
Jingga : Hyaaks, ide gila macam apa ini? kau ga sedang minum, kan?
Via : Kau minta solusi kan?
Jingga : Iya, tapi ...
Via : Dengarkan, Ini serius! Kalau Bram setuju, kau bisa mengenalkannya pada keluargamu! Katakan kau sudah punya kekasih. Mungkin ini bisa membuat keluargamu tak jadi menjodohkan Mu, Jingga. Bujuklah Bram!
Jingga : Mereka ga akan percaya
Via : Kan belum di coba! Lagian, Bram kurang apa coba, cukup ganteng dan meyakinkan, Jingga!
( Via memang masih ragu Bram setuju dengan rencananya, apalagi Bram tak ada kepentingan. Tapi memang ini satu-satunya jalan keluar untuk membuat Jingga tidak berhubungan dengan pria lain. Apa jadinya kalau Jingga menikah? Ini akan semakin sulit untuk Jingga mengejar karirnya dan ini menjadi masalah juga untuk kedepannya )
Jingga : Maksudmu aku harus berpacaran dengan cowok yang ga suka cewek, setelah di tinggal Elea, kau tahu dia berubah ketus tak berperasaan padaku?
Via : Pura-pura Jingga! Hanya perjanjian sementara saja! Demi karirmu
'Duh, yang benar saja sih aku harus pacaran dengannya pura-pura?' Jingga sebenarnya ingin menolak.
Tapi!
Via : Gapapa, anggep aja temen deketmu! Lagi pula, temenan sama orang begitu banyak untungnya loh, Jingga! Dia bisa diarepin buat jadi temen curhat dan dia pengertian banget! Kayak kau punya sahabat cewek, lebih kental lagi, dia pasti akan memperlakukanmu spesial! Apalagi kalau kau bisa jadi teman curhatnya dan sudah dipercaya olehnya. Mereka tuh butuh perhatian dan pengakuan Jingga! bisa aja kan, Bram kesepian, sedih tapi dia sembunyikan dan tidak dekat dengan siapapun.
Via makin menggosok meyakinkan. Apa betul dia bisa minta tolong pada seseorang seperti Bram? Jingga sendiri masih gamang.
'Tapi dia memang sudah membantuku malam itu! Dia tidak menyentuhku dan kayaknya benar kata Via, dia orang yang peduli juga dan punya hati lembut karena dia berusaha untuk memberikan solusi jalan keluar, meski aneh! Termasuk nyiapin sarapan pagi, buburnya enak! Dan dia ga punya kekasih, ga ada yang cemburu kalau aku minta tolong!'
Jingga pun mengaitkan saran Via dengan kenyataan saat Jingga dengan Bram.
Via : Ayolah Jingga! Kenapa diam sih? Ini ide terbaik!
( Via menekankan)
Via : Apa kau ingin berakhir dengan perjodohan dan kau harus menikahi seorang pria yang tidak kau kenal dan ujungnya kau harus merelakan karirmu, yang sedang menanjak ini? Kau pikirkan berapa biaya yang harus kau bayar kalau kau membatalkan kerjasama dengan pihak production house?
( Via tak sabar! Dia mencoba membujuk Jingga dan mengingatkan suatu tanggung jawab )
Jingga : Untuk uang, keluargaku tidak masalah. Mereka pasti akan membayar itu! Aku sedang pikirkan saranmu nih.
Via : Jadi kau ingin menuruti yang diperintahkan keluargamu atau saranku? Gercep lah jangan cuma dipikir yang ginian! Kemarin ke Boracay juga ga mikir panjang.
Jingga : Menyindirku lagi?
__ADS_1
Via : Bukan, tapi ngingetin! Kita ini terbatas waktunya!
Jingga : Ish, jangan berteriak di telingaku! Baiklah, aku rasa aku akan menggunakan caramu! Aku akan bicara dengan Bram dulu. Bye! ta- tapi, pasti akan sulit bertemu dengannya secara dia duda beranak satu, dengan banyak pertemuan.
"Kau temui Damar, ambil hati bocah itu lah Jingga."
"Ah, ide bagus tapi penthousenya saja sulit untuk aku masuk Via. Kalau gitu aku pamit."
klik.
Jingga mematikan teleponnya tapi saat itu juga akan pamit, dreet dreet dreet.
'Ya ampun aku sudah diteror!' hati Jingga bergemericik dan dia khawatir sangat dengan dering telepon yang baru saja masuk. Jingga menghempaskan napas pelan, sebelum:
Jingga : Iya ayah.
(Akhirnya Jingga memberanikan diri buka suara)
Tjandra : Jingga, apa kau tahu yang sudah kau lakukan dan membuatku ingin kau mempertanggung jawabkan sekarang juga di hadapanku?
Jingga : Maafkan aku Ayah, tapi itu semua salah paham! Aku bisa menjelaskan ini!
Tjandra: Apa kau pikir aku menelepon untuk meminta penjelasan?
'Mati aku! Apa yang aku katakan nanti kalau misalkan ternyata Bram menolak bekerja sama denganku?' Jingga ragu.
'Tidak, aku harus optimis! Dia harus bekerja sama denganku apapun yang terjadi!' bisik Jingga menyemangati dirinya.
Jingga mulai ketar ketir membayangkan betapa bahayanya dia sudah menipu seseorang, yang mengerikan seperti ayahnya, Tjandra.
Tjandra : Apa kau mengatakan ini karena kau ingin menolak perjodohanmu dengan Boim?
Jingga : Tidak Ayah, aku memang memiliki kekasih dan aku pergi ke Boracay karena aku ingin menemui kekasihku. Tapi malam itu kekasihku belum tiba di sini, jadi aku menghabiskan waktuku di bar. Aku tidak tahu kalau itu bar sesama jenis, Ayah. Aku juga tidak memperhatikannya. Tapi malamnya aku bersama dengan kekasihku dan sekarang aku masih bersama dengannya juga.
'Benarkah? Apa informasiku salah? Jingga punya kekasih?' Jawaban yang membuat Tjandra teriritasi. Apakah dia harus percaya dengan yang dikatakan putrinya?
'Ini pasti bohong! Baiklah, kau mau bermain denganku, Jingga ?' pekik hati Tjandra ingin menguji putrinya.
Tjandra : Bawa dia kepadaku satu kali dua puluh empat jam! Kalau kau tidak berhasil juga, maka jangan salahkan aku kalau aku akan memaksamu menikah dengan Boim weekend ini, Jingga!
Jingga : Kau tega sekali padaku Ayah! Apa aku bukan anak baik sampai kau melakukan ini?
(Jingga menyentak dan meninggikan suaranya, dia tidak mau menerima perjodohan. Sekarang jaman modern, apa-apaan ini? Jingga tak bisa percaya kalau ayahnya masih berpikir macam itu)
__ADS_1
Tjandra : Justru aku ingin menyelamatkan hidupmu kedepannya Jingga! Ingat, dalam satu kali dua puluh empat jam kalau kau tidak bisa membawanya, orang-orangku yang akan mengambilmu paksa!
klik
"Mati aku! Bener-bener mati aku sekarang! Haaaah, aku sudah memulai peperangan terbuka dengan ayah!" Jingga membuang handphonenya sembarang, lalu dua tangannya meremas kepalanya sendiri.
***
Esok Harinya, Bram berada di apartemennya, sementara Jingga datang, Bram pun membuka pintu setelah ia rasa, Jingga datang untuk menjelaskan berita di agensi BI production, atau ia mau di eleminasi.
"Bram harapan terakhirku!" lirih Jingga di depan pintu.
Demi karier dan hidupnya Bram tidak mau dipaksa, dia harus melakukan sesuatu untuk menolong dirinya sendiri.
Karena itulah, "Bram! Bram kau dengar aku tidak? Bisa kau dengarkan aku sebentar, Bram?"
Jingga memekik dari ruang luar. Dia yakin Bram pasti mendengar suaranya kalau sekencang itu.
klek.
Benar dugaan Jingga pintu pun dibuka
"Ada ap--"
"Bram kau harus menjadi kekasihku!"
"Ga mau! jagalah sikapmu!"
Dengan wajah tanpa ekspresi Bram yang baru saja membuka pintu langsung menjawab datar macam itu dan tidak ada basa-basi lagi.
"Aku tahu, kau pasti tidak mau menjadi kekasihku, tapi aku mohon, Bram! Kau harus menjadi kekasihku, demi kebaikan hidup kita bersama!"
Bram bicara terburu-buru. Dia memang sangat khawatir sekali dengan hidupnya.
"Aku rasa hidupmu saja yang masalah!" tambah Bram lagi sambil mengubah posisi tangannya bersedekap.
‘Sial, dia benar! Memang hanya aku yang ada masalah. Tapi apa yang harus aku lakukan supaya ini terlihat urgent juga untuknya?’
"Kau tidak menyukai Wanita. Bukankah dengan kau menjadi kekasihku ini bisa menjadi kamuflase? Kau bisa melindungi jati dirimu sendiri dan orang-orang tidak akan menganggapmu aneh dan membencimu.”
"Aku sudah tidak peduli! Aku bangga menjadi diriku sendiri seperti ini! Terserah orang mau bilang apa. Silahkan pergi dari sini, jika bukan soal lanjut membersihkan nama, atau tereleminasi." cetus Bram, membuat mata Jingga membola.
TBC.
__ADS_1