
Tapi Elea menyembunyikan piala dan berkas beasiswa. Lalu masuk ke kamar dan menangis tersedu sedu.
"Kenapa harus aku yang dapat perlakuan seperti ini. Apa salah aku, atau ini salah kedua orangtuaku tapi aku kena imbasnya." lirih Elea.
"Tidak. Aku harus bertahan, tekadku bulat. Aku akan menolak untuk pergi. Aku ga mau sia siakan semua ini."
Elea pun menatap berkas dari kepala sekolah. Ia yakin, jika papanya Reksa akan mengizinkannya ia bersekolah penelitian sebuah robot yang ia gemari saat itu, sehingga Elea tak jadi pindah setidaknya ia bisa tinggal di asrama.
Ke esokan harinya. Aku melihat Ayah dan Ibu sibuk mengemas.
"Elea. Kamu akan pergi ke sekolah?"
"Ya bu. Elea pamit!"
"Nak. Titipkan surat ini pada bu Lidia. Wali kelas sekolahmu, Ayah akan menyusul untuk membicarakan jika kamu harus berhenti sekolah nak."
"Hah, ibu bercanda kan?" lirihnya getir.
Elea pun mengambil sepucuk surat itu. Lalu mengumpatkan di balik tangan. Ia menatap tulisan jelas Ayah. Tepat di sebuah tong sampah ia merobek dan membuang dengan kesal. Tanpa melihat seseorang sedang memperhatikannya.
"Elea Benci sama Ayah. Elea benci sama Ibu." lirihnya.
.......
Siang hari saat itu Elea berjalan kaki ke sekolah karena benar benar kehabisan uang. Elea tetap memutar dan berfikir bagaimana ia bisa lulus dalam waktu dekat tak membiarkan bakatnya sia sia di ambil oleh orang lain.
Agar Elea tidak putus sekolah dan mendapat ijasah melanjutkan kejenjang berikutnya. Meski nanti harus dengan bekerja paruh waktu sekalipun. Impian Elea kala itu mandiri dan merubah nasib, menginginkan kehidupan orangtua lebih baik menjadi bangga terhadapnya ia buktikan.
__ADS_1
Saat berjalan melamun ditengah taman aku terduduk, sahabatku memanggil.
"El, sedang apa?" ucap Nara sahabatku. Nara dan Rumi menghampiri, memeluk aku. Kami pun berpelukan pada sahabat.
Tak lama Elea bercerita banyak, menceritakan dengan sedih kecewa. Mereka prihatin dan tak ingin ditinggal. Kami bercerita panjang hingga larut senja langit berubah gelap.
"Sabar ya El. Kita akan bantu dengan doa, apa yang harus kita lakukan agar kamu ga pindah. Apa kamu mau tinggal sama aku sementara waktu. Nanti aku bilang ibu."
"Ya. Elea, masalah sepele itu lah." tambah Rumi menyemangati.
Elea hanya tersenyum. Ia masih mengingat jelas perkataan sahabat yang membuat mood boster naik bertambah kala itu, karena dukungan yang tak ingin ia putus asa.
Pada esok harinya ketika aku berangkat sekolah disiang hari. Nara mampir membawa sepucuk surat dan memberikan pada seorang teman prianya.
"Yeih. Liat aja kamu pasti bakal tau tulisan dia apa bukan. Udah ya, aku bye duluan. Dah telat nih. Kebetulan itu juga aku nemu dia di pengkolan." bubuh Nara, melambai pergi.
Aku membukanya tapi tak jadi, aku pun masukan kedalam tas.
Plot Twist.
Siapa Bram dia adalah teman laki laki akrabku. Ia terdiri dari tiga sahabatku satu satunya pria bernama Bram. Kami bertemu dalam pelatihan penelitian dan Bram sering basket di beda lantai.
Sesekali di hari sabtu dan minggu kami memang selalu berkumpul dilapangan tenis dan voli. Lapangan itu memang khusus di gunakan keramaian untuk satu lingkungan.
__ADS_1
Ketika itu pun Elea memang selalu berkumpul bersama sama, tapi karena jam sekolah kami berselingan tak bersamaan dan sekolah berbeda, kami menyibukan dihari Libur.
Dengan diam Elea terduduk di taman, menimang sebuah surat dan memikirkan bagaimana ia harus melanjutkan sekolah satu tahun lagi, dan bisa masuk universitas penelitian yang kini ia melihat sebuah brosur, penelitian robot dan enzim manusia. Perpaduan kimia dan biologi menyatu, ah entahlah hanya Elea yang paham.
Melihat isi dompet kala itu, Elea amat menyedihkan. Melihat tanggal masih lima hari lagi. Elea memang bekerja freelance diam diam untuk mendapat keuntungan, dengan mood kurang baik ia berjalan melewati taman yang sepi.
Tak sengaja, Elea saat itu menendang pohon tepat disamping, memukul dengan tangan rasa kesal. Dan terakhir sebotol kaleng.
PLUUUGH ...
Suara kaki Elea menendang dengan kaki kanan, meski tak seindah tendangan kaki pemain bola. Tapi Elea menendang sebuah Kaleng cukup keras.
BRAAAAGH ...
"Waduuuw. Woooy siapaaa itu disana?"ucap seseorang sepertinya kesakitan.
"Weeuh. Kena orang ya. Aduh aku harus ngumpet dimana ini. Semua jalan terbuka ga ada pohon besar, adanya pohon melati semua." panik Elea.
Hah, Elea pun bergegas pergi takut. Tanpa menoleh kebelakang. Akan tetapi, baru saja lima langkah, tas Elea serasa ditarik dari belakang.
"Hei kena kamu. Mau kemana Nak gadis mana sopan adabmu?" seseorang berteriak mengejar Elea yang gundah.
Sementara Di Planet Lain.
Oliver si utusan langit berdiskusi pada Kristal, mereka membicarakan Bram dan Elea yang bisa kembali jika mereka menemukan sebuah benda cincin pernikahan, di sanalah ada kekuatan system yang membuat mereka bisa kembali lagi.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Kristal.
__ADS_1
"Menjalani kehidupan dari awal, mungkin perlu beberapa tahun lagi. Sebab Alex tidak bisa menemukan pemancar yang terhubung ke cincin keberadaan mereka." jelas Oliver, membuat Kristal bingung mengatakan pada keluarga Bram, dan Damar si bocah malang super kaya tapi orangtuanya harus pergi karena hal bodoh.
TBC.