeser." ujar Damar, membuat Siren menghela nafas.


Seperti ini rasanya, hidup dengan pria miliader, bahkan Siren tak sangka, Damar memperjuangkannya mati matian.


Damar benar benar membuat balasan, Jika Siren berani berulah, hukuman ini akan ia jadikan tameng jika istrinya ber'ulah jahil. Hingga selesai mereka pun bersantai dikamar dengan menonton dan Damar, masih setia melihat grafik perusahaan yang semakin ada di jajaran nomor satu. Bahkan jika ia bersantai pun jutaan dollar akan tetap masuk pada rekeningnya.


Siren memeluk erat pinggang Damar, dan menyuapinya buah Apel dan jeruk yang sudah di kupas.


"Sayang apa kamu bahagia?"


"Heuumph, sedikit hubby menatap jahil."

__ADS_1


"What, sedikit kamu bilang?"


Damar langsung membalas kecupan dan menindih tubuh istrinya.


"Iya ... Hubby maaf! Aku hanya bercanda aku mohon beri aku nafas! Aku akan jawab jujur. Aku amat bahagia dan soal apapun itu masa lalumu. Aku tak ingin dengar, jangan buat aku cemburu aku hanya bersikap tegar dihadapan mata oranglain. Memandang tapi sebenarnya, sebaliknya aku ingin marah tapi emosi ku, selalu memendam nya. Karena aku tak ingin membuat malu seorang suami tampanku ini dihadapan oranglain dengan kemarahan berlebih." jelas Siren.


"Benarkah sayang, aku amat beruntung memilikimu. Kamu melindungiku bagaimana kamu melindungi dirimu sendiri sayang?"


"Mmmmm .... tidak perlu ada Tuan Tampan dihadapanku ini yang akan melindungi hati dan segalanya. Diriku amat mempercayaimu aku akan tutup mata telinga, sebuah masa lalu sudah tertinggal hanya ada masa sekarang, masa depanku dengan tuan tampan ini."


"Siren, kamu membuat aku selalu di atas awan."


Siren menatap mata Damar dan hidung yang indah. Sungguh Hubby aku iri dengan mata dan hidung indahmu, bulu matamu amat tebal sekali, apa kamu menginginkan miniatur mu cepat lahir?!


"Sayang aku tidak akan memaksa aku hanya perlu kamu selalu bahagia. Tapi mungkin dengan adanya penerus itu perlu dan hari hari kita akan lengkap dan berwarna."


Siren tersenyum dan membalas dengan pelukan sehingga mereka pun bermain kembali, hingga terlelap sebuah film drama horor yang menonton aksi mereka bukan sebaliknya mereka menonton film drama.


Damar menginginkan pergi berlibur honeymoon keluar negara. Namun persiapan resepsi dan urusan kantor yang ia ambil ahli sehingga tak bisa pergi jauh. Ia menginginkan waktunya seharian full bersama istrinya, jika satu hari habis di perjalanan. Damar tak menyukainya jika pergi keluar negara hanya habis dengan sia sia waktu. Amat mubazir terlebih Siren pun harus terjun ke butik gaun yang benar benar membutuhkannya, karena saat ini Damar menyiapkan istrinya membuka usaha gaun wedding ternama, ia hanya sebagai klien terbesar yang saat itu, Siren hanya akan punya penghasilan tambahan.


Siren kala itu sudah terbangun dan ponsel berdering dari papa mertua nya mengirim pesan.


"Siren, jika selesai waktumu berkunjunglah ke rumah. Dady ingin bicarakan satu hal penting!"


Hubby .. hubby ayo bangun Siren, mengecup suaminya melihat jam sudah pukul 10 pagi, aaaakh... benar - benar parah, bisa bisanya aku bangun jam segini. Badanku sedikit pegal dan Damar menariknya dan menutupnya dengan selimut. Ia kini menerkam kembali, entah bagaimana Siren hanya pasrah mendapat perlakuan seperti ini, ia hanya berfikir apa karena masih suasana pengantin, ia memaklumi Damar suaminya yang meminta jatah terus menerus.


Jika suaminya selalu meminta terus menerus satu kesalahan kecil salah berbicara suaminya, akan menghukum dengan menindasnya agar segera hamil.


Siang hari pun mereka sudah rapih untuk segera check out. Siren berdiri dengan sedikit lemas dan perih.

__ADS_1


"Hubby please bantu Aku!"


Bantu aku amat sakit sekali aku lupa bawa sandal tanpa kaki, sehingga heels ini sulit membuatku berjalan.


Damar pun menghubungi pelayan hotel, dia membawakan barang barangnya hingga ke parkiran, sementara Siren digendong oleh suami tercintanya dari keluar pintu lift. Sungguh membuat Siren terharu, ia mengacungkan jempol. Betapa seromantis drama film melihat pasangan manis itu.


'Damar menggendongku dari pintu keluar meski banyak tatapan menatap.' batin Siren, ia melihat wajah suaminya tetap cool hingga tiba di depan mobil.


"Makasih ya mas sahut Siren." pada pelayan hotel itu.


Damar tak lupa memberi tips pada pelayan hotel lebih. Lalu beranjak bergegas dari tempat itu dengan bahagia menatap dan menggenggam tangan Siren.


"Hubby, apa aku bisa ya. Aku gugup kalau bertemu Dady Bram, membahas butik yang ia siapkan, berkali kali beritahu jika seperti ini apa aku bisa."


"Sudahlah sayang, ayo aku akan membuat mu rileks jangan lupa memberi salam pada Dady, semua itu ketika aku sibuk kamu punya kegiatan tidak jenuh di mansion!"


Siren pun mengangguk, ia membalas perkataan suaminya. Siren mengecup bibir suaminya itu.


"Terimakasih sudah membuat aku bahagia."


Damar pun membalasnya. "Aku pun beruntung telah memilikimu sayang." bisik nya.


Satu jam kemudian, di depan mansion Bram Hartanto.


"Baiklah ayo kita sudah sampai, hati hati sayang turun!" ucap Damar pada Siren kala itu.


Dan mereka pun melaju ke pintu utama dan terlihat ada yang memanggil, membuat mereka menoleh ke belakang.


"Tuan! Nona." teriaknya, membuat mata Damar menaikan alis sebelah.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2