
“Oh ya? Tapi gumaman mu memang untuk diriku bukan?" Hari, sedikit tidak terima dengan bagaimana Bram, memperlakukan nya, tetapi tidak tau harus berbuat apa.
Mobil Bram, dengan segera menepi, ketika di ujung jalan telah nampak sebuah gerbang yang begitu besar. Merupakan sebuah gerbang dari satu-satunya rumah yang berdiri di area perbukitan yang mobil Hari lalui sedari tadi.
Benar, jalan yang sedari tadi Hari, lalui untuk sampai di rumah besar juga mewah tersebut. Di bangun hanya untuk akses jalan untuk rumah tersebut, agar tersambung dengan jalan utama.
Jalan sekitar belasan kilometer, di buat hanya untuk satu buah rumah, tentu luar biasa.
“Rumah? kita telah sampai." Hari, pada Bram tepat setelah mobilnya berhenti.
Menaikan alisnya, Bram dengan segera menatap Hari, “Kau mau ku telepon siapa? Mengatakan bila kau melarangku kembali ke rumah, padahal aku begitu ingin kembali? Apa kau tau sudah berapa lama orang tuaku khususnya mama meminta ku untuk kembali, tetapi tidak pernah ku turuti?"
Bram panjang serta lebar, mengucapkan semua itu pada Hari. Membuat Hari, hanya bisa menelan ludah setelahnya.
“Kau? Sudah dari lama di suruh kembali?" Hari, memastikan apa yang didengarnya.
Melihat Hari, yang tampak begitu gugup serta ragu, Bram dengan segera tersenyum sebelum mengangguk.
“Jadi bila diriku menolak mengantarmu dan kau mengatakan itu, bukankah itu berarti aku memilih kematian?" sambung Hari, dengan matanya menatap kosong gerbang tidak jauh di depannya.
“Tepat." Bram, dengan senyum kecilnya.
Tidak butuh waktu lama setelah ucapan Bram, mobil sport milik Hari, segera Hari tancap gas nya kembali melaju.
“Pilihan tepat." Bram, dengan senyum puas, melihat bila Hari, memutuskan untuk ikut bersamanya.
“Diam." Hari? dingin, sembari satu tangannya mengacak-acak rambutnya. Tampak begitu menyesal, memutuskan meninggalkan pesta lebih awal hanya untuk menemui Bram, mengantarnya bertemu kedua orangtuanya.
__ADS_1
Di mana Bram, malah membawanya ke situasi saat ini, yang menurut Hari, serba salah.
Tetap mengantar hingga dalam berarti dirinya mati, menurunkan Bram, di depan gerbang juga malah lebih mati.
Karena Bram, pasti melakukan sesuai perkataannya, yaitu melaporkan pada orang tuanya. Hal yang sama sekali tidak benar, di mana di situlah pusat kematiannya.
Mobil Hari, dengan segera sampai saat itu, sebelum berhenti tepat di depan gerbang. Mengucapkan beberapa patah kata pada alat komunikasi yang memang berada di sana, gerbang besar tersebut dengan segera terbuka.
Mobil Hari, dengan segera melenggang masuk sebelum gerbang kembali tertutup. Menyusuri jalan yang masih cukup panjang bahkan setelah memasuki gerbang, di mana ada banyak pepohonan serta tumbuhan di sisi jalan halaman rumah tersebut.
Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya mobil Hari sampai, tepat di depan bangunan besar yang begitu sulit di percaya bila di sebut sebagai rumah.
Terlebih bila yang mengatakan hal tersebut merupakan Bram, dengan pakaian seadanya di tambah bagaimana Bram terlihat.
Tentu bila Bram, mengatakan keluarganya tinggal di rumah tersebut, akan ada yang menganggapnya sedang berkhayal atau mungkin telah gila. Tetapi memang itulah adanya.
“Sebentar" Hari? saat itu mencoba memantapkan hatinya.
“Sudah terlambat bahkan bila kau ingin pergi sekalipun, penjaga rumahku pasti tidak akan membukakan gerbangnya untukmu." Bram, mencoba meyakinkan Hari, untuk segera turun saja, serta berhenti terlalu banyak berpikir.
“Aku tau." Hari, mengerti pastilah penjaga rumah kamar Bram, saat itu juga telah melaporkan kehadirannya pada pemilik rumah yang tidak lain merupakan kedua orang tua mereka.
Karena tidak biasanya mereka terlihat dekat, bukan kepalang Hari, amat ketakutan. Kala tugasnya adalah mengelabui sang mama.
“Kalau begitu turun!"
Tanpa bisa membalas serta sepatah katapun terlontar, Hari akhirnya beranjak keluar dari mobilnya.
__ADS_1
“Pilihan bijak." Bram, sebelum berjalan beriringan dengan Hari menuju pintu depan kediaman tersebut.
Di mana jelas Bram tidak ingin dirinya yang terlebih dahulu masuk, sehingga menunggu Hari, untuk masuk bersamanya.
“Bijak untukmu?" Hari? mengangkat alisnya. Malas sebenarnya meladeni kakaknya itu.
“Benar, itu benar." Bram, sebelum memencet bel yang tepat berada di samping pintu.
Dengan segera, pintu kediaman yang begitu besar tersebut terbuka. Di mana seorang wanita paruh baya keluar dari sana, dengan pakaian pelayan.
“Bi? Lama tidak jumpa." Bram, pada wanita paruh baya tersebut, yang dikenalnya sebagai kepala pelayan kediaman tersebut.
“Tuan muda?" Wanita paruh baya tersebut, nampak terkejut tidak menyangka akan kedatangan Bram.
“Apa mama sama papa ada di rumah?" Bram bertanya saat itu terkait sudah sampaikah kedua orang tuanya. Seraya masuk bersama Hari di sampingnya.
“Belum tuan muda, tuan dan nyonya belum kembali." Kepala pelayan, sebelum menanyakan adakah yang ingin Bram, atau Hari, inginkan entah makanan atau minuman di mana segera Bram tolak hal tersebut, memilih dengan segera pergi menuju kamarnya.
Hari sendiri segera bernafas lega mendengar terkait kedua orang tuanya yang belum kembali, memutuskan pergi mengekor Bram, saja saat itu dirinya, tidak tau harus melakukan apa lagi di kediaman tersebut.
Tak lama ketukan, bagai suara sepatu yang baru saja tiba bergeming di lantai. Tepat dibelakang mereka.
Tling!
[ pesan misterius ] pesan di aplikasi Bram, saat ini. Bram abaikan tapi ia amat butuh uang.
Tbc.
__ADS_1