Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 BERHARAP KEAJAIBAN


__ADS_3

Dalam ruangan bayi, si mungil diberi kehangatan incubator, terlihat kecil jari jemari yang indah, yang menatap penuh bahagia. Damar menatap dikaca ruangan bayi.


"Sayang, bertahanlah hanya kamu yang papa punya. Jika kamu dapat berbicara pada tuhan dan melihat mama, panggilah mama agar kembali, kita bersama berjuang menata hidup dengan damai, papa akan bawa kamu dan mama ke tempat aman." ucap Damar menatap bayi dalam jendela luar.


Bram masih sedih dan sedikit lemas menyaksikan semua hal terburuk, dia sudah pernah ada di posisi sulit, direndahkan menjadi jutawan dalam sekejap, akan tetapi pasangan hidup yang ia cintai tak bertahan lama, meski banyak pengganti tapi Bram enggan.


"Damar, sudahlah, tuhan punya rencana indah. Kau harus tetap kuat, dan selalu jaga lindungi bayi mu. Setelah ini berikan adzan dan nama untuk bayimu!"


"Iya Dady, tapi Damar tak sanggup jika Siren pergi secepat ini."


Dalam kehidupan, ada kalanya cerah dan juga bersinar. Jika terang pasti ada gelap, jika sedih pastinya ada senang. Begitupun suka ada duka, itulah kehidupan.


Siren membuka mata dengan sinar yang terang, terlihat cahaya memantul dan semakin terang. Sehingga ia duduk dan mulai berdiri. Bahkan menyusuri jalan tepi jalan yang panjang dan harum.


Aku dimana, cahaya itu?!


Apa itu jalan pulang yang sesungguhnya, sudah lama aku berjalan mengapa aku belum sampai di titik untuk kembali. Aku sedang berada dimana Tuhan.


Di ruang operasi dokter memandu.


"Sus, berikan pompa dan cairan syump!" terlihat dokter memerintahkan.


Berikan alat pasang jantung DKG.


Terlihat suster memberikan dan meletakkan dua alat itu pada Siren, agar jantung terdeteksi dan monitor kembali dengan perubahan, berikan sekali cepat, semoga ada keajaiban.


"Ayo, Siren bangunlah!"


Terlihat dokter Kara sahabatnya, berada di samping Siren, yang sedang bertugas menyaksikan sahabatnya yang sedang berjuang melawan takdir.


Dengan dipandu dokter Arta, dok spesialis kandungan, ia bisa masuk ke ruang darurat dimana sahabatnya, yang kebetulan bisa bertugas dan masuk berkat tunangannya.

__ADS_1


Namun nahas, terlihat monitor berbunyi dan terlihat garis datar memanjang.


"Maaf, kami sudah melakukan sebaik mungkin."


"Dokter Kara anda bisa menjelaskan langsung oleh keluarga pasein, saya akan mencoba nya kembali namun jika sekali lagi alat pacu jantung tak ada pergerakan, nyonya Siren dinyatakan meninggal." ucap dokter Arta.


"Baik dok, laksanakan lah terimakasih."


Kara memendam rasa tangis, ia hanya bisa menahan bulir air mata, karena sedang bertugas, hanya memerah dan mengembang. Bahkan membuka pintu ruang operasi ketika lampu pun mati, karena telah selesai.


"Kara, bagaimana Siren?" ujar Mikha.


"Bagaimana dengan Siren sayang, apa baik baik saja, dia selamatkan?" sambar Bram, namun Kara hanya diam.


"Aku ga bisa jawab Om, aku minta maaf!" wajah Kara, seolah menandakan jika Siren benar benar telah tiada.


Tak lama, Damar datang melihat Bram duduk menangis lemas.


"Ada apa ini?"


Damar marah kesal, dan tak lama dokter Artha keluar.


"Maaf tuan Damar, kami sudah sebisa mungkin tapi maaf nyonya Siren tak dapat kami tolong." dokter Artha pun pamit, tak lama suster mundar mandir, menyiapkan sesuatu.


"Enggak, ini bohong kan. Kara benar kan, jika Siren masih hidup, baru saja Damar tertidur sebentar jika Siren akan pulang .. Dady katakan padaku, benarkan Siren istriku masih hidup?"


Bram memeluk Damar untuk tenang, dan tak lama Damar masuk kedalam ruangan itu.


"Egois, kalian bohong padaku." lirih Damar.


Mikha dan Kara menangis, ia tak menyangka jika Siren akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


"Kara, kita kehilangan sahabat yang amat baik, mengapa dia lebih cepat?" ucap Mikha.


"Mikha. Siren sudah disurga mungkin tuhan lebih menyayanginya."


Entah sesak, sangat Dani, Deni dan pak Tor rekan teman dan karyawan Bram, asisten tuan Damar juga ikut bersedih, yang kala itu semua telah berkumpul, ikut menyayat amat sedih.


Di ruang ugd, Damar menghampiri Siren yang telah tertutup kain putih.


"Sayang, bangunlah jangan secepat ini. Kamu berjanji menungguku pulang, kamu berusaha memberi kejutan, aku telah sabar menunggumu sayang, jangan bercanda kamu membuatku kejutan seperti ini. Putra kita sudah menunggu dia membutuhkan mu. Bangun sayang, bangun .. bangun Siren. Ayo bangun! jika tidak aku akan membencimu dan marah, kamu tidak bisa pergi tanpa pamit seperti ini."


Tak lama, Zie datang masuk keruangan dan menepuk pundak Damar, berusaha menenangkan.


"Siren, aku Zie ayo bangunlah, lihatlah aku telah kembali. Kamu benar jika aku kembali ada orang yang sangat berarti menungguku.


Ya Merli, dia menungguku dengan setia, aku harap kamu sama seperti kamu ucapkan padaku, maka kembali lah. Maafkan kesalahanku, aku berdosa padamu karena mengikhlaskan kamu bersama Damar tak sepenuhnya, kamu selalu anggap kita sahabat saja! tapi kini aku amat ikhlas dan menginginkan kamu bangun, Damar dan anakmu begitu sangat mencintai dan membutuhkanmu."


Damar, menatap Zie meski kesal ia berkata seperti itu. Namun sudah beberapa kali pembicaraan, wajah Siren tetap pucat dan tak ada hasil.


"Maaf, tuan Damar. Apa nyonya Siren akan di makamkan secepatnya, kami akan membersihkan dan mengurusnya." ucap seorang suster sehingga tatapan Damar semakin hancur.


"Tidak, istri saya belum meninggal. Dia pasti masih hidup, tolong lakukan agar ia tetap dirawat sus .. beritahu dokter, cepat! paman saya akan mengirimkan banyak alat medis, dan alat canggih agar membantu istri saya pasti masih bisa hidup. Cepat sus!" ujar Damar bagai pria stress.


Sehingga semua mata merasa takut, Dady Bram pun menghampiri. Terlebih Kara pun syok menatap Damar seperti gangguan jiwa.


Kehilangan memang amat sulit, terlebih jika itu dia adalah orang yang kini kita sayangi. Tapi yakin dibalik duka ada sukacita menanti.


"Dokter Artha, bisakah anda memanggil suster, membawakan bayi Siren?" tanya Kara.


"Dia tidak bisa dokter Kara pasti lebih tahu, saya menolak keras. Itu akan membahayakan bayi mungil itu masih rentan, anda pasti paham. Jika di ruangan itu, pasien sudah menguning dan telah tiada." ujarnya, membuat Kara bingung.


"Saya harus lakukan segera!"

__ADS_1


"Dokter Kara, anda jangan gila!" teriak sesama dokter mencegah Kara, melakukan hal konyol.


TBC.


__ADS_2