Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 SIKAP TIDAK JELAS


__ADS_3

Kembali surat kabar, membuat Damar membuat kopi. Dimana berkas map paket dari Dady Bram, membuat Damar duduk di dapur bartender.


Siren membuka pintu, dimana suara bel terdengar lagi.


"Sayang, mungkin itu kurir. Berkas pabrik timun emas pt gold corp Miror yang di alihkan paman Hari, sedikit bermasalah. Sepertinya suamimu ini, akan lembur malam ini."


"Sabar hubby! Biar aku bantu buka ya." di anggukan Damar.


Cekrek


Siren membuka dan berteriak kencang.


"Ah... hubby tolong!"


Teriakan Siren lagi lagi, membuyarkan dan bergetar dahsyat, sehingga menumpahkan segelas kopi yang sudah selesai ia buat kembali. Damar pun segera berlalu, meninggalkan kopi yang sudah kacau dan tak indah. Damar menghampiri istrinya dengan cepat.


"Ada apa sayang ?" ucap Damar.


"Kecoa, di depan pintu itu lagi, tolong singkirkan, Di situ dekat pintu!"


Siren masih berteriak histeris, Damar pun menyingkirkannya dengan tendangan maut, sandal hop tebal.


Sssuh.


"Sudah enggak ada, ayo masuk. Aku pikir ada apa, mengagetkan saja. Hah .. aku lupa istriku phobia hewan kecil bermata hitam pekat itu." gerutu Damar, ia mengambil benda hitam, yang tersambung pada seluruh asistennya.


"Kalian bersihkan halaman, sekali lagi ada kecoa dan semut. Maka pecat sebagai saksinya!" perintah Damar, dari suara benda hitam tersebut memberi peringatan.


Siren mengekor dibelakang sang suami, sementara tiba melewati meja dapur, terkesima melihat satu gelas berantakan.


"Hubby, kamu buat kopi vietnam mau aku bantu?"


Terlihat Damar masih diam, merapihkan secangkir kopi yang tumpah dan mengulangnya. Namun tak henti disana, Siren ikut mendampingi dan berbisik.


"Hubby, sini gelasnya aku buatkan, melihatmu membuat secangkir kopi dengan keadaan buruk, aku tidak tega kasihan." bisik Siren.


"Kasihan kenapa. Ga perlu di buatkan kalau kasihan, aku juga ahli. Tadi hanya kecelakaan saja, jika tak mendengar suara teriakan seseorang." ucap Damar nada sebal, dan mengambil gelas yang berada ditangan istrinya.


"Aku salah lagi ya?"


Sebal kali, aku seharian melihat wajah mu yang suram. Aku yang hamil kenapa dia yang sering merajuk. Sabar sabar bumil, ini bukan awal dan akhir segalanya. Batin Siren, ia pun mendekat pada suaminya dan berbisik ke telinga suaminya, dan membalik kan badan suaminya, lalu berkata.


"Hubby, silahkan saja jika tak mau aku buatkan kopi vietnam. Dengan keadaan burukmu sepertinya akan jadi ladang emas, mungkin setelah kamu buat dan minum mulutmu penuh busa. Lalu .. kreeeek." Siren senyum, menunjuk garis lurus ke lehernya dan berkata End.


"Eiy, Apa maksudnya ?" Damar membalas dan berteriak ketika istrinya menaiki anak tangga.


"Kenapa, lanjutkanlah ada banyak pria yang menanti ketika bibirmu berbusa tuan Damar." teriak Siren kesal.


Damar juga bingung, rasanya dirinya tak bisa menjamah istrinya, karena saran dokter. Entah kenapa berimbas mood tidak baik, apalagi segudang tumpukan kerjaan yang harus ia koreksi perintah Dady Bram. Mengusel ngusel rambut, adalah andalan Damar kala itu.

__ADS_1


Dari ujung sudut, terlihat Bram sedang memegang secangkir teh hangat, menatap dua sejoli jadi teringat kisah mudanya.


"Dasar, wanita tak berperasaan. Sedang merajuk. Bukan dimanja malah ditinggal begitu saja." gerutu Damar yang merapihkan gelas.


"Ada apa sih Damar, dari tadi Dady lihat kamu kaya anak kucing kecebur dikolam, aura mu gelap?" sambar Bram turun dari arah tangga.


"Gpp, Dad."


"Lho pelit amat, di tanya jawabnya sepintas kaya ojek online dapet orderan langsung pergi."


"Aduh, Dady jangan buat mood Damar bertambah deh. Satu wanita di rumah ini kenapa bikin mood Damar menurun, terlebih Dady kepo." Damar pun pergi dan berlalu.


"Oh. Ga jadi, buat kopi vietnam nya Dam?" tanya Bram, dengan intrik menggoda putranya itu.


"Enggak jadi, ga berselera. Kalau aku buat sekarang nanti mulutku berbusa, ada yang kegirangan." ucap Damar dan berteriak.


"Hahaha, dasar putraku yang aneh. Kenapa pula sikapnya aneh. Apa karena tidak dapat jatah." lirih Bram, ke arah depan teras membawa secangkir teh.


Damar membuka pintu kamar.


Terlihat jelas, istrinya mengenakan hotpants merah pendek dan kaos putih ketat membulat besar, amat terlihat. Masih dengan memutar meja kerja dan sebuah buku serta laptopnya.


Damar melihat dari jendela dengan serius dan menyilangkan kedua tangannya lalu bersandar pada dinding.


"Lho, hubby kamu disitu, ada yang perlu aku bantu, kamu lapar, perlu camilan atau buah?" tanya Siren.


"Heuuh, istriku ini seperti ilang ingatan. Baru tadi dia sumpahin suaminya, sekarang dia manis menanyakan mau makan apa, butuh apa." Damar masih gerutu gajelas, memajukan gaya bicara sang istri.


"Aku gak tanya." ketus Damar.


Cih. Siren menatap suaminya telah menghilang dan terdengar suara air kencang sekali dari kamar mandi. Letak kamar mandi bersebelahan di ruang kerja dalam kamarnya.


"Ya tuhan, dosa apa aku. Ampuni aku jika aku banyak khilaf salah. Hubby ada apa sih sebenarnya denganmu?"


Siren pun melanjutkan mengetik pekerjaan nya yang tiba selesai, hingga puluhan menit berlalu.


"Sayang, sayang tolong ambilkan handuk!" ucap Damar berteriak.


Siren, yang mendengar teriakan suaminya langsung berlalu, mengambilkan handuk dan menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Hubby ini handuknya, kamu lupa lagi setiap mandi. Ada lagi yang kamu butuhkan?"


Gleuk.


Damar membuka pintu kamar mandi dan menatap istrinya yang semakin seksi.


"Sepertinya Ada sayang." ucap Damar.


"Apa hubby?"

__ADS_1


Siren melirik sudut lain, sepertinya tak tertinggal piyama tidur pun, sudah ia siapkan.


"Kamu sayang." ucap Damar lembut.


"Aku, maksudnya." Siren tersenyum karena pikirannya traveling.


"Ya kamu nyonya Siren, tolong jangan berdiri terlalu dekat dengan kaitan hordeng. Kamu ga sadar benang bajumu menempel, di kaitan hordeng. Apa kamu sedang jadi bendera malam ini?" ucap Damar dan berlalu, melewati istrinya.


Woah. Siren tersenyum kesal dan merapihkan kaitan benang baju, lalu ia segera berganti piyama tidur, dengan terusan tanpa lengan dan pendek di atas lutut berwarna ungu muda, ia pun segera kembali ke ruang meja laptopnya, mengabaikan sikap suaminya.


Beberapa saat Damar, yang hendak mengajak istrinya menonton tv bersantai, dibuat kesal kembali melihat istrinya memakai baju berwarna ungu muda. Damar bahkan menatap sinis di depan meja kerjanya, di sebelah kamar tidur.


"lihatlah, berganti pakaian dengan warna ungu. Apa kau benar ingin menjadi janda?" gerutu Damar.


"Hubby, kenapa? mau teh atau jahe aku buatkan sebentar lagi aku selesai, aku sedang menunggu email." ucap Siren dengan manis.


"Sayang, apa kamu benar benar ingin aku end. Kamu berharap mendapat pengganti ku ya?" ucap Damar dengan menunjuk jari ke bajunya.


"Apa, maksud kamu?"


"Ungu, identik dengan janda."


Siren pun, berlalu mengganti pakaian dengan piyama hitam, kesal rasanya menghadapi suaminya setelah pulang dari rumah sakit. 90º sikap suaminya sangat aneh. Soal warna baju saja salah, padahal ini kan piyama baju tidur sama seperti biasanya.


Siren pun kembali keruang kerja, dan merapihkan laptopnya. Masih mendapati Damar dengan wajah mengkrilit alis penuh tanya dan menghampirinya.


"Kenapa kamu ga suka lagi hubby, aku salah kostum lagi. Kenapa pelit sekali ada apa dengan suaramu, apa sedang di jual atau sedang di tanam untuk investasi." ucap Siren yang merapihkan gantungan baju, dan berlalu menarik selimut.


"Kamu kenapa, pakai piyama hitam pendek. Apa kamu sedang berduka. Aku tahu kamu sekarang menginginkan suasana duka kan."


ucap Damar disebelahnya yang menarik selimut juga dan berusaha tidur memejamkan mata.


Siren mendengus kesal dan mencoba tak mendengar, lalu memejamkan matanya untuk tidur.


"Lihatlah suami sopanku ini. Membuat otakku berkembang biak. Ada apa dengannya?" lirih Siren.


Masih mendapati Damar bergerutu, membuat Siren kembali bangun dan menuju lemari.


Gleuk.


Siren menelan ludah, menarik nafas panjang kali lebar, dan centimeter berusaha sabar dan sabar.


"Hubby, apa yang kamu pikirkan kenapa dari tadi aku selalu salah, dari bicara, sikap, dan soal baju kenapa lagi. Baiklah aku akan menggantinya sekarang, memakai lingerie maroon puas." sebalnya, membuat Damar tegang kala Siren sudah membuka baju di sudut dengan polosan.


"Kenapa kamu pakai lingerie menyala?"


Bug.


Siren mendekat, membuat Damar syok kala istrinya sudah ada di atasnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2