
Hari tidak tahu apa yang terjadi padanya, yang dia tahu saat ini dia tengah berdiri di sebuah ruang, dengan cahaya putih yang sangat menyilaukan.
Di depannya, ada seorang wanita dengan pakaian putih. Perawakannya persis seperti Inggrid, ibunya.
Wanita tersebut memunggungi dirinya, pundaknya terlihat bergetar seolah tengah menangis. Saat Hari mendekat hendak memeluk orang yang dia yakini ibunya.
Punggung wanita itu semakin mengecil seiring langkah Hari, yang semakin cepat.
Teriakan Hari, menggema di dalam ruangan tersebut, sampai nafasnya terasa sesak. Dia tak juga bisa mengejar bayangan tadi hingga dia jatuh bersimpuh di lantai.
Meremas yang terasa sesak, Hari menangis sejadinya. Apakah ia sudah berada di alam berbeda.
Sampai dia tersentak bangun, membuka mata, dan silau oleh lampu.
Kepalanya berdenyut dengan hebat, dan panas dan ngilu saat dia menarik dan menghembuskan nafas. Seluruh tubuhnya terasa seperti remuk. Ternyata ia kembali terbangun, dan itu hanya mimpi bertemu ibunya. Nampak jelas ada Bram disana, dengan istrinya.
"Nak, kamu sudah bangun? Syukurlah," ucap Jaya, saat melihat Hari telah membuka mata.
"Dimana aku, Pak?" tanyanya dengan lirih, tenggorokannya terasa kering kerontang.
"Kamu di rumah sakit setelah kecelakaan kemarin," jawab Jaya memencet tombol darurat, supaya dokter segera memeriksa Hari.
"Apa putra saya boleh minum Dok?" tanya Jaya ketika dokter datang dan memeriksa Hari. Dia tahu jika Hari sedang haus.
"Boleh, Pak. Asal Mas Hari tidak banyak bergerak dulu."
"Cepatlah pulih, Masih banyak impian yang harus kau Lanjutkan. Jika tidak ingin menyusahkan ku, jangan berbuat onar sampai kecelakaan. Karena darah O sangat mahal untuk dicari!" tepuk Bram, menempuk kening Hari.
"Maafkan aku kak! aku minta maaf, aku janji setelah sembuh akan mempertanggung jawabkan Gold Miror, Aku janji akan menemukan Ryan, mengalahkannya!"
"Sembuh dulu Hari, kau akan selalu jadi adikku. Jadi pikirlah lebih dewasa, tidak semestinya kau balapan liar lagi!" cercah Bram, kala itu. Tak lama Bram dan Elea pun pamit.
***
__ADS_1
Setelah sebulan berada di rumah sakit, akhirnya Hari bisa keluar dari sana, dengan syarat dia harus kontrol rutin.
Hari tidak terlalu rewel dalam perawatan, dia sangat menurut karena berharap cepat sembuh.
Pengumuman dari sekolah juga menyatakan dia lulus univ semester akhir, meski hanya berada dalam ranking tiga besar terbaik di sekolah. Baginya tidak masalah yang penting dia lulus.
Undangan dari pihak universitas lanjutan juga sangat menggembirakan. Sebab, dia diterima lewat jalur beasiswa.
"Bagaimana dengan tabunganku, Rob?" tanya Hari ketika Robi, mampir untuk menengok dirinya.
"Berkurang separuh." Robi sedikit sungkan saat mengatakannya, meski dia sudah berupaya membayar separuhnya. Ternyata uang tabungan Hari, tetap saja berkurang lumayan.
"Seharusnya kalian tidak usah melakukan itu. Aku bisa kuliah sambil bekerja nantinya," desah Hari, merasa sangat merepotkan untuk orang-orang di sekitarnya.
"Tidak masalah. Jadilah orang yang bisa membuat kami bangga, Har. Kami tunggu kepulangan mu dengan membawa kesuksesan." Robi menepuk bahu Hari, pelan.
"Kapan kamu akan berangkat?"
"Mungkin seminggu lagi," usai menjawab, Hari melongok ke dalam rumah. Melihat ayah angkatnya yang sibuk mengemas pakaian yang hendak dia bawa ke luar negeri.
Robi membawa Hari ke pusat perbelanjaan yang cukup terkenal. Dulu, Hari sering sekali ke sini saat mengantar ibunya belanja. Biasanya dia akan merengek ketika sang ibu belanja terlalu lama.
Saat ini Hari, tengah melihat tiap sudut yang pernah dia lewati bersama ibunya. Rasa rindu menyeruak begitu saja, padahal hampir setiap hari dia mengunjungi makam sang ibu.
Mengedarkan pandang ke seluruh penjuru mall, tanpa sengaja tatapan Hari, bertemu dengan tatapan Bram dan Kristal yang berada di cafe dengan salah satu klien, yang terlihat pulang.
Hari terpaku di tempatnya, dari sekian banyak pusat perbelanjaan kenapa dia harus bertemu Bram di sini.
"Hai, Hari. Ternyata kamu ada di sini, punya uang untuk ke sini? sudah sehat benar?" ujar Kristal seperti anak kecil.
"Mau kemana kamu Hari?" tanya Bram, tambahnya.
Hari jadi ingat, ternyata tingkahnya dulu sangat menyebalkan dan konyol saat mengolok-olok Bram setelah tahu, Bram bukan kakak seibu. Tapi kebaikan Bram, membuat Ryan ingin memantaskan posisi dirinya setara, bisa sukses tanpa harta keluarga.
__ADS_1
"Tidak ada yang melarang orang untuk mengunjungi mall, kan," jawab Hari tenang.
Setiap rasa sakit yang dia terima, mengantarkannya untuk menyikapi segala hal dengan tenang.
"Memang tidak ada larangan untuk orang miskin mengunjungi mall, yang penting kamu tidak maling atau menguntit barang." Mata Bram, memicing menatap Hari, seolah pria itu sedang mengancam. Karena Hari enggan menolak untuk kembali ke Gold Miror. Bram sengaja sikap tegas, agar Hari bisa dewasa dan mengerti.
"Seperti kamu biasa melakukannya saja, jadi hafal tentang hal itu," seloroh Hari, dengan nada bercanda.
"Benar, menikmati menjadi bos. Setelah sekian lama tidak ikut terjun." Bram, tidak jadi meneruskan kata-katanya, ia berharap Hari paham akan sikapnya saat ini.
"Setidaknya sekarang posisi kita terbalik bukan, dulu kamu yang sering diperhatikan dan aku terbuang."
"Tidak masalah, jadi gelandangan juga cukup menyenangkan. Yang penting aku mau bekerja keras dengan usahaku sendiri. Bukannya merebut milik orang lain," cemooh Hari, masih tetap menahan diri meski darahnya sudah mendidih sampai ubun-ubun.
Bram amat kesal, seharusnya posisi Hari bisa kembali dan meminta maaf saja pada sang papa. Tapi ia lebih memilih pergi dari rumah, hanya karena sikap papa tidak baik sedang marah.
Robi yang baru kembali dari outlet yang berisi pakaian musim dingin. Melihat tensi antara Hari dan seseorang yang dia yakini kakaknya, mulai memanas. Dia bergegas menghampiri keduanya.
"Ayo pergi dari sini, Hari. Hawanya panas, oh ternyata ada korek api ya. Sayang sekali kayu bakarnya basah, jadi tidak menyala saat disulut api," hina Robi menatap Bram, dari atas ke bawah seolah merendahkan.
Bram hanya tawa, melihat sikap teman Hari bermuka dua, bisa ia andalkan. Akan tetapi perhatiannya pada Hari tidak pernah putus. Hanya saja sikapnya yang menyakitkan akhir akhir ini. Untuk menyadarkan Hari, bertambah dewasa.
Robi sudah kehilangan semangat untuk memutari mall, mencarikan beberapa jaket tebal yang nantinya pasti dibutuhkan oleh Hari.
Pertemuan dengan Bram cukup membuat Robi, ingin melindas mulut itu dengan roda bergerigi. Seharusnya Bram, tidak perlu menampaki wajahnya pada Hari yang sedang bersedih.
"Mau makan gado-gado?" tanya Robi saat mereka berjalan melewati pedagang gado-gado.
"Boleh."
"Menurut lo, gimana soal Bram. Apa dia sikap seperti itu senang sama gue, keluar dari rumah Atau ..?"
"Ga da yang tahu isi hati orang Bro! Yang jelas, sikap Bram pengen lo balik lagi ke rumah. Tapi tekad lo mungkin dah bulet."
__ADS_1
"Betul! Lagian jelas Bram bakal bela papanya, dibanding gue. Apalagi gue sadar sikap nyokap dulu sama Bram, tapi gue harus berlaku gimana. Supaya kaadaan gue bisa sukses kaya Bram?" ujar Hari, menatap temannya itu.
TBC.