Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
BERHARAP RESTU


__ADS_3

"Coba jelaskan! apa tidak ada teman wanita lain selain dia, Damar?" tegas Bram, duduk menatap tajam pada putranya.


Damar pun melihatnya, lalu kembali menatap di foto dirinya dan Siren. "Dady, dia baik. Sejak kecil aku sudah berteman dengannya?"


"Tapi history keluarganya! Dady tidak ingin kamu terus bersamanya, apalagi berteman. Dady tidak akan merestuinya, ingat kata kata Dady Damar!" teriak Bram, melempar sebuah foto di meja kerja Damar.


Damar pun terdiam! bagaimana pun ia tidak ingin durhaka pada Dady Bram, tapi ia juga tidak ingin tinggalkan Siren, di saat masalah itu adalah kakek Siren dan Dady nya.


Damar hari itu meminta penyusup, kala Daru akan membawa keluarganya ke rumah Siren. Hal itu agar Damar bisa, menggagalkan rencana pertunangan Siren. Maka ia melihat sebuah alat pendengar, dan meminta Siren menaruh kamera tersembunyi di acara itu.


DI BERBEDA TEMPAT :


Ting! Suara bel.


"Daru, kamu sudah tiba?" Siren menghampiri, ketika Daru telah di samping papa tersayang.


"Siren keluargaku akan tiba nanti. Aku sudah meminta restu pada papamu, apa kamu bahagia kita akan menikah dalam waktu dekat?"


Siren terdiam mengeluarkan bulir kesedihan mendalam, namun ia tersenyum di depan papa.


"Daru benar jahat, ia tau kelemahan ku adalah papa. Kelemahan ku tak bisa membuat papa menangis, hanya aku seorang, hanya aku anak tunggal dan sepeninggal mama, hanya aku yang menjaga, menjaga senyuman, hati yang berbunga untuk papa!"


"Bagaimana sayangku, kamu


menyukainya?" Siren hanya tersenyum.


Daru memakaikan cincin dijari manis Siren, didepan pria paruh baya. Pelukan hangat terasa antara papa dan Siren, meski hati Siren kebingungan.


Daru pun meminta ijin untuk membawa Siren keluar makan malam bersamanya, dalam mobil terasa perih hati Siren, ia mengingat akan dimana Damar mengatakan, jika cinta yang kita sayang lebih besar pada pasangan, ada hal yang lebih besar yaitu orangtua kita.


"Aku telah menggadaikan kebahagiaanku demi nama baik seorang ayah, pernikahan bisnis. Sulit untuk melupakan seseorang yang telah kita cintai, dan sulit menerima seseorang yang memang bukan pilihan hati kita. Tapi pernikahanku bukan pernikahan bisnis yang aku inginkan bukan?"


Daru membantu bisnis dan financial keluarga Siren, seharusnya aku berontak tetap menjadi model dan bekerja berusaha mengembalikannya bukan menurutinya, andai papa tak lemah jantung.


'Aaakh .. andai foto syur ku dengan Daru meski rekayasa.' batin Siren. Ia yakin jika foto itu menguntungkan untuknya, namun jika tersebar bukan namaku yang terseret. Tapi papa bisa Anfal akan sakitnya.


"Apa yang kamu pikirkan Siren?" tanya Daru! Siren hanya melamun dan menahan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


"Daru, bisakah kamu jelaskan siapa Kalina Oktari? kamu telah ingin menikah, mengapa kamu melakukan ini padaku dan memberi harapan pada papaku?"


"Kalina wanita perfilman yang ganas itu, soal itu jangan perlu khawatir, aku melakukan ini karena ikhlas dan menjagamu demi papamu dan papaku." Siren terkejut akan perkataan Daru.


"Coba kamu katakan sekali lagi Daru!"


Daru pun menjelaskan kembali, "Kamu ingin tau aku Siren sayang. Dengarkan sekali ini saja!"


Mata Siren pun membulat menatap serius akan tatapan Daru, berharap ikhlasnya Daru menolong keluarganya! ia tidak perlu menikahinya.


"Jangan pernah mempertanyakan kembali, ikuti saja alur ceritanya. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku meski nanti aku akan menikah resmi dengan siapapun, tapi tidak tau siapa! Eeum.. bukankah pria bisa menikah lebih dari satu." Daru berbicara dengan mudah memperagakan jarinya.


Sial!!


Siren begitu malas jalan dengan Daru, ia merasa dirinya adalah benda dimata seorang Daru. Aku dikekang bukanlah untuk dicintai tapi dirawat, menyesal sekali aku menatapnya.


"Lalu apa kau berencana untuk menikahi Kalina! Daru?" Siren, menanyakan kembali.


Namun hanya balasan tertawa saja, Siren menjelaskan namun Daru diam dan berusaha marah, ia mengambil ponsel dan mengirimkannya sebuah pesan pada seseorang! agar memberi kesan kejutan pada wanita disampingnya untuk diam.


Siren panik karena takut Daru melakukan sesuatu yang tak di inginkan, namun Daru membalas! jika ia hanya ingin bertemu dengannya dan meluruskan. Meski perasaan tak singkron dengan tatapan wajah Daru.


Siren pun berusaha mengabaikannya, karena takut dan tak berbicara kembali.


"Terserah padamu Daru, aku sulit jika berhadapan denganmu. Apakah pernikahan berakhir bahagia jika menghadapi mu saja seperti ini." lirih batin Siren, ia menangis tak bisa menahan kesedihan dan Daru berhenti tiba- tiba menatap Siren.


"Lihat mata ku sekarang !"


Daru mencengkram bahu Siren, wajahnya mendekat akan memandang intens, sehingga Siren pun tegang dan takut.


"Apa yang ingin kau lakukan padaku, hentikan Daru!" tatapan itu begitu tajam, wajahnya begitu dekat dan memberikan sesuatu bisikan ancaman di telinganya, lalu hempaskan bahu Siren sedikit keras.


Braagh.


"Aaauuuw."


Daru turun dari mobil, ia memang sisi pria yang tak romantis pada pasangannya, entah itu perasaan atau memang aku belum mengenalnya lebih dalam. Tatapan nya penuh arti meski ia mengejutkanku, tapi aku yakin ada sisi lain kenapa, Daru seperti ini. Ia seperti pria gila yang memaksa. Terlihat ia tegas dan pemarah tapi saat sebentar ia berbicara halus, ia merasakan adanya sisi pria baik ramah.

__ADS_1


"Turunlah! Siren pergi lah lebih dulu, ke meja yang telah aku reservasi, aku akan menyusul!"


Daru, pun berlalu sehingga meninggalkan Siren sendiri, sementara Daru seolah ingin bertemu seseorang.


Setengah jam berlalu Siren kesal, pelayan pun memberikan minuman dan makanan yang telah tiba, ia masih menunggu dengan setia. Hingga ia menghabiskan minuman dan bergegas ke toilet, dua puluh menit berlalu ia pun masih tak melihat Daru ke meja yang telah dipesannya. Bahkan Siren tak mau memesan makanan, sebelum dia datang!


Siren terpaksa menyusul mencari Daru dan meminta pelayan untuk menunggu. Ketika ia mencari ke dalam parkir tadi, ia menoleh ke arah manapun tak terlihat, menghubungi pun tak ada balasan. Hingga ia menatap sisi mobil Daru tengah bergoyang. Siren pun menghampiri dengan pelan perlahan. Saat itu ia menatap bulat, ketika menempelkan wajah ke kaca hitam mobil Daru dan memanggilnya.


Terlihat sorot mata Daru terkejut ketika wajah Siren yang berusaha mengintip. Mata Siren membulat terkejut, Ia menatap Daru sedang melakukan hal tak senonoh dengan seorang wanita pirang, ia pun histeris berteriak dan berusaha menutupnya dengan kedua tangannya agar tak bersuara dan tak mengundang satpam yang bertugas, namun nahas Daru sudah melihatnya dari dalam.


"Sial wanita liar itu tak menunggu!" lirih Daru, yang melepas terganggu.


Siren segera pergi dan berlalu dari tempat itu. Ia menangis sejadi- jadinya dan berlalu, mengangkat gaun dan mencopot sepatu hak tingginya. Berlari dengan kencang dan menyusuri jalan untuk menemukan taksi.


"Sial .. kemana Siren pergi?"


Saat itu Daru turun dari mobil dan disusul seorang wanita.


"Kenapa Daru, apa kita lanjut ke apartement ku tak jauh dari sini?" Daru pun membalas tak masalah, kita akan bersenang-senang malam ini, pastikan service mu memuaskan! kau pergi dulu, aku akan menyusul!"


"Baiklah tak masalah, tapi pastikan posisi kontrak film ku menjadi peran utama kan Daru?" ucap Tiara.


Daru pun menunjukan pola dengan bibir O, dan bernada oke menyetujuinya.


Tepi pantai ujung, Siren berdiri menangis dengan gaun panjang yang terlihat jelas di kaki Siren basah akan ombak, satu tangan yang memegang tas kecil. Ia berselingkup tangan dan sepasang sepatu ia letakkan di pasir tepi samping.


Tak lama saat ia menangis, wajahnya terkejut akan seseorang!


'Aaak.' teriak Siren, membuatnya ditutup oleh tangan besar.


"Bagaimana bisa, kamu ada di sini?" ucap Siren kaget.


"Aku meminta Alex, diam diam keluar tanpa Dady Bram tahu, aku cuma mau yakinkan kamu untuk menungguku. Aku sedang berusaha membuat keluarga kita berdamai Siren!" lirihnya membuat Siren terharu perkataan Damar Bramantyo.


Tapi ada yang aneh, kala Damar datang terlihat di sakunya ada benda aneh.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2