Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 LABILNYA ISTRIKU


__ADS_3

Selesai bermanja Ria, Siren pun mengambil ponselnya, ia teringat akan Mikha.


"Hubby aku akan menelepon Mikha dulu, aku takut ia akan pulang ke hotel lama, acara perjalanan akan lama, bagaimana jika kita pesankan kamar di hotel ini agar besok berangkat bersama?" tatap Siren pada suaminya.


"Sayang, apapun itu dengan senang hati, biar ku tanya pada Paman Hari, sebab katanya dia hanya sehari disini, dady Bram pasti memerlukannya."


"Benarkah?"


Setengah jam berlalu akhirnya, Siren menutup ponselnya dan menatap suaminya itu.


"Hubby aku akan menyusul Siren, katanya Suaminya tidak ada, dia sendirian tak bersama om Hari?"


"Sayang tunggulah aku tak ada hubungannya dengan ini percayalah! jangan kemana mana aku akan menghubungi paman Hari, apa selarut ini dia ada pertemuan juga."


Damar menahan Siren, dengan memeluknya dan me-speaker percakapannya lewat ponsel om Hari. Sehingga lama mereka berbicara dan membuat Siren murka.


"Jadi, mereka di lantai ini juga, memesan kamar. Oh, astaga benar benar boros."


Di Beda Tempat.


Di satu sudut dalam melangkah, ketika lama berjalan heels Mikha sedikit copot.


"Akh .. sial kenapa harus copot."


Tak lama seseorang datang.


"Hai kamu, Mikha kan, mengapa disini, apa perlu bantuan?"


Mikha mencari celah dan menatap siapa yang berbicara dengannya.


"Lho tuan Taky, saya sedang menunggu bus, akan ke hotel george V, sedikit liburan jadi saya berencana menginap sampai esok kembali acara selesai." senyum Mikha, melihat tuan Taky, setidaknya ia terhibur melihat pria dihadapannya itu.


Beberapa jam lalu mereka terlihat baik baik saja, namun entah mengapa kedatangan mantan istri, membuat Mikha berdebat apalagi kesal, ketika Hari Hartanto, melihat mantan istrinya terbaring dijalan, dan membawanya ke rumah sakit, melupakan dirinya.


'Dasar suami berumur, harusnya dia pentingkan perasaan aku.' sesak Mikha.


Sementara di ujung, Hari melirik mencari Mikha dan terlihat juga, ia pun berbicara kecil.


'Dasar wanita cemburuan, jika bukan karena Damar aku malas mencarimu, lihat saja belum satu jam sudah mengobrol dengan pria asing? apa begini menikah dengan gadis labil.' gumam Hari. Perlahan membuntuti Mikha dari belakang, yang dimana istrinya sedang bertemu seseorang dijalan.


"Kenapa tuan Taky, sendiri tidak bersama tuan Daru?" tanya Mikha.


"Owh, sebenarnya saya sedang mencari angin Mikha, kebetulan sekali kita bertemu, lagi pula bos Daru sedang memberikanku tugas penting, kamu sendiri kenapa sendiri?" tanya Taky.

__ADS_1


"Aku, karena Siren, ia menginap dan sudah memesankan ku kamar bersebelahan, agar besok kita acara bareng bersama."


"Dengan gaun seperti ini apakah sendirian?" tanya tuan taky.


"Iya, sendirian .." sekenanya Mikha, karena kesal dengan suaminya itu.


"Baiklah, apa mau minum makan denganku dulu, biar aku antar nanti ketempat tujuan. Taky membujuk Mikha, agar niat mencari info Siren yang di suruh Daru berhasil, sedangkan ia sendiri sudah tau jika Siren ada di hotel itu, hanya saja akses masuk ia tak punya."


"Aku, ga bisa Taky aku lelah sudah berjalan jalan dan mencari angin sendirian, rasanya lelah, ah tapi aku akan ke butik sana. Bagaimana kita minum cofee disana Taqy? aku juga ingin membeli baju santai, gaun ini menyusahkan ku."


"Tapi gaun mu indah sesuai dengan dirimu Mikha." rayu Taky.


'Ya gaun ini indah, tapi perkataan yang menyakitkan membuatku ingin membuangnya.' batin Mikha, bergemuruh ingin berkata, tapi untuk apa, orang mendengarkan tak akan mengerti perasaan ia kini sesungguhnya.


"Gaun ini tak ada indah dan spesial nya tuan Taky, hanya mencoba saja, jadi aku ingin memutuskan kembali memakai kostum formal," senyum Mikha disambut Taqy yang mengantarnya.


Sementara Hari, mengepal tangannya, bisa bisanya gaun itu tak indah dua jam lalu aku berikan dan memanjakan mu masih bilang,


Dasar Gadis labil, silahkan pergi dengan laki laki lain aku tak akan mengganggumu!!


Hari Hartanto, adalah pria yang malas jika pasangannya merajuk, ia lebih memilih pergi dan mencari hiburan lain.


Satu jam kemudian, Mikha sudah didepan hotel george V, ia pun menatapnya dan menunggunya di loby, lalu mengirim chat pesan pada Siren sahabatnya itu.


"Hubby, aku ke loby dulu ya aku akan mengantar Mikha, ke lantai sebelah, bisakah kamu izinkan aku, tiga jam mengobrol dengan sahabatku, please. Sepertinya Mikha sedang bertengkar dengan Om Hari."


"Baiklah muach, thanks hubby ku."


"Sayang kabarkan aku, jangan lama lama dan tertidur ditempat Mikha ya, ingat ada aku yang menunggumu." ucap Damar, yang terlihat manja.


Tak lama Siren, sudah dilantai bawah naik lift. Ia pun tiba memeluk Mikha, menggapainya dan melirik kenapa tuan Taky.


"Lho, om Har, mana?"


"Aku ga tau Siren, ga sama dia bener deh. Pria itu buat aku kesal hari ini. Ayo aku lelah Siren!"


Hal itu membuat Taqy pun pamit, karena tak bisa masuk. Apalagi Mikha terlihat bermasalah malam ini.


"Baiklah ayo Mik, kamu pasti lelah sekali."


Sesampai di ruangan kamar, Mikha memeluk dan bercerita panjang sedetail mungkin, Siren pun menenangkan dan berbicara kita akan memberikan pelajaran, kita lihat nanti kamu tetap fokus pada karier mu ya Mik, ada aku kita akan selalu support membantu selamanya.


Hingga lama mereka berdiskusi. Tak lama, dikejutkan dengan tamu didepan pintu Mikha.

__ADS_1


Tling Nong.


"Siren, siapa yang datang?" tanya Mikha.


"Mungkin husband ku, biar ku lihat ya."


Sesampai pintu Siren, membuka dengan suara manja,


"Iya hub...?"


Dan Siren, pun terdiam mematung kebingungan. Mikha pun menghampiri dan saling diam menatap.


"Kenapa anda bisa ada disini tuan Daru?" tanya Siren.


"Aku sedang ada disini juga, kebetulan ingin menemui Mikha,"


"Mikha pegang berkas ini untuk esok acara, dan untukmu Siren juga ada penyambutan berharga yang harus kalian tampil kan, maaf terkesan dadakan. Aku tak mempunyai nomor ponsel kalian, tapi aku tau akses disekitar kota ini, baiklah ini bucket untukmu Siren .. uups maksud saya untuk, kalian berdua. Aku pamit." jelas Daru, yang kala itu pergi.


Siren dan Mikha saling diam, kenapa Daru bisa ke atas.


Terdengar suara langkah kaki, datang sangat familiar tiba saja.


"Sayang, apa itu? bucket bunga siapa yang kamu pegang dan tadi kenapa ada Daru sialan, pria besar itu?" tiba Damar menyapa.


"Hubby, aku ini punya Mikha, iyakan Mik. Hehehe, tuan Daru memberi padanya, tapi karena tangan Mikha sakit, aku bantu pegang."


Dan kebohongan Siren, ia mengigit lidahnya, menatap Mikha dengan wajah bingung.


'Eh, kenapa aku gugup.' batin Siren lemas.


"Baiklah, ayo sayang kita ke kamar aku sudah melihat dan mendengarkan semuanya, akan aku tunjukan sesuatu padamu dikamar yang belum selesai dan harus bertambah kamu lakukan, Mikha besok jam 10 kita checkout kita berangkat bersama, kami pamit dulu."


Siren lemas menatap Mikha, tapi kode Mikha, yang tersenyum paham maksud Damar tadi.


Setiba mereka pergi, Mikha menutup pintu, tiba saja bel berbunyi.


Tling Nong.


"Hari .."


"Ayo kita bicara di dalam!" ujar Hari, mendorong lembut pintu yang di pesan Damar, lalu menatap istri labilnya itu, menutup rapat dan meraih kunci tangan Mikha, saat itu juga.


"Apakah pasangan suami istri, bertengkar akan saling diam dan berpura pura belum menikah?" ujar Hari, membuat mata Mikha takut.

__ADS_1


TBC.


Happy Reading All. Maaf Jika masih banyak kekurangan, author masih belajar.


__ADS_2