Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KISAH CINTA BRAM


__ADS_3

"Mungkin kau harus mencari kekasih pura-pura yang lainnya! Tidak aku, bukan aku, Jingga!"


Bram memang ingin damai. Berpura-pura menjadi kekasih seorang wanita dan gadis itu model, ini ga masuk kamus Bram, setia dirinya yang ditinggal pergi Elea, masih membuat Bram betah sendiri.


Dia menolak! Bram ingin melangkahkan kakinya pergi, dengan bangga setelah menjelaskannya.


Tapi!


"Bram, jangan pergi! Tunggu dulu sebentar dengarkan aku! "


Jingga langsung mengeluarkan kaki jenjangnya dari dalam selimut, dia loncat dari tempat tidurnya, turun tanpa memperhatikan yang diinjaknya ... Sehingga.


"Aaaw!"


'Ya ampun, wanita ini! Bener-bener ceroboh!' pikir Bram, menahan dirinya untuk tak memaki.


'Itulah kenapa aku tidak suka dengan wanita! Mereka beda dengan Elea, dia selalu saja rapi, tidak berantakan macam ini dan lihat gadis ini, ish! Bodohnya nggak ketulungan dan aku harus menjadi kekasih pura-puranya? Halah!’ bisik Bram. Dia meringis dalam hatinya sendiri membayangkan semua buruk tentang Jingga yang Bram merasa dia wanita licik seperti Via, hanya harta saja. Bram sudah memikirkan nightmare hubungannya apabila berlanjut dengan gadis yang bertindak tanpa berpikir dulu di hadapannya.


Tapi!


'Kakinya berdarah, kalau ga ditolongin kesian!' Bram punya hati. Karena itulah meski dia malas, Bram tetap menghampiri Jingga.


"Duduk, biar aku lihat kakimu!" ucap Bram yang sudah ada di samping Jingga, yang memang sedang kesakitan memegang kakinya yang terkena pecahan mangkuk saat Bram menutup pintu, mau tidak mau Bram membuka pintunya lagi.


"Ini yang dibilang senjata makan tuan! Kau yang memegang sampai mangkuknya pecah, aku harus ganti rugi dan sekarang kakimu sendiri yang luka. Kau yang berbuat salah, maka jangan pernah berpikir itu tidak akan pernah kembali padamu! Semesta tuh adil!"


"Memang aku menyuruh berceramah, Bram?”


Sambil melotot Jingga protes. Jingga duduk di tepi tempat tidur, dongkol melihat Bram bicara sambil mengamati lukanya yang bercucuran darah.


'Karma apa yang terjadi padaku sih? Kenapa aku harus bersama pria macam dia? Menyebalkannya, aku membutuhkannya untuk masalahku!' Jingga sewot sekali melihat bagaimana Bram meresponnya tadi, Jingga rasa Bram akan selalu menutup diri dan hatinya.


"Baiklah, jangan dengarkan yang aku katakan tadi."


Tapi pria itu hanya menjawab sekenanya, tak peduli dengan kemarahan Jingga. Apa yang dikatakan Bram itu benar, tapi Jingga punya hak mau mendengar atau tidak. Bram tak masalah.


“Tunggu di sini! Tadi aku belum sempat membersihkan pecahan mangkuknya karena kau ingin menelepon. Aku ambil kotak P3K dulu," ujar Bram sambil dia berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi, di mana kotak P3K berada.


"Biar aku bersihkan dulu supaya ga infeksi!" ujar Bram lagi sambil tangannya memakai sarung tangan plastik.


"Aaww! Hati-hati dong, sakit banget!"

__ADS_1


Jingga protes saat Bram menggunakan pinset, mengambil beling yang ada di kakinya. Itu menimbulkan rasa nyut-nyutan.


"Lihat ini!" Bram menunjukkan potongan mangkuk di pinsetnya.


"Kalau ini tidak diambil, ini bikin infeksi!" Bram menambahkan sambil menaruh pecahan tadi di tisu.


"Untung saja ukurannya besar-besar jadi tidak ada pecahan halus dalam lukanya."


Bram menambahkan. Luka itu tidak perlu dijahit hanya robek saja. Tapi tidak terlalu besar ataupun dalam robekannya. Bram membersihkannya cepat dengan membuka cairan infus dan mengguyurnya. Bram menggunakan kapas mencegah air infus membeceki lantai, entah kenapa menarik perhatian Jingga.


'Duh, dia bisa sekeren itu membalut lukaku, sangat cekatan dan kenapa dengan diriku jadi bergetar? Hooh! Kau tak boleh menganggap ini romantis Jingga!' Jingga terbuai, ia berusaha menyadarkan dirinya siapa Bram.


"Dari mana kau belajar begini?” tanya Jingga berusaha mengalihkan pikirannya dan wajahnya yang memerah.


"Oh, ini!" Mata Bram melirik Jingga sebentar dan tersenyum


"Di YouTube juga banyak,"


Pria itu bicara sesuai dengan logika saja, tidak ada yang ditambah-tambahkan.


"Aku juga tahu kalau itu mah, Bram."


'Kok ada ya pria kaya gini cuek? isssh!' gemas hati Jingga.


"Kau ini! Aku tidak menyangka kalau dulu aku sempat bekerja sama dengan orang sepertimu! Ya ampun, caramu bersikap, ampun deh. Apakah aku semenyebalkan itu. Kau masih membenciku Bram?"


Jingga kipas-kipas wajahnya, mencoba untuk menenangkan emosinya di saat yang bersamaan.


"Nah, emang dulu aku gimana? Ngomong denganmu juga cuma sepatah dua patah kata, kan!" Bram benar lagi, membuat Jingga membuang wajahnya saat perban sudah digulung menutupi luka Jingga.


'Huh, dia ahli sekali! Memang dia hebat sih, kayak udah terbiasa gini?' jujur Jingga masih terkagum-kagum


Tapi!


"Kita kembali ke pembahasan yang tadi, Bram! Masalah hubungan kita."


Setelah Jingga diobati oleh Bram, dia tidak mengucapkan kata terima kasih untuk lukanya. Jingga nervous dan memilih berusaha fokus pada masalahnya. Jingga langsung ke inti pembicaraan yang ingin dibahasnya.


"Aku sudah bilang padamu tadi, aku tidak ada minat, Jingga."


Memang Bram mengatakan yang sesuai isi hatinya. Lagi pula dia menolong Jingga malam itu tanpa intrik apapun. Bram juga sedang mencari ketenangan di Boracay karena urusan percintaannya yang kandas. Bram tidak mau membuat masalah apapun termasuk yang tadi itu, pura-pura menjadi kekasih Jingga yang otomatis pak Tjandra sedang ia selidiki dari banyak kasus. Bram bukan orang yang suka ribet dengan urusan orang.

__ADS_1


"Tapi please bantuin aku dulu dong, Bram.”


Karena memang sudah tidak ada lagi alasan yang masuk akal untuk membujuk Bram, semua tawaran Jingga itu mental, jadi Bram memakai jurus terakhir, memelas.


"Dengar, Jingga! kemarin juga kau sudah memaksaku! Aku yakin kalau kau bertemu dengan pria lain pasti sama! Ini semua karena kecerobohanmu, itu intinya!" ucap Bram lembut, menyakitkan tapi benar. Bram sudah ingin berdiri, mau menaruh kotak P3K saat Jingga berpikir.


Tapi!


“Bram tunggu dulu sebentar!"


Jingga memaksa. Dia memegang tangan Bram.


"Apalagi sih?”


Bram tak enak hati dengan yang dilakukan Jingga.


"Kalau begitu lihatlah!"


"Melihatmu membuka baju, polosan gini, aku ga ada minat juga! Aku sudah cerita padamu kalau aku berbeda, kan!"


"Nah ini dia alasanku!" seru Jingga. "Karena itu aku minta tolong padamu, Bram, kita mengenal lama bukan? tidak ada yang tahu, aku akan profesional di kantormu. Please bantu aku!"


"Karierku berantakan, Bram! Orang-orang menyangka kalau aku ini memiliki kelainan gara-gara malam itu."


Dan yang lebih parahnya lagi ayahku, Tjandra, dia bukan orang sembarangan dan dia sangat malu dengan gosip ini. Dia memaksaku untuk bertunangan dan menikah dengan orang yang ngobrol aja aku ga pernah. Kalau aku menikah dengannya, ini neraka untukku!" Jingga agak hiperbola dengan matanya sudah bertautan dengan Bram.


"Kau tahu bagaimana nanti nasib karierku?" lanjut Jingga lagi. Aku tidak mau menjadi pewaris bisnis! Aku hanya ingin menjalankan hidupku sendiri, berkarir, menemukan cintaku nanti, bukan dipaksa hidup dengan orang yang tak aku cintai! Aku punya impian, Bram, meski aku yakin pria yang aku harapkan masih dendam padaku, semua karena kesalahpahaman yang tak bisa aku jujur!"


Tentu saja Bram mengerutkan dahinya.


"Haaah! Kau cari gara-gara." Bram merespon setelah mendengar ucapan Jingga yang memelas, masih sambil menggenggam tangan Bram, masih polosan dan seakan sudah menanggalkan urat malunya.


"Kau bilang kau punya kekasih dan kau menemui kekasihmu di Boracay?"


"Kamuflase. Sorry! ingatan itu aku tertuju sama kamu Bram, kau yang menolongku." senyum Jingga.


"Pergilah, sebelum aku panggil asistenku Kenan, untuk menarikmu keluar paksa dari tempatku!" cetus Bram, acuh meninggalkan Jingga.


Bram tak mau sampai anaknya diantar Kenan, menemukan gadis airport di apartementnya. Meski Jingga amat mirip dengan Elea, tentu saja rasa cintanya pada Elea tak bisa tergantikan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2