Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KONTESTAN RUMIT


__ADS_3

Hari pun berganti cepat dilalui, Bram yang sibuk keluar kota. Dan membangun sebuah banyak usaha, menyita waktunya semakin lelah, namun rasa lelah itu tak sebanding ketika betemu Damar, buah hatinya itu penyemangat dirinya.


Hingga Esok harinya, Bram menuju kantor BI production, Hal itu membuat mata Bram kaget jika nama Jingga adalah nama kontestan dalam perekrutan yang betalenta.


"Apa ini?"


"Nona Jingga, dia lolos Tuan. Maaf, saya pikir anda telah melihat video awal kontes hingga akhir. Tapi saat ini hanya dia yang berbakat, akan tetapi sebuah video nona Jingga yang diyakini bisa membuat reputasi buruk."


Bram pun diam, lalu ia meminta Jingga masuk ke ruangannya.


"Panggilkan Jingga, bagaimanapun profesional bukan." cetus Bram.


"Baik Tuan."


Tak lama Jingga masuk dan duduk, tanpa basa basi Bram pun bertanya ke inti permasalahannya.


"Kemarin kau ikutan pesta di klub mana?"


Bram tahu, berita itu tidak benar karena itulah Bram langsung bertanya serius tapi santai.


"Itu di --"


"Rainbow BR?"


Jingga mengangguk pelan. Tebakan itu benar dan Bram mengumbar senyum smirk terlihat sempurna di wajahnya.


"Itu klub untuk orang sepertiku, 'pemuja rainbow', Jingga, apa kau sengaja mencariku?"


Bram dengan jarinya yang menunjuk angka dua digerakkan seakan tanda kutip tadi, bicara.


"Jadi klub itu--"


Anggukan tegas Bram terlihat, sebelum Jingga menyelesaikan kalimatnya.


"Aduh gawat!" wajah Jingga jadi pucat pasi.


Jingga tak sama sekali memikirkan latar belakang klub. Dia hanya memilih klub yang terdekat dari lokasi tempat tinggalnya saja. Jingga tak tahu kalau ada kesalahpahaman begini. Dirinya hanya ingin hang out, itu saja tak lebih, bisa bisanya Bram mengira seperti itu.


Lalu, sekarang apa yang harus dilakukannya?


"Bram tolong, ambilkan handphoneku! Aku harus menelepon manager-ku sekarang juga!"

__ADS_1


"Kau menyuruh aku ambilkan!"


Klek


'Aduh gawat nih! Pasti kejadian ini akan mempengaruhi keadaan karier dan hidupku. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan? Aku gak seperti itu. Apa ada yang menjebakku? Orang yang memberikanku obat tadi malamkah yang memanfaatkan kelalaianku? mungkin sengaja, agar aku tidak lolos audisi.' benak Jingga.


Di saat Bram sudah berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar mengambil tas milik Jingga, informasi yang diterima wanita itu masih membuatnya kalut. Peristiwa yang malam itu cepat sekali tersebar luas karena Jingga memang sedang naik daun setelah lolos kontes.


Berita apapun tentang dirinya pasti laku keras! Ini pasti akan menjadi momok tersendiri dan mengerikan bagi Jingga yang sedang meniti karier di internasional.


"Tasmu disana Jingga! Aku ingin kau perbaiki semuanya, masalah bisnisku jangan sampai tercoreng hanya karena satu nama J I N G G A. Kau mengerti!" cetus Bram.


"Ba- baiklah. Dasar pria kejam, apakah semestinya kau dendam padaku."


“Bisa kau keluar dulu sebentar? Dan tolong tutup pintunya lagi!" ketus Bram, yang tak suka sebenarnya jika ia kembali dekat dengan wanita manapun, baik itu masa lalunya yang kritis bagi Bram.


"Profesinal." lirih Bram, memutar kursinya.


***


DI LAIN TEMPAT.


Tidak ada kata terima kasih yang diucapkan oleh Jingga. Dia sedang buru-buru dan sekarang dia ingin bicara dengan orang penting di ujung telepon, dan berusaha untuk mencari solusi bagi masalahnya. Tapi Jingga tidak mau ada Bram yang mendengar pembicaraannya. Untung saja Bram mengerti.


Klek


Via : Kau tahu aku sudah hampir berangkat ke Pluto untuk mencari keberadaanmu.


(Agak sedikit lebay orang di line telepon Jingga bicara. Tapi memang betul dia dari tadi gusar dan tidak pernah berhenti mencoba menelepon artisnya.)


Jingga : Maafkan aku, Via. Duh, penat kepalaku nih.


Via : Kau pikir penat itu hanya untukmu sendiri, nona Jingga? Kau pikir kami semua di sini tidak ada yang penat dengan ulahmu di sana? Aku sudah bilang padamu jangan pergi loh!


(Sentakan yang di dapat Jingga bukan jawaban yang menenangkan hati)


Jingga : Aku juga tidak menyangka seperti ini. Ya ampun gimana aku harus menyelesaikannya? Apa konfrensi pers cukup? Aku harus mengatakan pada mereka kalau tuduhannya semua salah. Menyimpang? Hyaks!


Via : Seharusnya kau berpikir sebelum kau berangkat ke Boracay, Jing! Pikir matang-matang! Apa kau tidak pernah belajar dari setiap orang yang mengatakan kalau penyesalan itu datangnya terakhir, hmm? bahkan aku lelah mengejar Bram, karena aku tahu kisahmu dengannya sebelumnya, tapi aku juga tidak tahu Bram ada pertemuan disana.


Jingga : Aku tidak butuh ceramahmu sekarang, Via!

__ADS_1


( Jingga butuh solusi, bukan menelepon untuk disalahkan manajernya ini menambah cenat-cenut kepalanya.)


Jingga : Jangan memperkeruh suasana lah!


Via : Memperkeruh katamu? Aku sudah memberikan solusi kemarin untuk kau tinggal. Tapi kau tidak mau mendengarkanku dan lebih memilih melakukan semua semaumu. Sekarang lihat bagaimana kau membuat masalah dengan kariermu! apakah Bram tidak akan semakin membencimu.


( Jingga tak menjawab. Dia memang diperingatkan manajernya kemarin. Tapi Jingga tak menurut.)


Via : Jingga, berita itu sudah masuk ke media dan sedang apa sih kau ada di tempat itu semalam? Rainbow Club? Kenapa kau tidak bisa mencari tempat yang lainnya? Kau tak baca namanya emang? production BI di kalangan negara, banyak usaha milik Bram, bahkan aku ingin sekali menjadi nyonya Bram jika kau mau tahu.


Jingga : Via, aku tidak memikirkan sejauh itu, aku tetap ingin memiliki Bram, jangan mengacau.


Via : Kau baca namanya gak?


Jingga : Baca, tapi aku sudah menyamar dan ga kepikiran ke sana. Pokoknya rame aku ikut. Kan aku mau party, cari yang rame.


Via : Ga kepikiran katamu? Ya ampun Jing, namanya aja itu Rainbow BR!


(Manajer Jingga makin gemas. Tapi memang dia tahu sih, kalau Jingga ceroboh dan bukan orang yang berpikir berulang-ulang dulu baru bertindak. Ini yang lebih mengesalkan hatinya)


Jingga : Via, aku hanya berusaha untuk menghilangkan semua penatku, yang penting aku have fun aja tadi malam. Minum, aku bisa dance, bisa ngilangin semua yang membebani otakku! Lokasinya beberapa blok dari akomodasiku, tapi bodohnya aku bertemu Bram orang yang aku harapkan, dan aku serasa memurahkan harga diriku Huhuhu.


Via : Hanya karena alasan dekat?


Jingga : Ya dan ramai. Kau tahu kan beban yang harus aku tangung sekarang? Itu menyita pikiranku. Mana bisa aku pikirkan yang lainnya? padahal Jika Bram mau berbelas sedikit, aku ingin menceritakan soal papa angkatku Tjandra yang ingin menjatuhkannya.


( Jingga kalut, begitupun Via yang memijat pangkal hidungnya sambil dia memejamkan mata sebelum bicara)


Via : Dan sekarang masalah itu bertambah berat Jingga! Kemarin keluargamu hanya menyuruhmu pulang dan mereka ingin kau menemui kakekmu yang sudah lama tak kau temui. Dan karena berita ini, mereka menghubungiku lagi.


Jingga : Mau apa?


Via : Ayahmu sudah mengatur acara pertunangan dan pernikahanmu, katanya. Dia marah besar! begitu kau ada dilayar Televisi dan berita kamu di club tersebar.


Jingga : Ah gila! Gak bisa, aku ga mau dan gak setuju!


(Jingga memekik dan meninggikan suaranya)


Kemarin Jingga memang pergi untuk menghindari keinginan keluarganya. Dia sengaja tak ingin pulang karena yakin akan dijodohkan. Jingga masih ingin berkarya dan menjalankan hidupnya yang sekarang. Tapi keluarganya tidak bisa menerima itu.


Keluarga Jingga termasuk keluarga terpandang. Ayahnya seorang pebisnis besar yang sukses di United States dan ibunya juga keturunan keluarga berpendidikan dari Indonesia. Ayahnya kurang suka dengan pekerjaan Jingga yang sering kontes, sebagai artis sebetulnya. Menjadi model ini adalah momok tersendiri baginya.

__ADS_1


Lagi pula ayah Jingga membutuhkan pewaris yang bisa menjalankan bisnis keluarga. Namun Jingga tidak tertarik dalam bisnis keluarga. Padahal dia satu-satunya harapan Tjandra, melainkan Jingga tahu niat ayahnya itu, untuk membuat Bram bangkrut perlahan.


TBC.


__ADS_2