
Hari yang setelah bekerja, ia segera merapihkan tasnya, dan berlalu pulang dengan jalan kaki. Entah kenapa, langkahnya berat seolah ada yang mengintai dan mengikutinya. Terkadang bulu kuduk Hari setelah pergi dari kediaman rumahnya, selalu merasa tidak tenang. Meski kali ini mereka tinggal dengan Mang Jaya, yang rumahnya sedikit perkampungan.
Di sudut lain, Kristal dan Oliver merasa tak yakin, ketika surat datang dari langit. Memerintahkan seorang pria, yang tertuju pada Hari untuk menjalankan misi system lanjutan, yang merusak pusat system mereka tinggali. Kali ini pertarungannya bukan lagi mirip seperti Bram, yang bisa adu otot melawan para genk kejahatan. Apalagi para genk yang merusak bisnis pertanian yang mereka geluti dari nol.
Oliver Kristalion, dan Kristal si gunung emas pun, selalu berubah wajah menyamar. Demi melihat Hari, apakah sudah siap mendapatkan misi. Apalagi anak itu masih dalam kesedihan mendalam akan ibunya yang pergi.
'Kasian sekali, ibunya dulu jahat oleh Bram. Tapi kini setelah bertaubat, Auuuch! malangnya. Semoga saja Hari semakin dewasa.' gumam Kristal, entah berbicara pada siapa.
Karena Oliver sudah hilang begitu saja, utusan langit dan utusan gunung bisa bersatu demi mengintai keseharian, Hari Hartanto menjadi lebih baik.
***
Sementara Di Berbeda Tempat.
Hari ini, Bram dan Elea sedang bersiap mengunjungi rumah sakit. Akan tetapi bualan perbincangan mereka diliputi kenangan sang mama mertua, kala Elea melihat suaminya menatap bingkai seorang wanita dan anak kecil, yang ia tahu itu adalah Nyonya Dayana dan Bram kecil dahulu.
Sebelum mereka berangkat menuju mobil, ia masih menunggu papa Reksa yang sedang bersiap. Tentunya meresmikan satu tahun rumah sakit milik Bram Hartanto.
"Sepertinya mamamu wanita beruntung, karena mendapatkan suami yang menyayangi seperti papamu," kata Elea sambil menghela napas panjang.
Psikiater yang dia temui juga mengatakan, jika pasangan suami istri itu, tidak semuanya memiliki hubungan yang kondisinya seperti mama dan papanya.
"Bukan hanya mama, papa juga merupakan pria paling beruntung karena mendapatkan wanita seperti mamaku!" timpal Bram, dengan nada bangga.
"Apakah mama kamu hebat?" tanya Elea, ingin tahu lebih jauh tentang wanita yang telah melahirkan Bram.
__ADS_1
"Tentu saja! Dia sangat cantik, baik ...pokoknya dia tidak ubahnya seperti ..."
"Seperti malaikat!" sela Reksa, tanpa sadar memotong kata-kata Bram.
"Hei?! Papa! Itu kata-kata yang harusnya aku ucapkan! Mengapa kamu mencurinya dariku?" protes Bram kepada Reksa.
Reksa Hartanto terdiam. Dia benar-benar kelepasan omongan, ketika putranya ini mulai membahas soal Dayana, di depan hidungnya.
Kesedihan mendalam akan kehilangan Inggrid, yang bagaimanapun sudah takdir, tidak seharusnya ia menyalahkan Hari. Tapi Reksa berfikir, sikap kejamnya itu proses agar putranya bisa berpijak sukses untuk masa depannya. Bentuk dukungan Reksa, yang tak ingin menyerahkan harta Armanto, bapak kandung Hari.
Elea tertawa geli mendengar protes Bram.
"Sepertinya mama kamu memang benar-benar sangat hebat hingga, papa kamu bisa berpikiran sama seperti kamu ketika ingin menyanjung mamamu!" kata Elea sambil tersenyum lebar menatap kekasihnya.
"Bram ..?" sendu Elea, merasa tidak percaya pada apa yang dikatakan suaminya itu.
"Itu benar! Kamu bisa tanya langsung ke orangnya!" kata Bram, sambil mengedipkan sebelah matanya dan menunjuk Reksa, yang ada di belakang mereka. Sedang menuang minum di dapur.
Reksa memutar bola matanya kesal. Haruskah anaknya ini berbicara secara blak-blakan di depan Elea, kalau dia adalah pengagum mamanya? dan pria yang tidak tahu diri.
"Apakah yang Bram katakan itu benar pah?" tanya Elea, lebih seperti menggoda Bram.
Elea masih ingin kesalahpahaman kedua pria itu kembali baik, dan Elea berencana membujuk Hari pulang. Serta tuan Reksa memaafkan kesalahan Hari yang kembali brutal, menjadi genk motor dibanding perusahaan, tentunya khawatirnya takut Hari salah jalan seperti dulu, menghamburkan uang dan menyakiti diri.
Apalagi sejak malam itu, Saat pulang melihat balapan Liar. Tiba tiba saja inggrid, sesak dan meminta Elea suatu saat nanti mempersatukan kesalahpahaman dan meluruskan keinginan Putranya Hari, bisa sukses dengan keahliannya. Membuat Reksa percaya jika putranya sama, punya keahlian yang tidak dimiliki tiap orang. Inggrid selama ini berlaku tidak baik, karena ingin membuat putranya disanjung tanpa dibandingkan. Ingatan Elea saat itu, masih memandang Bram dan papa mertuanya berdebat.
__ADS_1
"Yah dia benar!" kata Reksa, jujur.
"Kelihatannya mamamu adalah wanita yang lemah lembut, hingga disukai banyak orang," kata Elea, mencoba mengorek keterangan lebih banyak lagi soal calon mama mertuanya yang kata kekasih hatinya dan papa mertuanya seperti peri itu.
"Dia memang lemah lembut kepada orang di sekelilingnya, tapi dia juga kuat ketika dibutuhkan," jawab Reksa penuh rasa bangga.
"Dia bisa memukul jatuh sepuluh pria besar sepertiku dengan tangan kosong!" Kata Reksa, kembali mengingat bagaimana awal pertama kali dia bertemu dengan Dayana.
Hingga tragedi kecelakaan membuatnya sesak, di barengi dengan adiknya saat itu. Hingga saat ini Reksa, mengecam kesalahannya sebagai suami yang tak bisa menjaga istrinya dengan baik.
Elea membelalakan matanya tidak percaya pada apa yang didengarnya saat ini.
Memukul sepuluh pria berbadan besar seperti papa mertua, dan kecelakaan puluhan tahun lalu ? Astaga! Betapa kuatnya mama Bram! Andai mamanya sekuat itu apakah mungkin ada seseorang yang merencanakan mereka celaka.
"Kita sudah sampai!" kata Bram, membuyarkan obrolan ketika mereka bertiga telah sampai di halaman parkir rumah sakit. Yang saat itu mereka berbicara sudah masuk kedalam mobil, melalui perjalanan.
Kali ini mereka ke rumah sakit dari apartemen Bram, dengan berjalan kaki. Kebetulan apartemen Bram, tidak terlalu jauh letaknya dari rumah sakit.
Jika berangkat kerja sedikit lebih pagi, Bram memilih berjalan kaki. Dengan begitu, Bram berpikir bahwa setidaknya dia mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Yakni, berolah raga dan menghirup udara pagi yang sejuk.
Sampailah mereka pada rumah sakit, yang saat itu Bram membelinya dari Mr Taylor. Elea istrinya menjadi kepala rumah sakit, sementara kembalinya dirinya kembali memegang Gold Miror di bidang pertanian timun emas dan bongkahan emas.
Sementara tuan Reksa, ia mencari pemandangan dimana Hari pernah di rawat di rumah sakit milik Bram. Tapi bukan kemauannya untuk menjenguk, melainkan tes hasil Hari, yang membenarkan ia adalah anak adiknya. Ia begitu kecewa, setelah apa yang dilakukan dahulu membuat semua lama lama terungkap, meski begitu ia selalu bercerita jika cintanya pada mama Bram tidaklah pudar, meski ada Inggrid dan Hari. Semua begitu cepat bagai takdir yang Reksa jalani tidaklah mudah, sebagai pria berkuasa dan disegani.
TBC.
__ADS_1