
"Mikha, bantu aku!" sapa Siren, ketika acara berlanjut selama enam jam.
Siren dan Mikha berada dalam jamuan sambutan, hidangan demi hidangan mereka lewati. Ketika acara selesai dan berjalan lancar, pihak penyelanggara berterimakasih padanya.
Pak Kenan memberi selamat serta, berterimakasih pada Siren dan Mikha. Project menjadi bagian model. Awal meniti kariernya dan bekerja freelance. Job di setiap acara, selalu memukau.
"Mari kita cheers rayakan kemenangan ini. Semua kru!" ucap Kenan, pria paruh baya asisten Bram itu merintis usaha butik, setelah kecelakaan beberapa tahun lalu bersama putranya ke jurang, sehingga kini yang menjadi asisten kepercayaan adalah Alex, si pria IT kemampuan di luar robot.
Beberapa Artis papan atas ternama, ikut bergabung tak lupa seseorang sudah memperhatikan Siren dari jauh.
"Siren, aku kok sedikit aneh ya ada apa dengan sosok di sana memperhatikanmu terus?" tutur Mikha
"Mikha , jangan mengacau! mungkin dia melirik mu jangan memulai, aku sudah bersuami." bisik Siren membalas.
"Hiks, kau pikir aku juga tidak bersuami. Sayang saja, suamiku tidak sepertimu memberi tanda di leher kan, aku tahu syal itu melilit karena kau menutupinya kan?"
"Mik .." kesal Siren, yang terus saja Mikha menggerutu.
Tak lama seseorang datang, membuat Siren terdiam kaget, tapi ia putuskan untuk tetap tenang.
"Siren .. lihatlah." bisik Mikha yang terkejut.
Siren pun melirik Mikha, dan sebentar ke arah Daru. Dalam batin bergemuruh kesal, karena sudah memberi umpan meski model dan Artis adalah impiannya. Tapi ia masih takut dan belum sejauh itu, apalagi pertemuan ini terlihat Daru di sebrang sana ikut hadir dalam project.
'Kenapa dia disini, bukankah dia di penjara?'
"Ah! kamu lupa Siren, dia juga orang kaya. Bisa bebas dengan jaminan, kecuali dia membuat ulah lagi. Sebaiknya kita pergi dari sini, setelah acara selesai Siren!" bisik Mikha, di anggukan Siren.
"Baiklah, saya harap nyonya Siren dan Mikha, bisa ikut bergabung dan saya akan menunggu, pak manager beri kontak personal nona Siren."
Siren tersenyum dan satu jam kemudian mereka bubar. Namun Siren meminta Mikha menunggunya, terkait ingin ke toilet dan sedikit pusing, ketika di cermin toilet. Siren tak lupa, memberi pesan suara pada suami tercintanya itu.
[ Hubby ... sedang apa? Acara ku sudah selesai sedang makan malam dan acara jamuan. Sebentar lagi aku kembali ke hotel bersama Mikha. Di luar dugaan besok setelah pameran kontes catwalk mungkin sore aku segera kembali. ]
Saat menunggu balasan perut Siren, merasa mual dan pusing. Ia mengambil minyak angin dan bergegas. Saat menuju ruangan luar dari toilet. Langkah Siren dikejutkan dengan Daru mendekat, senyum seringai ke arahnya.
Tapi seseorang tiba saja memanggil, sehingga Daru, tidak jadi membawa Siren.
"Ada apa tuan Daru? kenapa anda disini di depan toilet wanita ini area wanita." ujar bodyguard wanita tomboy, menghampiri keberadaan Siren.
"Tak apa, saya hanya ingin bertanya, dapat bergabung. Kita bisa berdiskusi dan diluar kerjaan, bisa kita bicarakan lebih lanjut di cafe atau resto sekitar sini, apa berkenan." paksa Daru bertanya.
"Maaf Tuan, Akan tetapi melihat kondisi nona Siren, sepertinya sedang tidak baik." ujar bodyguard meminta memberi jarak.
__ADS_1
"Maaf Daru, saya belum bisa memutuskan karena saya .. Hoek." terkejut semua.
Siren berlari kembali ke wastafel toilet. Sementara tuan Daru, tercengang kaget dan menunggu.
Sekembalinya Siren, Daru masih menunggu.
"Ada apa nona, apa anda sakit bisa aku bantu?"
"Tak apa, Tuan Daru, aku hanya terlambat makan sebentar juga sudah reda, soal itu nanti aku pikirkan matang matang karena, setelah kontrak aku tidak ingin mengambil resiko dikemudian hari. Terlebih aku berada di butik, karena Dady tapi aku tidak diperkenankan jadi model apalagi aku tidak boleh lelah oleh suamiku, jadi jaga jaraklah!" ketus Siren.
Siren meminta sang bodyguard, dan meminta mengantarnya, karena dirinya benar benar lemas.
Mereka pun bergegas bersama menuju ruangan meja jamuan, dan banyak menatap mereka sehingga tak sedikit yang memotret Siren dan Daru bersamaan berjalan, merubah bodyguard di samping yang sebenarnya yang mengantar.
Pak Kenan, menatap penuh tanya mengapa kembali bersamaan?
Setelah Siren duduk. Mikha menoel. Siren apa yang kamu lakukan lama sekali, mengapa kamu bersamanya berjalan? Paman Kenan menanyakan itu padaku, taukah banyak potretan jika kamu tak sadar, media disini jahat Siren.
"Jangan banyak berfikir aneh Mikha, aku bersama bodyguard." bisik Siren pada Mikha.
Di Berbeda Tempat.
[ Sayang .. aku merindukanmu aku sedang meeting dua perusahaan asing bersaing. Karena lemahnya programer IT asing, paman Alex berdampak pada perusahaan Dady, Aku ingin sekali menyusul mu baik - baiklah disana jangan nakal! ]
Damar saat itu, memberi pesan suara balasan ponsel, ketika menerima kabar dari istrinya itu.
"Baiklah Sena, silahkan pergi dari ruangan ku, dan acara kita yang tak penting aku harap Skip!"
Maaf pak bos, setelah jam 8 malam ada meeting diluar bersama tuan Grabe, Investor kita mengajak bos Damar, hadir ingin menjamu dan membahas masalah perusahaan juga.
Damar, lelah andai istrinya ada ia mungkin semangat, sedikit ia membuka kerah dasi karena gerah dan membuka kancing lengan dan menaikinya, karena lelah beberapa meeting.
"Tak sadar Sena meliriknya, penuh arti."
"Ada apa kamu disini silahkan pergi, kita tetap akan datang katakan pada tuan Grabe!" ketus Damar, pada sekretaris itu.
"Baiklah, maaf saya permisi."
Tak lama Sena membalikan arah kembali.
"Damar maaf jika saya lancang, tidak kah menghubungi Siren. Sudah ada berita hits diluar dalam acara, padahal belum 12 jam berita sudah menyebar."
"Sena, ini kantor jaga sikap dirimu kita memang teman. Tapi ini kantor profesional lah, jangan campuri urusan istriku! kamu tidak berhak, silahkan pergi dari ruangan saya!"
__ADS_1
"Maaf bos Damar, saya lancang & permisi." batin Sena keluar dari ruangan, misinya segera dimulai.
'Lihat saja Siren. Jika aku tak bisa mendapat Damar, aku yakinkan kamu tak tahan.' batin Licik Sena.
Tak lama Arini menghubungi Sena, ia pun mengangkat setelah mereka berbicara dan mengakhiri.
"Hah Arini yang bodoh, Kamu memang mantan terindah Damar, saat di sekolah. Tapi aku teman kecil yang sudah menyukainya. Namun Damar tak meliriknya, setelah adanya Siren. Jangan harap kalian berdua bahagia."
Sena menunjuk sebuah foto Siren dan Arini di ponselnya.
Kembali Di Paris.
Siren sudah dengan piyamanya bersama Mikha, ia bercerita banyak hal. Banyak ia beradu argumen.
Ketika itupun notif pesan chat Siren berubah menjadi kaku.
"Ada apa Mikha, kok ga lanjut bicaranya?" tanya Mikha.
"Mi, Damar memasang wajah merah, maksudku gambar emoji marah dan pesan suara terbakar cemburu cepatlah pulang,
menurutmu Ada apa, dia kasih pesan seperti ini ya? Aku sedang tak melakukan kesalahan kan." menunjuk layar ponsel.
"Wah, aku juga enggak tahu. Suamimu perfect, apa begini ya aku nikah sama pria berumur, bahkan Hari Hartanto datar saja tidak seperti Damar."
"Mik, aku bertanya malah kamu bicara yang lain." jawab Siren.
Ting nong. Bel hotel berbunyi
"Aku lihat dulu Mikha, siapa yang datang?"
"Iya."
Siren pun membukanya dan melihat bucket bunga bertuliskan 'untuk Nona Siren.'
'Apa Tanpa Nama.'
Siren pun melihat itu dibalik pintu. Namun jepret an yang sedikit memantul cahaya, Siren pun melirik arah kirinya namun orang itu sudah pergi.
"Ada apa Sir?" tanya Mikha, menghampiri.
Siren memberikan bucket bunga, pada Mikha dan ia segera masuk.
"Dari siapa?" tanya Mikha.
__ADS_1
"Entahlah, ambil aja buat kamu." sebal Siren, ia masuk meraih ponselnya lagi.
TBC.