
Esok harinya, Mikha memberitahu soal sidang perkara Lena dan Dani, atas dua kasus. Yakni kasus Mikha dan yang terakhir kasus mencelakai mobil Hari, mantan suaminya dulu. Sehingga Hari bersiap memberitahu pengawalnya untuk mengirim sesuatu.
Bahkan pagi ini terlihat Hari, sedang fokus pada sebuah laptop pribadinya. Dimana setiap pagi, ia harus memantau sun system agar terprotek tetap aman, dimana banyak perusahaan lain ingin mencuri apa yang dimiliki keluarga Hartanto turun temurun itu, bahkan Bram sang kakak meminta Hari fokus, dimana aset peti pendingin manusia dengan sun system masih dirahasiakan, hanya keluarga saja dan beberapa orang terpercaya yang tahu.
"Mas udah selesai?" tanya Mikha.
"Sip, lima menit lagi sayang. Bicaralah jika ada yang ingin kamu bicarakan!" ujar Hari.
"Sampai kapan kamu tidak melepaskan minuman beralkohol tinggi, kecelakaan itu harus bisa menjaga diri kesehatan mas loh."
Hari, kini meminta maaf, mode memeluk dari belakang. Kala Mikha berdiri dari cermin, ia sungguh harus banyak bersabar. Mendapati suaminya masih saja bertingkah aneh.
"Mas, aku harus check up. Sekaligus aku antar kamu theraphy ya!"
"Sayang, untuk apa theraphy. Mas sudah sembuh?"
Sembuh, dengan tingkahmu yang bukan dirimu mas. Mana bisa aku percaya, kamu benar benar menjengkelkan kala bertingkah seperti anak kecil yang berulah. Di mana Hari yang wibawa penuh serius, bukan Hari yang kepo dan ingin tahu masalah semua dan kamu selesaikan.
Mikha berusaha menutup dan membuka pesan, kala harusnya ia menghubungi dokter Frank untuk konsultasi kelanjutan suaminya. Namun ia menatap pesan, sehingga wajah mas Hari, masih erat dengan gaya mengusel dengan hidungnya ke wajah Mikha.
"Mas, Osin cuti dan ingin resign. Ia benar pergi ke Eropa. Menyusul Ryo, aku harus gimana. Bukankah cutinya lusa?"
"Biarlah, mas juga meliburkan Eri. Agar ia menyusul cintanya pada Osin." senyum Hari.
"Mas, kenapa kamu jadi seperti ini sih,?" syok Mikha lemas duduk di kasur size besar.
Memikirkan banyak lelah akan suaminya yang berubah drastis. Pantas saja om Bram, meminta aku menghandle kantor sementara waktu, jadi ia sudah tahu duluan jika mas Hari ada kemungkinan terkena masalah di kepalanya?? cemas dan sebal.
"Sayang. Kok bengong, dengar mas bicara tidak?"
"Aku dengar mas, hanya saja kamu terlihat seperti bukan Hari Hartanto yang berwibawa dan cuek apalagi dingin."
"Benarkah, itu hanya pikiranmu saja sayang. Mas masih sama seperti dulu loh."
"Oke, baiklah. Ayo mas mandi, kita bersiap ke kantor ya."
***
__ADS_1
Di Beda Tempat.
Sementara Osin yang telah sampai bandara, ia terkejut kala di mobil yang harus ia temui. Supir yang telah ia harus naiki dengan namanya, di ekploitasi oleh Eri yang menyamar jadi supir.
"Eri, kenapa kamu .. Gila kenapa kamu di sini?"
Osin mengedor gedor untuk membuka pintu, tapi nahas mobil itu telah pergi hingga ke suatu tempat.
"Aku di izinkan cuti, dan kamu tidak bisa resign dadakan. Jadi bos Hari, memintaku mengejarmu."
"Halah bulsyiet."
Sesampai dengan waktu hitungan puluh menit, Osin sampai di sebuah rumah. Di tarik paksa akan segala paksaan Eri saat ini.
"Awh, Eri kamu gila." teriaknya.
Eri meletakan tubuh Osin di atas tempat tidur. Sinta yang tengah pingsan tidak tahu kalau Eri membawanya ke sebuah suite room hotel, harusnya ia bertemu Ryo, tapi sabotase Eri benar benar gila.
"Osin yang tidur denganmu, itu aku. Kenapa kamu berbohong dan bilang Ryo, aku bukan tipe pria tidak bertanggung jawab, atau kamu rencanakan sesuatu untuk menyingkirkan kan aku kan, atau kamu berusaha merusak citra dan nama baikku kan?"
Tapi beberapa detik kemudian raut wajah Eri berubah. Dipenuhi emosi, Eri mengambil segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Osin.
"Apa maumu Erik, jangan picik. Aku harus bertemu Ryo."
Osin menatap Eri tubuhnya gemetar. Ternyata pria itu telah menangkapnya. Apa yang harus ia lakukan untuk bisa lolos dari pria ini sekarang? Osin memutar agar ia bisa lolos dari hadapan Eri saat ini.
"Kau masih membohongiku Osin, katakan semuanya!"
"Apa maksudmu? Aku benar benar tidak tahu."
"Jangan berpura pura tidak tahu Osin, cepat katakan!" teriak Eri, dimana ia harus bersaing dengan anak angkat tuan Bram.
Osin berusaha meyakinkan Eri, kalau ia bukan orang yang dimaksud Eri. Ia mengerutkan kedua alisnya dan memberanikan diri untuk menatap kedua mata Eri yang dipenuhi api kebencian, sekaligus kerinduan yang membuncah.
"Apa perlu aku mengingatkanmu kejadian malam itu?"
"Lepaskan aku, Brengsek!" Osin masih berusaha melepaskan dirinya yang masih berada dalam kungkungan Eri.
__ADS_1
"Tidak semudah itu Osin, aku akan membuatmu mengingat kejadian malam itu. Agar kamu berkata jujur, meski kamu menyumpahi serapah apapun."
"Kenapa kau lakukan ini Eri, kau tidak sadar dengan dirimu. Aku siapa dirimu, aku bawahan kamu. Kenapa kau tidak membuat nafasku lega?" mode menangis, kali ini Osin merasakan sedih. Eri pun tegak memeluknya, meski mendapat penolakan. Tetap saja, ia memeluk erat.
"Aku, telah menemukan cinta. Aku ingin berkomitmen dan mengarungi semuanya denganmu Osin, maka menikahlah denganku!"
"Itu gak mungkin, aku tidak mencintaimu Eri, aku hamil tapi ini hasil kesalahanku dengan Ryo bukan kamu." teriak Osin yang sebenarnya ia juga bingung.
Deuuugh!!
"Tapi bahkan kamu tidak menolakku, aku akan berusaha membahagiakanmu. Karena aku tahu, aku lebih pantas. Meski aku bukan pria baik, tapi aku bertanggung jawab. Aku sama sepertimu, mempunyai orangtua tapi di acuhkan dan tidak dianggap. Itulah sebabnya aku tak percaya akan cinta, tapi karena kamu aku ingin berkomitmen dan jatuh tak bisa melepasmu dengan Ryo."
Penjelasan Eri, membuat Osin bungkam. Ia menahan air mata, dan menyeka air mata itu di bawah pipinya agar tidak tumpah. Tak sadar, kala dirinya harus mendapat cinta yang rumit.
Kenapa, harus kamu Eri?? Huhuu. Aku benci semua ini, kamu mudah tidur dengan perempuan lain dahulu atau hingga saat ini. Dan kamu tahu, aku ingin menikah dengan Ryo bukan kamu. Tapi malam itu Ryo hanya mempermainkan aku dan anggap aku hanya bermain saja.
Tapi Ryo telah tahu, akan kejadian kita berdua. Sebelum kami bercinta.
"Apa, apa maksudmu Eri." terkejut Osin.
"Akhiri, aku lebih pantas. Aku tahu, kamu membuat kesalahan agar Ryo menikahimu. Tapi bagaimanapun, aku tahu kalian memakai pengaman, tak sepertiku. Menikahlah denganku Osin, karena aku tahu siapa wanita ide Ryo!"
Deg.
Osin terdiam pias, ia tak menyangka akan semalu dan serumit ini. Ia tak menyangka, Ryo bisa berterus terang pada Eri. Sungguh, jika saja ia memilih ingin sekali ia menyeburkan dirinya ke laut. Ia juga memang terlalu bebas.
"Aku akan dampingi kamu, memutuskan hubunganmu dengan Ryo. Percayalah, aku terbaik dan tak akan menyakitimu Osin"
"Apa perkataan kamu bisa di percaya Eri. Mengingat di kantor ..?" Osin terdiam.
"Kita harus profesional, kita bukan pemilik perusahaan Osin. Hanya jabatan, aku mau kamu bisa merubah semua jalan pikiranmu. Kita berjuang bersama sama. Aku hanya mencintaimu dan ingin sekali memilikimu!"
"Tapi aku wanita buruk Eri."
"Masa laluku juga buruk, maka kita hentikan hal buruk dan hidup dengan cerminan baru. Percayalah padaku, aku cuek dan kesal. Nyatanya aku mencintaimu." bisik Eri, membuat Osin gagal ke eropa, dan kembali pulang bersama Eri.
Tbc.
__ADS_1