
Bram saat itu berada di sebuah kapal, ia berdiri sedang menerima panggilan dari Damar. Sementara melihat Kenan, dan Jingga seperti sedang bertengkar.
"Tuan, saya minta maaf! Ayah saya sakit. Saya harus segera pulang."
Bram melirik dan mengeryit, lalu ia menghubungi seseorang, Yakni teman dokternya untuk segera datang! ke alamat Kenan, karena posisinya sedikit jauh dari ibu kota.
"Pulanglah Ken!"
Bram mau tidak mau harus handle betemu Tjandra. Entah kenapa ia juga menghubungi Hari, dan papa Reksa untuk berlibur di newyork. Mungkin setelah membantu Jingga, ia akan pergi menemui Damar sekalian berlibur. Hal itu juga membuat Jingga senang, karena hal utama Bram yang jadi pacar pura puranya.
Beberapa Jam Kemudian, diam dan Hening.
"Jangan sedih, pijitanku enak loh?"
"Jingga .."
"Ehehehe, maaf, canda, lagian itu aja ungkapan rasa Terima kasih aku!" Jingga bicara dengan kedua tangannya memegang bagian di antara leher dan gunungnya sendiri.
"Ga perlu, aku cuma ngantuk!"
'Dikasih hati minta jantung!' seru hati Bram, menjawab sebal. Tadi Jingga tidak seperti ini! tapi sekarang malah jadi banyak tingkah, mengganggunya dan bercanda terus! ini merepotkan untuk Bram setelah Kenan pulang.
"Jangan ganggu ya!"
"Enggak!" senyum centil Jingga kembali terlihat dengan di bibirnya! maklum saja jarak usia mereka berbeda jauh, jadi Jingga memang seperti anak kecil bagi Bram, memang sikapnya juga ya seperti itu.
"Awas ampe ganggu!" ancam Bram, yang ingin sendiri.
"Udah sana tidur gih! Tapi nanti aku ingin banyak bicara denganmu, hmm ... mungkin di penerbangan selanjutnya ya?"
"Tentang apa?" Bram menengok dan mencoba mencari tahu, tentu dengan kecurigaannya. Biasalah Bram tidak yakin dengan Jingga.
"Tentang aku, kamu dan cintah!"
"Haaaah, aku mo turun!"
"Aku cuma canda aja kok! Lagian kita udah terbang nih! udah take off! kalau mau turun sekarang, ga bisa ganteeengkuuuh!"
"Jingga awas tangannya ah! ngapain sih! geli tau ga dengernya!"
"Hihihi, abis aku gemes sih, kau marah-marah terus, hehe!"
"Nanti di Manila Aku nggak jadi ikut ke new York!" tegas Bram protes.
__ADS_1
Tapi!
"Tu kan, tuh! nggak bisa diajak canda!" sindiran Jingga dengan senyum di bibirnya.
"Maleslah!"
"Sabar Bram, aku nggak bahas masalah kita! tapi aku mau cerita tentang semua soalan ayahku, Tjandra dan semua rahasianya tau!”
"Yakin?" mata Bram masih menyelidik.
'Sungguh wanita ini membuat aku kehilangan kesabaran! lagi ngapain juga dia manja-manja dan ngerayu aku? udah tahu aku nggak punya feeling sama cewek! harusnya tadi aku suruh dia jalan aja ya! nggak perlu terlalu peduli!'
Seru hati Bram, mulai menuduh kalau Jingga memang ada rasa padanya! tapi ya dasar Bram, mana ampuh di goda begitu oleh seorang wanita.
"Aku janji suwer nggak bahas macam-macam! cuma ayahku, supaya kau tau kalo ayahku tu--"
"Udah ga usah di bahas! sssst, aku dah ngerti! aku mo tidur dulu!"
"Gih!"
Di situ Bram paham, dia tak bertanya lagi sudah memilih untuk memejamkan matanya membiarkan Jingga melakukan apapun yang dia inginkan.
Bram belum tidur tapi dia sudah memikirkan masa lalunya, beberapa tahun silam saat cintanya masih hangat untuknya. Pedih terasa, luka itu masih menganga meski sudah ditinggalkan lama. Sakit yang tak berdarah untuk Bram ketika ditinggal pergi oleh Elea.
"Fuuuh!" dan saat ini pun Jingga harus menghempaskan napas pelan sambil memakai kacamatanya dan membuang wajahnya ke jendela.
‘Untung saja aku tadi bisa mengelak dan aku tidak ketahuan kalau kata-kataku tadi itu sebenarnya, memang dari dalam hatiku! hihi, keren ga aktingku?’
Sejujurnya melihat sikap Bram siapa sih wanita yang tidak tergoda? Begitupun Jingga, dia tidak pernah mengalami hal semanis itu dari seorang pria, hingga bayangan tentang kebersamaannya dulu bersama Bram kembali hangat dalam hatinya.
'Bahkan ayahku sendiri pun tidak pernah begitu! membuatkan aku bubur, dan memperhatikanku seperti dia, padahal katanya ayahku menyayangiku.’
Ini sih yang diingat oleh Jingga. Dan dirinya masih mengingat kenangan masa kecilnya, keluarganya memang keluarganya sangat sibuk. Ayahnya selalu saja pergi untuk berbisnis dan hanya kembali untuk beberapa waktu tapi sudah kelelahan. Inilah yang membuat Jingga kurang kasih sayang dari ayahnya dan semua perlakuan Bram yang judes tapi perhatian tadi membuat dirinya merasa sangat manis.
"Ah tapi sudahlah! Apa juga yang sedang aku pikirkan, aku tidak boleh mengganggunya dan merusak rencana! Kalau nanti dia tidak mau menolongku bagaimana?"
Sekarang yang terpenting bukan perasaan tapi bagaimana Jingga meyakinkan ayahnya. Karena itulah, dia tidak lagi mengganggu Bram. Saat mereka turun dari pesawat dan Bram check in ulang melapor untuk pindah pesawat sampai mereka naik pesawat selanjutnya. Jingga memilih mengikuti rencana Bram. Pria itu seperti tadi, dia menggendong Jingga di punggungnya.
'Ini manusia Bram! tadi dia mengancamku kalau dia akan pergi dan meninggalkan aku dan tidak ikut ke new York, tapi lihatlah sekarang dia care banget! ya ampun, aku masih di antar duh! seneng!' bisik Jingga tapi tentu saja alasan Bram sekarang berbeda. Saat ini Bram buru-buru kalau dia harus menunggu Jingga berjalan pelan-pelan ini akan memperlambat dan mereka bisa ketinggalan pesawat.
"Haaah!"
"Kenapa kau menarik napas seperti itu, Bram? udah tenang sekarang?"
__ADS_1
Sebuah sapaan yang membuat Bram melirik sinis
"Puas kau hari ini sudah membuatku lelah?”
"Hehehe!" justru Jingga malah terkekeh mendengar protes tersebut. Ya Bram memang kelelahan. Bagaimana tidak? berjalan sambil menahan sikap manja Jingga dan dia juga harus berpikir bagaimana cara paling praktis supaya mereka tak telat.
"Ketawa lagi!"
"Maaf deh, Bram! maaf, ya! apa mo aku pijit? Sini aku pijat punggungmu.”
"Eeeh, jangan pegang-pegang!" Bram mengelak dan menjauh dari Jingga.
"Kau tidak suka padaku kan? Kalau kau tidak suka padaku aku pegang-pegang juga harusnya tidak masalah, sih Bram.”
"Hei anak kecil jaga bicaramu!"
"Mana ada aku anak kecil aku umurnya sudah dua puluh empat tahun!”
"Tapi bagiku kau tetap anak kecil!" Bram melirik Jingga, "Aku sekarang sudah tiga puluh tiga tahun. Nah usia kita beda berapa tahun!"
"Wow kau sudah tua juga! tapi kenapa wajahmu tidak terlihat tua?”
“Kenapa? suka padaku?”
"Kalau aku suka memang kau mau menjadi pacarku?"
Kata-kata yang membuat Bram memutar bola matanya
"Memang sekarang kita tidak pacaran?"
"Sungguhan maksudku, mau yah, Bram? yah?”
"Pffh! Dalam mimpi pun tidak akan pernah!"
"Ih!"
Jingga pun mengerucutkan bibirnya. "Coba jelasin ke aku, apa sih menariknya cowok buat kamu, Bram!"
"Kau pikir aku suka sesama jenis? ingat Jingga, di hatiku masih ada Elea. Aku membantumu karena kau masih saudaranya, tapi bukan berarti aku ingin memilikimu!" ketus Bram.
Deuugh! Jingga terdiam.
TBC.
__ADS_1