
Membayangkan punya kantor semacam ini saja, tidak berani Damar lakukan. Ini, ibunya, neneknya yang Damar belum pernah lihat sekalipun, dan dady Bram menyiapkan segalanya dengan detail bahkan ruangan khusus untuknya. Yang kala itu Damar ditinggal pergi sejak kecil, ternyata keluarganya sudah mempersiapkan untuk masa depannya sebagai penerus.
Kekayaan yang Damar miliki saat ini, membuat Damar tekanan bingung untuk di apakan?! Uang sebanyak ini, bagiku itu sangat bingung untuk diapakan. Hatinya terasa sunyi, kehilangan orang yang ia sayangi, pertama sang mama, dan kedua Dady nya yang sudah tua, rasanya hampa namun kuat ketika Damar ingat pesan ibunya. Jika apa yang ia miliki ia bagikan lagi pada yang berhak, mungkin Damar bisa meluangkannya secara diam diam tanpa Dady Bram tahu.
Detak jantung Damar sesak, matanya terasa panas. Apa yang sudah dia berikan dan lakukan untuk Dady Bram belum tuntas ia kerjakan membangun citra kekuasaan untuk tidak lagi menjadi orang miskin, karena Bram pernah bercerita dirinya direndahkan, hingga Bram meminta Damar fokus untuk tidak pernah merasakan apa yang dialami Bram. Meski Bram sangat memikirkan kehidupan dan masa depan Damar, Damar hanyalah pemuda berusia 20 tahun yang masih mencari jati diri.
Tidak tidak, Damar tidak boleh membalas dendam pada kakek Tjandra. Akan tetapi Damar, hanya ingin semuanya berjalan semestinya. Mereka yang bersalah mendapat hukumannya. Dan membuat keluarga Hartanto bisa berdamai dengan masa lalu.
Apa yang mereka dapatkan saat ini, lebih dari yang di ambil dari keuntungan usaha milik Bram. Tapi Damar mempunyai rencana sendiri.
"Mama, Damar janji kepada Mama. Damar akan menjalani hidup dengan lebih baik tanpa menanggung dendam, bahkan membuat Dady Bram mau memaafkan masa lalunya yang pahit." lirih Damar.
Setelahnya perasaan Damar jauh lebih ringan dari sebelumnya. Ia kembali fokus pada pria yang baru saja tiba dengan gaya petenteng angkuh, gaya miliader tapi keuangan terbatas.
"Silahkan Tuan."
Di hadapan Damar, sebuah pintu berwarna cokelat kembang dengan ukiran namanya.
Damar Hartanto.
__ADS_1
CEO Damar Art Production, PETINGGI CEO! Bram Hartanto Art Production.
Sudahlah, Damar tidak mampu menanggung rasa haru. Jatuh berlutut dengan kaki yang lemas, bahunya bergetar semakin banyak sekali perusahaan milik keluarga yang harus ia pegang, bisakah Damar pegang semua ini?! benaknya.
"Mama, andai mama masih ada," bisik Damar perih.
"Dady Bram, apakah Damar bisa melewati semua amanah dari Dady dan kenapa kalian melahirkan seorang anak saja! Damar takut dengan memegang jabatan semua ini." Seolah merasakan kesedihan mendalam, Damar menangis dengan kencang.
Alex hanya mengangguk berkali-kali, sambil memberikan tatapan mengancam pada bawahannya. Yang menengok hendak berkerumun pada keributan yang dibuat oleh Damar saat melihat semua aset menjadi tanggung jawab penuh Damar dari Bram. Bahkan Kakek Reksa saat ini sedang koma, entah apakah ia masih diberi kehidupan lagi.
"Mari masuk, Tuan Muda." Alex membukakan pintu untuk Damar, meski dia memahami perasaan atasannya. Tetapi, agak risih juga melihat orang-orang memandang penasaran terhadap mereka.
"Ah ya. Benar," sahut Alex. Sebenarnya dia paham dengan sikap pemilik BI tersebut, tapi ayolah. Seluruh artis di pH tersebut pasti akan menganggapnya drama.
Masuk ke dalam ruangan, dia tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa. Seluruh tenaga dan kekuatannya terkuras habis sejak masuk ke dalam BI, sejak pagi Ke S kontruksi. Dan esok harus ke Pabrik timun emas, dan pt gold corp Miror yang sudah berdiri tahunan itu.
"Tuan muda, kenapa nangis? bukankah pria mendapat seperti ini akan hidup senang?" tanya Alex di sela tangisnya sendiri.
Damar terkekeh melihat tingkah paman Alex, dia jadi sadar jika sudah bersikap seperti anak kecil.
__ADS_1
"Paman tahu, dengan kekayaan jabatan seperti ini membuat Damar takut. Jika semua tidak Damar pegang baik baik, semuanya lenyap. Apa Damar akan hidup normal seperti biasa?"
"Banyak orang jujur, yang bisa menunjukan kamu Damar! papamu dan kakekmu hanya ingin kamu melanjutkan, kekayaan yang berlimpah tanpa keturunan anda sulit. Anda bahkan bisa Menikah lebih dari satu, punya anak banyak hingga salah satu dari mereka masing masing meneruskannya bukan?"
Kenan! kaki tangan Bram dari jauh, yang sejatinya pengelola sekaligus tim kreatif, jelas merasa tersentuh oleh apa yang tengah dilihatnya, jika Damar benar benar anak yang tidak gila harta meski ia dilahirkan dari keluarga terkaya.
Membuang muka karena takut ketahuan berkaca-kaca, tatapannya justru bertemu dengan tatapan Alex yang menoleh tahu keberadaannya. Nyatanya meski bersikap seperti patung, mata pria itu juga berkaca-kaca.
Kenan dan Alex jadi ingin mentertawakan apa yang ia lihat. Kenan mendekat dan membuat Damar hormat pada yang lebih tua, ia tahu kedatangan kaki tangan papanya datang.
Mereka bertiga duduk berdiskusi dengan tenang, sambil memperhatikan Damar yang sedang melihat berkas.
"Di sini pelan-pelan, mulai dari studio. Ruangan artis, tempat make up, wardrobe. Kita punya sendiri," kata Kenan. Sebenarnya dia ingin membawa Damar itu berkeliling, tapi sepertinya suasana hati Damar sedang tidak memungkinkan.
"Terimakasih untuk kerja keras, kesetiaan, dan dedikasi kalian selama ini pada dady Bram! Damar masih perlu belajar dari kalian, Paman." ungkap Damar dengan pujiannya, tidak bisa menutupi perasaannya.
"Ini sudah jadi tugas kami Damar! sejak kamu kecil, kami tahu dan kami tahu papamu hanya ingin beristirahat tenang. Meminta kamu yang kuat, menjalaninya. Jika semua perusahaan stabil! kamu bisa mengejar cintamu." jelas Kenan, membuat Damar tertawa sedikit lucu.
"Paman pandai menggoda! Damar hanya tersanjung dilahirkan dengan berkecukupan. Tapi bagaimanapun kita sama setara dimata siapapun, semua ini kan hanya titipan." jelas Damar, membuat Alex dan Kenan menelan saliva.
__ADS_1
'Ah! bocah ini benar juga jika bicara.' batin Alex malu.
TBC.