
Sementara itu, masih diaula green. Yang letaknya di pakuan Heels indonesia. Para pengawal yang dibawa oleh Taylor langsung berlari menyerang Ryan.
“Hentikan mereka!” teriak Rose.
Segera para bawahan Rose mencoba untuk menghentikan orang-orang itu. Sayangnya para bawahan dari Rose lebih lemah dibandingkan dengan pengawal Taylor, dan hanya butuh waktu sekejap untuk mereka dikalahkan oleh para pengawal Taylor.
Sesudah mengalahkan bawahan Rose, para pengawal itu berlari mendekati Ryan dan mengelilinginya.
“Sepertinya aku sangat lunak sampai membuat anj-ing-anj-ing rendahan seperti kalian, berniat untuk menghajarku.”
Taylor mengepal tangannya dan memukul satu persatu para pengawal itu dengan sangat kuat. Setiap satu pukulannya langsung melumpuhkan satu pengawal dan setelahnya tidak ada satupun, dari pengawal itu yang bisa kembali berdiri.
Selesai mengalahkan para pengawal itu, Taylor berjalan mendekati Ryan dan mengangkatnya dengan satu tangan.
“Ada begitu banyak orang yang membuatku kesal selama ini, dan kamu baru saja masuk ke dalam salah satunya.”
Taylor, mengambil botol kaca ditangan satunya dan menghancurkan botol itu, lalu menusukan tangan kanan Ryan dengan pecahan botol.
Rasa sakit yang luar biasa langsung membuat Ryan, berteriak histeris, sampai membuatnya berguling-guling di lantai.
Tio yang baru saja tiba, dan semua orang yang ada di belakangnya melihat itu dengan wajah pucat. Pengaruh dari alkohol yang mereka minum langsung hilang melihat darah yang membasahi lantai.
"Apa dia masih anak tidak berguna dari keluarganya? Kau salah, Hey Ryan. Ada banyak begitu trik, agar masuk mengalahkannya. Tapi keluargamu, bahkan Tio kakakmu membayar ku untuk membuang mu!" ucap Taylor, yang pergi dan datang lagi menjelaskan pada Ryan memberi pelajaran.
Bagaimana bisa Bram, tidak berguna sepertinya melakukan semua ini?! Aku bahkan harus dibuang keluargaku, lagi lagi kalah telak pada Bram.
Berbagai pertanyaan muncul dalam kepala Ryan, saat melihat kekejaman dari Taylor dengan menahan rasa sakitnya.
Ketika tatapan mata tajam milik Taylor bertemu dengannya, seketika membuat tubuh Ryan gemetar dan tanpa sadar membuatnya terkencing di celana.
Taylor berjalan mendekati Ryan, dengan setiap langkah kakinya seperti genderang perang, yang membuat seisi ruangan terdiam.
Wajah Ryan memutih semakin Taylor bengis, mendekatinya.
__ADS_1
“Ma-maafkan aku, Mr Taylor, bisakah kita bernego dan kau dipihakku!” Ryan bersujud dengan tubuh gemetar.
Sementara Taylor tertawa terbahak bahak, lalu tiba saja suara langkah berhasil mendekat, dan Ryan menatap penuh pada kakaknya itu.
"Dasar bocah bodoh! Jika ingin melawan Bram, harus dengan kesuksesan sendiri. Maka aku putuskan, aku tidak pergi berlayar. Tapi ... Kaulah yang aku kirim, berlayar mencari pundi. Agar beban ayah, berhasil aku singkirkan. Hahaha." gelak tawa Tio, dan saat itu Taylor senyum miring.
"Kak Tio, apa maksudnya. Kenapa seperti itu kak. Kenapa kau juga sama seperti Mr Taylor, kejam padaku. Bukankah kita satu frekuensi tak menyukai Bram..?"
"Bodoh! Melawan Bram yang sukses, dan papanya yang sangat disegani harus dengan otak. Jadi biar semuanya serahkan padaku, kau carilah uang yang banyak. Setelah luka ditangan mu sembuh!" tawa Tio, ia beranjak dan pergi bersama Mr Taylor dan beberapa anak buahnya.
Sementara Ryan, tak percaya. Rasa cintanya pada Elea semakin pupus, lagi lagi kesialan ada dipihaknya. Bahkan Tio sang kakak, begitu kejam padanya dan membuangnya.
"Ironis dan amat kejamnya kalian padaku," itulah gambaran Ryan saat ini meratapi hidupnya dan berteriak.
***
Sementara Di Kediaman Bram.
Bram yang saat itu berada di ruang kerja sang papa, tak melihat Hari di rumah. Bahkan berita kemunculan yang santer, membuat inggrid diam terus dikamar tidak memperlihatkan muka di depan sang besan.
"Kenapa data Corp Gold Miror, ada nama Ryan. Bahkan aku tidak pernah meminta kerjasama klien dan membagi hasil."
"Itu perusahaan yang kamu dirikan Bram, dan Hari sedang mempertanggung jawabkan nya. Karena terakhir Hari, mendapat wewenang menjaga bisnis emas delivery nya olehmu, ia harus bertanggung jawab mencari Ryan! dan mengatasi usaha yang tidak masuk akal, kembalilah usaha yang telah kamu bangun Bram! sebelum bangkrut. Bukankah ratusan kurir bergantung pada perusahaan yang kamu dirikan?!" jelas Reksa Hartanto.
Tak lama Elea mengetuk pintu, bukan main ia meminta izin pada mertuanya hormat. Lalu berbisik pada Bram kala itu.
'Bram, adikmu Hari. Ia berduel dengan Tio, karena ia tidak menemukan Ryan akan kontrak kerjasama palsu.' bisik Elea, membuat Bram tersentak.
"Pah, aku dan Elea pergi dulu." pamitnya, membuat Reksa Hartanto mengangguk, dan membalikan kursi ke arah berangkas.
Store Ring Tinju Club.
Seorang wanita muncul dari arah pintu masuk, berjalan tegap dan penuh emosi ke arah ring. Mata semua orang di sana tertuju padanya. Suasana langsung berubah seketika.
__ADS_1
“Hentikan pertarungan ini!” sentak wanita berseragam dari kepolisian itu. Ia langsung masuk begitu saja ke dalam arena pertarungan.
“Aahk!” tiba-tiba saja, Hari berteriak dan mengerang kesakitan. Ia memegangi wajah dan perutnya secara bergantian, bertingkah seolah-olah Hari, telah menghajarnya habis-habisan secara tak manusiawi.
Hari, pun terpaksa menurunkan tinjunya, lalu menghempaskan tangannya dengan kasar. Ia menatap tidak suka ke arah dan wanita itu secara bergantian.
Saat wanita itu masuk ke ring, Hari memperhatikan raut muka Tio. Tio sepertinya senang betul karena wanita itu muncul di waktu yang tepat. Hari pun menduga Tio berteman dekat dengan si polisi wanita. Tapi seingat Hari, Via mantan perjodohan kakaknya, bisa bisanya kembali betemu ia menjadi polwan.
Dan ia tidak keliru. Kemunculan polisi wanita bernama, Via itu memang bagian dari rencana Tio. Tadi Tio diam-diam menyuruh anak buahnya untuk menghubungi Via. Dan seperti telah diatur, polisi wanita yang merupakan teman lamanya itu datang di saat yang tepat.
“Apa yang terjadi? Kenapa dengan wajahmu?” tanya wanita itu sambil memeriksa keadaan tubuh Tio.
“Dia memukuliku sampai seperti ini,” jawab Tio, menunjuk Hari.
Via melihat sekilas ke arah Hari, lalu kembali menatap Tio.
“Memukulimu? Apa alasannya?” tanyanya.
“Aku tidak tahu. Dia ini pasti berandalan. Tiba-tiba saja dia datang ke acaraku dan mengajakku bertarung. Aku sudah menolaknya berulang kali, tapi dia tetap memaksaku untuk meladeninya dan dia pun sempat mengancam ku. Saat aku mengatakan kalau aku tidak mau meladeninya, dia langsung menyeret ku ke sini, lalu menghajar ku habis-habisan!” ucap Tio, sambil memegangi bagian wajahnya yang memar.
Via melihat ke arah Hari, Jelas sekali ia menelan apa yang dikatakan Tio itu bulat-bulat.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Tio?” tanyanya sinis.
Via melihat penampilan Hari, yang sangat sederhana, dan di dalam hatinya ia menilai kalau Hari memang anak berandalan, setelah identitas Bram diakui Reksa Hartanto, kini Hari lebih sering bergulat dan mengajak duel Tio untuk mengakui sesuatu.
"Kau datang, hanya rencananya kan. Aku tidak suka atas kelicikan kerjasama Ryan, aku tanya sekali lagi pada Tio. Dimana Ryan! tapi ia enggan memberi tahu. Dan aku peringatkan, tidak akan pernah ada orang yang bisa menyentuh Gold Miror, saham pt itu milikku dan Bram, aku tidak pernah menandatangani sebagian aset 30% kepada klien bernama Ryan." jelas Hari, yang saat itu ingin lagi meninju Tio.
"Kau menyalahi aturan, kau bisa aku penjara Hari. Menyeret Tio, dan berduel secara ilegal." ancam Via.
TBC.
Masih ada satu bab lagi, semoga ke acc hari ini juga ya all. Bantu komen Up, agar update review lancar. Terimakasih atas suportnya ikuti cerita Bram.
__ADS_1