Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENOLONG YANG MENYAKITI


__ADS_3

Masalah pun selesai, Bram kembali mealokasi tanah miliknya. Benar setelah enam bulan, hasil daun nya mirip tangkai emas yang berkilau. Tentunya dengan bantuan system, tanah itu tertutup tapi masih terlihat lubang udara untuk perkebunan. Di lapisi besi sehingga tidak seorang pun yang tidak di izinkan bisa masuk. Ada kemungkinan ada kekuatan system yang membuat sengatan listrik, ketika pekerja atau pencuri yang ingin memetiknya, tentunya sudah terpasang alat dan karena bantuan system status keamanan kebun timun emasnya terkendali.


Tlith!


[ Bram, Mr Taylor dan Saga telah membubuhi tanda tangan. Tanah itu, sudah bukan lagi sengketa. Selamat Bram, akhirnya semua misi delivery mu akan berjalan dengan semestinya. ] pesan Kristal.


Tlith!


"Eh, kenapa ponselku jadi loading ...?!" lirihnya.


10 % ...


40 % ...


60 % ...


[ Jalankan misi selanjutnya menolong orang yang menyakitimu Bram! Agar kelak, kamu bisa lancar menjalani semua bisnismu tanpa banyak masalah! ] system berkata dari ponsel Bram.


Bram terdiam, ia kembali memutar apakah itu Hari, dan mama inggrid yang saat ini kesulitan membayar hutang. Apalagi saat ini usaha Bar Light mereka telah hancur. Bram pun dengan sadar lansung menghubungi Hari, dimana dia saat ini.

__ADS_1


"Hari, kau dimana?"


"Kak. Maaf aku belum mencarikan villa yang kamu inginkan, aku berada di rumah sakit Alzeera."


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan datang." ujar Bram, ia segera memencet tombol central lock pada mobilnya, segera melaju ke rumah sakit.


~ Rumah Sakit ~


Bram menghubungi Hari, entah kenapa ia tak melihat adiknya itu. Sudah berkeliling dua kali, hingga akhirnya ia menatap sebuah bank dan terlihat postur Hari, jika itu benar adiknya yang saat ini disana.


'Bank, sebelah rumah sakit. Untuk apa dia disini?' batin Bram, lalu menghampiri.


[“Pokoknya, Anda sudah harus mentransfer biaya administrasi perawatan ibu anda paling lambat besok pukul sepuluh pagi. Itu tawaran terakhir dari kami. Tidak bisa ditawar lagi!”]


Hari, melonggarkan dasi yang dia kenakan, karena tenggorokannya seolah tercekik. Biaya yang harus segera dibayarkannya itu sangatlah besar, hampir 500 juta rupiah sebagai deposit di awal. Dan pihak rumah sakit mengancam akan menghentikan perawatan dan bahkan mengeluarkan ibunya dengan paksa dari ICU jika dia tidak membayar biaya administrasi tersebut.


Itu artinya, ibunya akan berada dalam bahaya. Hari, pun sampai stres memikirkannya.


“Tolonglah, Bu. Beri saya kesempatan untuk mengumpulkan uangnya dulu. Saya pasti--”

__ADS_1


“Kami sudah memberi Anda kesempatan sejak tiga minggu yang lalu! Sudah saya bilang, ini tawaran terakhir kami! Kalau memang anda tidak memiliki uang, silakan cari rumah sakit lain yang bersedia menampung dan merawat pasien secara cuma-cuma!” potong pihak rumah sakit, ketus sekali.


Hari, terdiam. Apa yang didengarnya itu terasa begitu menyakitkan, seakan-akan ia baru saja ditoreh dengan pisau dapur.


“Besok, paling lambat pukul sepuluh pagi. Kami tunggu,” kata pihak rumah sakit itu kemudian.


Tercengang, untuk beberapa saat Hari, tetap merapatkan ponselnya ke telinganya, meskipun yang didengarnya hanya bunyi. “tuut… tuut… tuut…” Tatapannya kosong karena ia bingung untuk menelpon siapa sebagai bantuan yang mau membantunya.


Setelah menaruh kembali ponselnya di saku celana, Hari, sempat mengacak-acak rambutnya sebentar. Sebenarnya dia sangat ingin berteriak kencang, tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Tidak di saat ini, Hari kembali menata rambutnya hingga kembali rapi. Dia menarik napas dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu melepaskannya perlahan melalui mulut. Sebuah teknik pernapasan yang selalu dia lakukan dan selalu berhasil membuatnya tenang.


Hari bisa saja bicara dengan kakaknya Bram, tapi pertengkaran dan kekacauan ulah ibunya. Ia malu, terlebih ia tahu saat ini dirinya dengan Bram, adalah bukan ibu sekandung. Hari juga yakin, kakaknya itu sedang merintis usaha dan masalah lainnya pasti membutuhkan banyak uang, tak ingin menambah beban sang kakak.


Tetapi sekejap kemudian, Hari kembali memikirkan biaya administrasi perawatan ibunya itu, dan mukanya kembali masam. Dari mana dia mendapatkan uang itu?


Di rekening tabungannya saat ini, Hari hanya memiliki uang kurang dari satu juta. Ia menimang, apakah meminjam uang pada keluarga tunangannya itu.


Tbc.


Dua Bab meluncur, jika bukan sistem Entun yang Eror, mungkin Bram akan terus Up lancar jaya. Author Minta Maaf jika kisah Bram tersendat ya, Author udah kirim up tiap pagi, dan malam sebelum esoknya Up.

__ADS_1


__ADS_2