Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMBALIK MALUNYA


__ADS_3

Tling!


[ Hadiri pesta jamuan! Undangan dari pak Hartawan. ] pesan system.


Tling!! Tling!!


[ Hadiri perintah, untuk menemui pekerjaanya. Dan buat siapapun yang kamu temui melihatnya.] pesan kembali system.


Tling!


[ Setelah misi berhasil, maka ambil sepeda motor Ecosse ES1 Spirit untuk digunakan! saldo rekeningmu bertambah 200 juta. Saldo akan berakhir dalam dua puluh empat jam. Segera tarik!! ] kembali pesan system.


Wow! Bahkan motor ini seharga $3,6 juta setara 5,1 miliar ia harus gunakan. Gumam Bram, yang menatap pesan system.


Bram, hampir melupakan. Dan kali ini ia akan membuat wanita bernama Via, serta Tio bungkam tak menghinanya lagi. Bram, pun mengajak Elea ke butik beberapa jam lamanya.


"Entah apa yang Elea pikirkan kalau tau Aku menjadi sekaya ini sekarang." Bram, membatin dalam hati sambil melihat ke arah punggung Elea yang menonjol mulus.


Amuz Gourment! ( Sebuah Restoran Ala Paris )


Hingga sampailah Bram, memperlihatkan undangan pada pelayan vip berkelas. Tak lama Tio sadar, jika papanya mengundang Bram. Ia akan semakin dendam untuk membuly si miskin karyawan resto, dimana dia bekerja pada resto milik papanya.


"Bram, yakin kita akan duduk dan hadir?" bisik Elea.

__ADS_1


"Heuuumph! tenanglah." ujar Bram, memberi ketenangan.


"Teman-teman mari berkumpul dan kita makan bersama di acara liar malam ini! Setelah papaku pergi." ujar Tio berdiri, dan Via ikut senyum berpegangan menemani, senyum kala melihat pasangan miskin tiba.


Terlihat juga, seorang gadis berparas cantik berdiri dan berkata sambil berseri-seri, yakni pelayan resto ala paris dengan tampilan liar negeri tetangga.


Bram pun melihat ke arah gadis yang memakai atasan rajut garis-garis lengan pendek dan menampakan punggungnya. Gadis itu juga mengenakan setelan celana jeans ketat yang memperlihatkan bentuk lekukan tubuhnya yang menggoda. Semakin melihat kebawah, tampak sepasang tungkai indah nan ramping yang memakai sepatu kanvas. Penampilannya dari atas sampai bawah tampak begitu cantik, muda, dan energik. Tetap saja, bagi Bram hanya Elea yang cantik hati dan parasnya.


"Oke, akhirnya bisa makan di luar! Terimakasih hadirnya untuk kalian semua." ujar Tio.


"Kalau memang ketua kelas yang mengajak, kami pasti ikut." ujar seseorang, masih menatap dia siapa pasangan couple berwarna navy.


Satu per satu bekas lulusan oxford pun mulai menyahuti ajakan tersebut.


Tio segera menghampiri Bram, merangkul lehernya dan berkata,


"Tio, untuk apa kamu mengajak si miskin itu? Dia sama sekali tidak punya uang untuk ikut." bisik Via.


Saat ini, seorang gadis mengenakan kaos dalam berwarna putih dan mengenakan jaket levi's dengan kancing yang terbuka pun berkata pada Tio dengan sombong, yakni Via.


Bram pun mengangkat kepalanya memandang ke arah sang gadis. Gadis itu Via, sahabat toxic. Finansial keluarganya bagus, parasnya juga lumayan cantik. Via sangat memandang rendah Bram, tidak jarang dia menghina dan merundung Bram dulu, karena ia tak punya banyak teman dan dianggap lulus karena 50% beasiswa.


"Iya, mana mungkin si miskin Bram, punya uang untuk makan bersama kita?" timpal Via.

__ADS_1


"Via, kenapa kalian bicara seperti itu?" Elea tampak tidak senang.


"Memang kenyataan, pemulung ini sama sekali tidak punya uang untuk acara kumpul-kumpul, apalagi pernah jadi antar makanan. Lagi pula, kapan dia pernah ikut acara kelas, reuni atau perjamuan klien. Untuk apa juga bekerja jauh tapi capek tak ada hasilnya ?" jawab Via.


"Kalau memang Bram, tidak punya uang biar aku saja yang membayar bagiannya. Apa perlu kamu menghinanya seperti ini?" kata Elea yang sudah tidak tahan melihat semua penghinaan ini.


"Hehe. Elea? kalau kamu memang begitu kaya, bagaimana kalau membayar bagianku juga?" seru Tio begitu mendengar perkataannya.


Elea menoleh, keraguan melintas di matanya. Meskipun finansial keluarga Bram, lumayan, tetapi masih kalah jauh dibandingkan milik keluarga mamanya sebelum bangkrut. Tapi Bram, saat ini pemilik berbagai perusahaan, yang selalu rendah hati dengan tampilannya, tidak ada yang tahu ia keluarga nomor satu paling terkaya di ibu kota.


"Aku yang akan membayar untuk Bram. Kita semua teman sekelas apa harus seperti ini?" Elea menimpali, dia juga tidak tahan dengan sikap teman-temannya dulu.


Tio tertegun dan tampak ragu sejenak mendengar ucapan Elea, tetapi dia tidak berkata-kata lagi.


"El, tidak perlu kamu yang bayar. Aku punya uang." Bram, berkata dengan datar.


Mendengar perkataan Bram, ekspresi terkejut pun menghiasi wajah yang hadir, di ruangan itu.


"Wah, tumben sekali si pemulung punya uang untuk ikut acara hari ini? Elea, sudah sekian lama kita saling kenal, tapi kamu tidak pernah ikut acara apa pun. Bagaimana kalau hari ini kamu yang traktir kami semua makan?" ujar Tio.


"Jangan bercanda, Tio. Kalau si pemulung ini bisa mentraktir semuanya makan, aku akan langsung makan sujud di depan kalian!" seru seorang Via sambil terkekeh.


"Oke, kalau memang semuanya begitu bersemangat, biar aku saja yang traktir!" Bram menjawab dengan enteng.

__ADS_1


Tawa Tio dan Via membeku seketika begitu mendengar pernyataan Bram. Teman teman di sekelilingnya juga sontak sangat terkejut. Tidak ada seorang dari mereka yang menyangka kalau Bram menyanggupi permintaan Tio. Apalagi ia mengira, dandanan Bram dan Elea hasil pinjam.


Tbc.


__ADS_2