
"Kamu lihat apa El?" ujar Bram.
Elea pun sigap memegang tangan Bram, lalu entah mengapa Elea pingsan. Saat ketika Elea dibelakang Bram membuat penasaran, apa yang terjadi pada Elea sebenarnya.
Bram memanggil satpam! entah angin apa membuat Elea jatuh pingsan. Hingga di alam bawah sadar Elea. Elea serasa tertarik rohnya pergi melihat suatu tempat, meski jiwanya masih tertidur di tempat kediaman bibi Bram saat itu.
"Eyuh, lihat bajunya kayak sampah, ih jijik." ujar salah seorang anak mengejeknya.
Anak anak lain ikut mengejek Elea di sana.
"Iya hahaha, hush.. hush.. jauh jauh dari kami!" ujar mereka mengusir Elea.
"Elea, kamu anak yang tidak punya bakat apapun. Bahkan kamu berbeda dari kami Elea, kamu telah mati kenapa bisa segerombol orang ingin menghidupkanmu lagi, mustahil hanya orang bodoh yang menyalahi aturan bumi! semua anak mempunyai kemampuan magic, bahkan ayahmu saja pergi karena malu kamu bukan anak beruntung. Hahahaha." tawa seorang anak membully Elea yang kala itu berada di tempat gelap, bulat.
"Jika aku punya, akan aku tunjukan padamu. Tapi tidak sekarang!" ucap Elea.
"Penipu, kamu pembohong Elea." melempar batu ke arahnya, sehingga Elea menangis.
Mendengar semua itu Elea, hanya bisa terdiam dan menahannya. Bram yang merasa khawatir pada Elea temannya, sebab sering dijahili oleh anak lain pun mendatangi Elea.
Ternyata benar saat itu Elea sedang di ejek oleh anak lain. Bram pun menarik tangan Elea dan membawanya pergi.
"Elea, ayo!" ujarnya seraya memegang tangan Elea dan membawanya berlari.
Ketika mereka agak jauh Bram yang melihat Elea murung mencoba untuk menghiburnya.
"Heh dasar para anak manja yang bisanya cuman menghina orang," ujarnya.
"Omongan mereka tuh kayak sampah nggak usah ditanggepin," ujarnya lagi, sambil merangkul Elea.
"Yuk kita main!" ujarnya sambil membawa Elea bermain.
"Tapi mereka bilang benar Bram. Aku tidak memilikinya. Dan kamu kenapa berada disini Bram, kenapa kita ada ditempat aneh seperti ini?" tanya Elea.
"Elea, bakat semua anak di zaman ini pasti ada. Aku yakin, masih tersembunyi dan akan terlihat saat waktunya tiba. Ayo Elea, jangan sedih lagi! pokoknya apapun yang terjadi, aku akan selalu di dekatmu karena kita ditakdirkan bersama di bumi manapun." jelasnya.
"Benarkah?"
Mereka pun bersenang senang bersama dan kesedihan Elea pun memudar. Setelah puas bermain mereka pun pulang.
Setibanya di rumah Elea telah disambut hangat oleh seorang wanita yang tersenyum padanya. Dialah sang ibu bernama, Emma.
Sebelum semua kemalangan menimpa Elea, dia adalah anak yang riang, meski banyak yang mencemooh, ia tetap bahagia karena masih banyak orang yang menyayanginya.
Sebuah kejadian, di mana seseorang yang jahat telah meracuni ibunya. Satu satunya wali Elea yang tersisa di dunia. Ayahnya menghilang entah kemana meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Elea tinggal dipinggiran kota malang, kehidupan di kota itu sangat makmur, namun tempat yang Elea tinggali adalah tempat terbuang, khusus untuk manusia yang dianggap beban.
Dunia tempat Elea tinggal adalah sebuah dunia yang dipenuhi dengan orang yang memiliki kemampuan super. Sama seperti Bram teman karibnya yang Elea rasa amat aneh.
Oleh karena itu manusia yang tidak memilikinya akan dianggap sampah yang tidak berguna di planet ini. Ia tinggal bersama dengan seorang ibu yang sangat mencintainya. Walaupun Elea terlahir sebagai manusia biasa, yang tak memiliki kemampuan super.
Selalu diejek karena ia sangat miskin dan ayahnya telah pergi menelantarkan mereka berdua, bukan hanya itu saja saat Elea keluar rumah, lontaran cibiran dari tetangga sekitar pun, tak lepas selalu terdengar oleh Elea, hanya Bram teman baiknya yang mengerti, namun Bram harus dipaksa pindah rumah tanpa pamit, ketika Elea membutuhkannya dan hal itulah membuat Elea tidak percaya pada siapapun.
"Elea maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu!" ujar Bram berteriak, dengan menangis, ia ingin menemani Elea tapi dihalangi kekuatan dari monitor yang mengeluarkan cahaya.
Semua itu tak masalah karena ibu tercinta masih ada di sisinya. Tapi kini ibunya telah pergi, sebuah luka terdalam dalam hati Elea dimulai.
Pagi itu Elea berlari dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan apa apa yang ada disekelilingnya.
Bulu mata lentik yang dipenuhi tetesan air hujan dengan bola mata berwarna hazel yang indah, hidung mancung yang imut, warna bibir indah bagaikan mawar merah.
Tik, tik, tik!! Hujan turun semakin deras.
Tanpa memakai alas kaki, baju lusuh yang telah basah, sebotol obat dan sedikit makanan yang di bawahnya.
Huh.. Hah.. Huh.. Hah, keringat menyatu dengan tetesan air hujan.
Kaki kecil yang terlihat lebam, wajah yang kelelahan, ia gemetar bukan karena dingin namun rasa takut yang ada dalam hatinya.
Sorot matanya yang menatap tajam dengan kegigihan hati, bibirnya yang telah membeku, nafas yang terengah engah, dengan tangannya yang kecil terus menggenggam obat dan makanan itu, seakan hal itu sangatlah berharga baginya.
Semua yang ada di dunia dibandingkan dengannya tidak ada yang setara. Harta, kekayaan, dan kejayaan tanpanya hanyalah hidup yang kosong.
Terus menerus menahan rasa sakit yang membuat dirinya sesak. Elea terus mengusap air mata yang keluar.
"Andai aku lebih besar kaki akan lebih kuat dan panjang, aku akan berlari dengan cepat sehingga akan cepat sampai dirumah" berbicara di dalam hati.
Aaaa, bruk!!
Elea tersandung batu dan jatuh, namun ia tetap memeluk dengan erat obat dan makanan di tangannya. Lutut dan tangan telah terluka, darah itu mengalir di tubuhnya karena aliran hujan. Sangat pedih. Namun ia tersenyum. Hingga Elea sampai di depan pintu rumah.
"Syukurlah Obat dan makanan ini baik baik saja," mata sembab yang berkaca kaca, tersenyum dengan lebar dengan hati yang pasrah, sambil menghadap langit, membiarkan hujan membasahi wajahnya.
"Ibu... Aku datang, syukurlah aku masih sempat," ujar Elea, sembari memegang hatinya yang terasa sesak karena menahan tangis.
Bergegas ia mengelap tangan dengan kain, pergi ke dapur untuk mengambil air.
Kemudian berdiri dengan menatap sedih wajah ibunya. Segera ia memberikan obat yang telah didapatkan untuk ibunya.
"Ibu minumlah! sekarang aku akan bisa melihat wajah ibu lagi," tersenyum dengan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
"Ibu apa kau tau aku sangat rindu ibu."
"Senyuman ibu yang manis."
"Masakan ibu yang enak."
"Belaian tangan dan suara ibu yang lembut, aku juga rindu saat ibu marah."
"Saat marah ibu akan mencubit pipiku" Elea berharap ibunya segera bangun.
Menitikkan air mata sambil memegang pipi ibunya dengan kedua tangannya.
Sambil Mengingat kenangan bersama ibunya. Merebahkan kepalan tangannya dengan pipi yang menyentuh kedua tangan ibunya.
Memejamkan mata melepas lelah sambil menunggu ibunya untuk kembali siuman. Menahan air mata, dengan tubuh dan hati yang lelah, semua beban ini terlalu berat untuknya.
"Hahh.. Ibu, ibu, ibu..."
"Jangan tinggalkan aku..." kedua tangannya mencoba meraih ibunya namun tak dapat menggapainya.
Elea panik, gelisah, pasrah, suasana dingin mencekam, harapan, rasa sakit semua rasa bercampur aduk.
Melihat ke sebelah ibunya ternyata masih di sampingnya.
"Ibu... Jangan ke mana mana, jangan tinggalkan Elea, tetap selalu bersama Elea ya!" ujarnya sembari memeluk tangan ibunya.
"Bagaimana aku akan hidup lagi jika ibu.." sambil mengusap air mata dengan tangan kecilnya.
Tiba tiba saat itu, keadaan ibunya bertambah parah, tidak tahu apa yang terjadi seakan energi kehidupan ibunya terhisap.
Sekejap rambutnya memutih, wajah memucat, kuku menjadi semakin membiru.
"Tidak.. tidak.. ibu.." meraba raba tubuh ibunya yang sekejap berubah.
Elea panik tidak tahu harus berbuat apa, gelisah, gemetar Elea bergegas pergi untuk meminta bantuan.
Tapi saat beberapa warga mendatangi, beberapa orang bicara jika ibunya sudah tiada. Hal itu yang membuat Elea semakin terpuruk dan menangis sekeras mungkin. Petir hujan deras, tak banyak yang menolong sehingga Elea berteriak seolah menantang langit yang menyala.
"Kau tidak adil padaku! kenapa harus aku, aku tidak takut pada sinarmu. Tapi tolong kembalikan nyawa ibuku… !" teriak Elea.
Jleger!!
Petir itu membawa duka bagi Elea, tidak di bumi atau kehidupan lainnya, Elea ditakdirkan hanya sesaat hidup bersama pria bernama Bram, luka Bram sebagai teman ia terisak kenapa takdir tak menyatukan mereka lebih lama meski di kehidupan lain, orang yang mati tidak akan mengenali kekasihnya di bumi, dan Bram seolah bagai saksi untuk membuat Elea percaya dirinya pernah bersatu, dengan permulaan.
'El, bahkan ketika system memberikan kehidupan kedua, kita tetap berduka.' batin Bram melihatnya.
__ADS_1
Tbc.