
Bram Hartanto, merasa beruntung dan terlihat keren. Tidak sangka ia bisa mengalahkan mereka semua. Batinnya mengamuk menghajar mereka, karena telah menganggu kehidupannya tidak berjalan baik.
Dirinya semakin di atas angin saat para Anggota Kampak Merah satu persatu mulai tumbang dan tak mampu melanjutkan duel.
Pria yang bertindak sebagai wasit itu segera menghentikan pertarungan, karena lawan Bram sudah kalah semua.
"Pemenangnya adalah, Bram!" Ia dengan bangga mengumumkan Bram, sebagai pemenangnya. Dan memberi jalan.
Para penonton yang mengisi arena itu bersorak-sorai sambil bertepuk tangan dan mengelu-elukan nama Bram.
Bram pun mengangkat senyumannya tinggi sambil membusungkan badan.
'Ternyata inilah rasanya menjadi pemenang,' batinnya senang.
Mendapatkan apresiasi tinggi dari banyak orang, membuat Bram bangga dengan dirinya yang sekarang. Masih hangat dalam ingatannya, pada kehidupan pertamanya, dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Mereka terlalu asik dengan dunia masing-masing. Menjadikan dirinya seakan-akan tidak pernah ada.
"Saya sudah berhasil mengalahkan dua puluh orang yang ada di sini, itu artinya saya bisa bertemu dengan Ketua?"
Tanpa menunda-nunda, Bram langsung menanyakan hal yang sudah sangat dinanti-nantikannya.
Pria yang sebelumnya menjadi wasit itu melepaskan tangan Bram, "Mari, ikuti kami!" ucap Alex kemudian.
Bram mengangguk, dia mengekor tepat di belakang pria tadi. Lalu, di belakangnya terdapat tiga orang pria yang mengawal dirinya.
Bram menaruh waspada kepada mereka. Jaga-jaga kalau mereka langsung menyerang tanpa terduga.
Dirinya dan lainnya masuk ke ruangan yang minim akan cahaya. Bram sangat berhati-hati dalam melangkah karena takut ada rancau, yang sengaja terpasang di sana. Namun, dirinya tidak mengetahuinya sama sekali.
"Ini di mana, kenapa tempatnya begitu gelap?"
Ruangan yang temboknya tidak terpasang keramik itu, lebih pantas disebut goa, dibandingkan tempat tinggal.
"Kita akan pergi kemana?" tanyanya ragu-ragu, sekaligus membuka pembicaraan agar suasana tidak terlalu tegang dan canggung itu.
"Bukankah kau ingin bertemu Ketua? Maka inilah jalannya!" tegas pria di depan Bram, yang diketahui adalah pemimpin dalam kelompok tersebut.
Bram tidak tahu pasti, Organisasi Kampak Merah ini memiliki berapa kelompok. Setahu dirinya, setiap Organisasi akan memiliki setidaknya sepuluh sampai lima belas kelompok. Setiap kelompoknya memiliki sedikitnya dua puluh anggota, dengan satu pemimpin di dalamnya.
__ADS_1
Pembagian kelompok ini sangat diperlukan dalam suatu Organisasi. Terbentuknya kelompok, dimaksudkan untuk mengatur setiap anggota yang ada.
Pada intinya, tugas setiap anggota mengikuti kelompok mereka berada. Biasanya pada setiap kelompok akan memiliki ciri khas masing-masing.
Sekurang-kurangnya Bram, mengetahui pembagian kelompok pada Organisasi Kampak Merah. Ciri khasnya terdapat pada warna tato di lengan atas masing-masing orang. Biasanya warna akan menentukan kemampuan masing-masing anggota.
Bram bersiul-siul guna melepaskan rasa jenuh, yang mulai melanda dirinya, sekaligus mempelajari seluk-beluk Markas Kampak Merah ini, yang menurutnya begitu berbeda dari Markas-markas yang pernah dirinya datangi.
Ketika langkahnya mulai melewati terowongan dengan cahaya yang lebih baik itu, Bram melihat kerangkeng di sana.
Terdapat tiga sampai lima orang dewasa mengisi setiap kurungannya. Namun, ada satu buih yang hanya ditempati satu wanita.
Kondisi wanita itu tampak baik-baik saja. Pandangannya terpaku pada gadis yang ada di dalam penjara itu. Saking tidak fokusnya pada jalan, dia sampai menabrak orang di depannya.
"Maaf. Aku tidak memerhatikan jalannya," akunya Bram, saat Alex melototinya.
Pria itu menatap tajam Bram. "Ayo, cepat!" perintahnya tanpa berkedip.
Bram mengangguk saja. Segera dia berjalan lagi mengikuti langkah pimpinannya itu.
Dia menoleh ke arah penjara itu terus, "Siapa wanita itu? Kenapa dia seorang diri saja di sana?" batin Bram bertanya-tanya.
~ Ruang Ketua Kampak Kembar.~
"Sekarang kita sudah berada di depan ruangan Ketua," kata pria itu menjelaskan singkat.
Bram mengangguk dan sedikit heran, kenapa ruangannya pun masih berupa tanah liat, belum dinding beton.
"Aku jadi penasaran, apakah Organisasi Kampak Merah ini adalah primitif?" batinnya kembali.
Dirinya sedikit meragukan ketua Kampak Merah ini, kalau ia bukanlah manusia normal. Jika diingat-ingat lagi, ruangan demi ruangan yang telah dilewati semuanya hanya dinding tanah saja, minim dengan pencahayaan, ini lebih disebut penjara bawah tanah dan biasanya ada di zaman peperangan atau di cerita-cerita kolosal.
"Di mana ketua kalian?" tanya Bram memastikan sekaligus membuang segala keraguan yang ada.
"Di ada di dalam. Kau bisa masuk sendiri ke sana!" kata pria itu tanpa menoleh ke kiri dan kanan.
Bram menelan ludahnya berat-berat, "Baiklah. Aku akan coba masuk."
__ADS_1
Firasatnya terlalu buruk akan hal ini. Namun, dirinya segera menepis anggapan itu cepat-cepat.
Ketika langkahnya hendak memasuki ruangan yang tidak memiliki pintu itu, dirinya berhenti saat seorang seseorang berteriak dari dalam sana.
"Siapa di sana?"
Bram, menebak kalau dialah ketua dari Organisasi Kampak Merah. Dirinya waspada takut-takut dipertemukan pertama ini akan ada serangan.
"Siapa di sana?"
Muncullah seorang pria yang tinggi badannya tidak jauh berbeda dengan anak-anak.
Bram mengerutkan keningnya, tidak jadi dirinya pasang kuda-kuda, lantaran pria yang di hadapannya bahkan berukuran kecil, lebih disebut kerdil.
"Ketua!" sapa pria-pria gagah itu pada si kerdil itu.
Bram melongo, "Ketua? Jadi orang kecil ini adalah ketuanya?"
Rasa takut itu, seolah pergi begitu saja saat berhadapan langsung dengan Ketua yang bahkan ukuran tubuhnya saja, tidak sepadan dengan badan orang dewasa pada umumnya.
Bram tidak bisa menahan tawanya karena Ketua Kampak Merah yang ada dibayangkannya, ternyata tidak sesuai pada kenyataannya.
"Beraninya dirimu menertawakan Ketua!" Pria itu meradang, dibekap dan dikuncinya leher Bram, sehingga pemuda itu kesulitan bernapas.
"Cepat, minta maaf pada Ketua!" perintahnya sambil melemparkan badan Bram sampai jatuh ke tanah, membuatnya tunduk tepat di bawah kaki pria kerdil itu.
Dengan berat hati, dirinya pun meminta maaf pada ketuanya itu. "Maafkan atas kelancaran saya, Ketua. Percayalah saya tidak bermaksud menghina ketua," aku Bram, berdusta.
Sesungguhnya di dalam hati Bram, dirinya sedang menertawakan pemimpin Kampak Merah itu.
Selama ini nama Kampak Merah dikenal sebagai organisasi Mafia yang sangat kuat dan ditakuti. Kejam dan sering kali merampok harta benda warga, tapi di balik kekejaman itu terdapat seorang Ketua yang sakali tidak menggambarkan kebengisan itu sendiri.
"Apakah dia adalah anggota baru di sini?" tanya pria kerdil itu pada Bram, yang masih tertunduk di hadapannya.
Bram tunduk bukan karena takut, tapi yang sebenarnya terjadi, dia sedang menahan tawa agar tidak meledak-ledak kepermukaan, atau akan tercipta keributan lainnya.
"Benar Ketua. Dia adalah anggota baru di sini," aku pria yang menjadi pemimpin kelompok Bram.
__ADS_1
Sementara Bram masih menelaah seisi ruangan, dan dimana juga keberadaan Olive. Bram juga bingung, setelah menemui si ketua ini, apakah dirinya sudah usai! jujur yang dipikiran Bram bisa mengalahkan mereka, sesuai ucapan Olive ini adalah pertempuran yang terakhir. Maka Bram, bisa kembali pulang tanpa gangguan.
TBC.