
Dengan penuh perjuangan, Bram akhirnya sampai di rumah pak Chang. Ia segera memberikan pada pelanggang yang membeli timun emas 40kg. Timun emas yang Bram jual, tentu bukanlah sembarang dan hanya orang tertentu yang berduit lah yang mampu membelinya, terkadang mereka yang membeli bongkahan emas 24k dari timun emas yang mungkin dianggap sayuran biasa bagi sebagian orang.
Memang pada umumnya Bram menjual sayuran fresh box. Mengantar tak jauh beda dengan kurir online, akan tetapi bantuan seseorang dengan system rumah pohon yang tak semua orang lihat, itu adalah sebuah pohon kapuk bagi penglihatan orang awam.
Tapi berbeda dengan Bram, ia dapat melihat seisinya mewah, dan penuh dengan isi emas 24 karat di dalam buah timun emas, dengan bantuan system rahasia juga Bram bisa secepat kaya setiap ia mengantarkannya dengan tips berbeda beda.
Tling!
[ Bram, misimu telah berhasil! Saldo 50.000.000, telah masuk ke akun bank mu! ] pesan Misi System Delivery mu berhasil, selamat.
Tak berselang lama, Bram kembali mendapat pesan yang membuatnya tecengang.
Tling!
[ Bram misi selanjutnya adalah, mengembangkan petani dan tanah sengketa agar timun emas panen tidak gagal, tidak terkena bencana! Dan waspada terhadap orang dekat yang membuatmu kembali di titik terendah dengan berbagai fitnahan! Kamu harus mampu menyelesaikannya Bram! ] pesan misterius kembali tampil di layar ponselnya.
Setelah itu pun, Bram menemui Ryan. Bukan main, setelah keluarga Hartawan bangkrut. Kini mereka bisa mengelola kembali restoran yang pernah Bram bekerja, dengan bantuan Bram yang melunasi hutang Elea dan keluarganya. Bahkan Bram disibukan dengan bulak balik ke desa sengketa untuk melihat perkembangan bibit yang ia tanam, karena stok di rumah pohon menipis dan langka.
Tak lupa, ia menyempatkan diri bertemu Elea. Hanya ingin melihat Elea, memberikannya sebuah cincin untuk melamar. Bram, harus pura pura sekolah di kampus kimia untuk bisa melihat pujaan hatinya itu baik baik saja. Sekaligus mengamati penelitian terbarunya.
__ADS_1
"Tunggulah, beberapa hari aku akan dikampusmu, El!"
"Bram, aku amat berterimakasih padamu. Papaku pasti akan berterimakasih. Karena kamu membantuku dari jeratan Ryan." senyum Elea memeluk.
Mereka pun bersama, makan dan bercerita asmara dalam beberapa jam kedepan. Meski kali ini Bram harus mendapatkan misi lagi, mereka berpisah karena tuntutan pekerjaan Bram saat ini, ia tentu harus mengembalikan uang sang papa sebanyak 35T.
***
Beberapa Hari Kemudian.
Tik… tik.., tik suara tetesan air hujan yang mulai turun membasahi tanah yang sedari tadi kering berontang, mulai terdengar lambat laun semakin lebat. Bram yang masih berada di dalam kampus kimia sembari mendengarkan dosen mengoceh di depan, sedikit terganggu oleh teriakan hujan yang begitu deras.
Selangkah lagi, Bram yang masih merintis akan menjadi bos. Jika tidak dibantu dengan penelitian, dan bibit timun emas di fakultas kekasihnya, mungkin ia tak perlu lagi bersusah payah menjadi kurir box dengan tatap muka.
Benar saja, saat ia sampai di kontrakannya, baju yang ia jemur masih berada di tempatnya. Basah kuyup tak terselamatkan.
“Sial! Gimana aku bisa kerja nanti,” keluh Bram yang tujuannya adalah mengecek tanah sengketa.
Tling! Notif pesan.
__ADS_1
[ Bram, kamu dimana? Bantu papa nak! System cctv eror dan kamu harus mampu menyelesaikannya, seseorang masuk dan merusak berangkas, Hari dan Mamamu sedang di belanda tak bisa dihubungi! ] pesan suara.
Bram dengan cepat mengayuh sepeda motornya, dengan kesal ia menatap rumah kecil sebagai kantor papa beristirahat sejenak di belakang rumah megahnya.
Bram mendapati bahwa tempat itu gelap. Lampu belum dinyalakan. Apa papanya keluar? Ia hanya bisa bertanya-tanya. Jarang-jarang ayahnya tak berada di rumah di jam segini. Biasanya ia akan melihat papanya di rumah megah, dengan pengawal juga sang mama.
“Pah…. Papa …” Panggilnya lagi memastikan.
Mulai ada rasa khawatir menyergap Bram. Dengan terburu-buru ia masuk ke kamar sang papa. Tak ada seorang pun disana. Saat ia melewati dapur betapa kagetnya ia melihat papanya tergeletak tak sadarkan diri. Nafasnya melemah dengan terdapat bekas darah di sudut bibirnya.
Dengan panik ia membawa papanya ke rumah sakit tempat biasanya ia dirawat. Ia tentu sangat mengkhawatirkan keadaan papanya itu, karena memang papanya yang kini berusia 55 tahun itu sudah lama mengalami masalah pada paru-parunya.
Saat tersulitpun, Harta keluarga mereka sebagian besar pun dipakai untuk pengobatan ayahnya. Bahkan ia sampai berutang kesana kemari, kerja sana sini agar dapat menutupi biaya yang kian lama tak kunjung berkurang. Ia cukup beruntung dapat menerima bantuan untuk dapat berkuliah dengan biaya yang minim. Papanya sendiri mengaku kalau kondisinya sudah mulai membaik, makanya Bram, akhir-akhir ini bisa bernafas lega. Tapi bagaimana jika selama ini sang papa telah berbohong tentang kesehatannya yang sembuh dan mama inggrid selalu menjaganya dengan baik ternyata bohong, agar dirinya tak merasa terbebani, dan keluar dari rumah megah itu salah.
Dokter yang mendiagnosa ayahnya itu pun mengatakan bahwa kini kondisi ayahnya sedang tak bagus. Perlu segera dioperasi secepat mungkin.
"Tolong obati Papa saya, Dok!" Bram menyorot mata tajam.
Tbc.
__ADS_1